home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

5 Penyebab Kematian yang Paling Umum Terjadi Pada Remaja di Seluruh Dunia

5 Penyebab Kematian yang Paling Umum Terjadi Pada Remaja di Seluruh Dunia

Usia remaja adalah masa-masa yang penuh harapan dan perubahan. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa kejadian kematian tertinggi dialami oleh kelompok usia peralihan ini? Berdasarkan data yang dihimpun oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016, lebih dari 3.000 remaja meninggal dunia setiap hari, dengan total mencapai 1,2 juta kematian remaja per tahun. Kebanyakan dari penyebabnya sebenarnya dapat dicegah.

Penyebab kematian remaja yang paling umum terjadi di seluruh dunia

Lebih jauh, data WHO tahun 2016 menunjukan bahwa ada beberapa penyebab kematian yang paling tinggi terjadi di usia remaja.

1. Kecelakaan

Kecelakaan merupakan penyebab kematian remaja usia 10-19 tahun yang terbesar. Kejadian kecelakaan ini dua kali lipat lebih banyak terjadi pada remaja laki-laki. Jenis kecelakaannya adalah kecelakaan lalu lintas (transportasi).

Misalnya tabrakan kendaraan atau kecelakaan antara kendaraan dengan pejalan kaki. Itulah mengapa pemerintah menetapkan usia minimal untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) adalah 17 tahun.

Orangtua dan masyarakat secara umum punya peran yang sangat penting dalam mencegah kematian remaja karena kecelakaan. Salah satu caranya adalah menunggu sampai anak mendapatkan SIM baru diperbolehkan untuk mengemudikan kendaraan bermotor. Orangtua juga bertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya soal keselamatan lalu lintas.

2. Infeksi saluran pernapasan bagian bawah

Infeksi saluran pernapasan bagian bawah adalah kondisi infeksi yang dialami pada organ sistem pernapasan bagian bawah seperti paru-paru, bronkus, dan trakea. Terdapat berbagai macam infeksi saluran pernapasan bagian bawah pada remaja yakni, bronkitis, pneumonia, laryngotracheitis, dan tracheitis.

Sementara itu, pneumonia lebih sering terjadi pada anak-anak remaja. Salah satu faktor risiko yang dapat melatarbelakangi adalah kebiasaan keluarga memasak di ruangan tertutup menggunakan kompor kayu bakar atau minyak tanah yang mengeluarkan asap polusi pembakaran. WHO mencatat bahwa lebih dari setengah dari total kasus kematian anak dan remaja akibat pneumonia adalah akibat menghirup asap polusi dalam ruangan.

3. Bunuh diri

Remaja yang masih berkembang dan belum begitu mampu mengelola emosinya dengan baik lebih rentan terhadap percobaan bunuh diri dibandingkan orang dewasa.

Tidak mungkin menentukan satu penyebab pasti kenapa seorang remaja memutuskan untuk bunuh diri. Keputusan untuk bunuh diri begitu rumit dan pasti disebabkan oleh banyak hal. Namun, faktor risiko terbesarnya memang adalah depresi yang tidak terobati. Depresi tidak bisa hilang begitu saja. Depresi adalah gangguan jiwa yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan zat kimia, struktur, dan sistem saraf pada otak. Pemicunya pun bisa beragam hal yang ia temui dalam hidupnya, mulai dari trauma masa kecil, kekerasan seksual, hingga bullying.

Remaja yang kecanduan zat-zat tertentu seperti alkohol atau narkoba juga lebih rentan mengalami kematian akibat percobaan bunuh diri.

4. Diare

Diare dapat disebabkan oleh virus, bakteri, infeksi parasit, atau bahkan keracunan. Diare juga sangat berkaitan dengan kondisi sanitasi dan kebersihan lingkungan sekitar sehingga kebersihan menjadi penting dalam pencegahan diare. Minum air mentah, minum produk susu yang tidak diproses melalui pasteurisasi, dan tidak menjaga kebersihan makanan juga meningkatkan risiko diare.

Diare memang kesannya sepele. Namun, bila tidak segera ditangani, diare bisa menyebabkan dehidrasi serius yang akhirnya berujung pada kematian.

5. Tenggelam

Tenggelam merupakan kasus yang dapat dicegah dengan persiapan yang tepat. Pada situasi tenggelam biasanya orang akan mengalami panik, kondisi panik ini akan membuat orang untuk reflek melakukan pernapasan seperti biasa sehingga akhirnya air terhirup masuk ke dalam paru-paru.

Terdapat beberapa penyebab terjadinya kasus tenggelam pada remaja yakni remaja biasanya tidak perhatian terhadap keselamatan sekitar, tidak memiliki kemampuan yang mumpuni untuk bertahan di air, serta pengaruh alkohol atau obat-obatan juga bisa mempengaruhi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Referensi

Indonesian Pedriatric Society. 2013. Kesehatan Remaja di Indonesia. [online] tersedia pada : http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kesehatan-remaja-di-indonesia (Diakses 13/11/22017)

CDC. 2014. Deaths: Leading Causes for 2014. [online] tersedia pada https://www.cdc.gov/nchs/data/nvsr/nvsr65/nvsr65_05.pdf (Diakses 13/11/2017)

Sleet, DA.,Ballesteros, MF.,Borse, NN. 2010. A Review of Unintentional Injuries in Adolescents. Annual Review of Public Health Vol.31:195-212

The Research and Outreach Laboratory Team. 2014. Research Brief : Risk Factors for Adolescent Suicide. Minnesota : University of Minnesota

National Adolescent Health Information Center. 2007. Violence : Adolescents & Young Adults [online] tersedia pada : http://nahic.ucsf.edu/downloads/Violence.pdf (Diakses 13/11/2017)

CDC. 2017. Violence and Homicide Among Youth. [online] tersedia pada : https://www.cdc.gov/healthcommunication/toolstemplates/entertainmented/tips/ViolenceYouth.html (DIakses 13/11/2017)

Pratt, Charlott. 2012. Cardiovascular Health Risk Behaviors Among Children and Adolescents: An Overview. [online] tersedia pada https://www.cdc.gov/nchs/ppt/nchs2012/ss-15_pratt.pdf (Diakses 13/11/2017)

Bloetzer, C., Bovet, P.,Suris, J.,Simeoni, U.,Paradis, G., dan Chiolero, A. 2015. Screening for Cardiovascular Disease RIsk Factors Beginning in Childhood. Public Health Reviews 36:9

Kementrian Kesehatan RI. 2015. Situasi Penyakit Kanker. Jakarta : Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs292/en/

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2647443/

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Tanggal diperbarui 15/11/2017
x