Ibu, Ini Tinggi Badan Balita Usia 2-5 Tahun yang Ideal

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Memantau perkembangan tinggi badan balita yang ideal tidak kalah penting dengan berat badan. Dengan pemantauan ini Anda bisa mengetahui jika sewaktu-waktu pertumbuhan anak sedang melambat. Dengan begitu, Anda sebagai orangtua dapat membantu mengejar pertumbuhannya. 

Jadi, berapa tinggi badan balita usia 1-5 tahun yang sesuai dengan grafik pertumbuhan anak? Berikut penjelasan lengkapnya. 

Perkembangan tinggi badan balita

tinggi anak yang ideal sesuai umur

Memerhatikan tinggi badan si kecil dapat mencegah anak stunting. Ini adalah kondisi pendek karena gagal tumbuh dan asupan gizi yang kurang baik.

Anda sebagai orangtua bisa membantu pertumbuhan anak dengan menyediakan berbagai faktor pendukung seperti:

  • Menyediakan makanan yang bergizi dan sehat untuk anak
  • Memastikan anak mendapat tidur cukup
  • Membiasakan anak berolahraga

Orangtua tidak jarang membandingkan pertumbuhan fisik si kecil dengan anak sebayanya. Namun, hal ini belum tentu bisa menggambarkan apakah anak Anda memiliki tinggi badan balita yang ideal atau tidak.

Walaupun tinggi badan balita Anda hampir sama dengan anak lainnya, tetapi belum tentu memiliki pertumbuhan yang lebih lambat atau lebih cepat. Untuk itu, Anda perlu mengetahui berapa tinggi dan berat badan ideal anak.

Jika Anda membawa balita ke posyandu atau puskesmas, akan dilakukan pengukuran tinggi badan balita selain menimbang berat badannya.

Kemudian, lihatlah perkembangannya pada grafik pertumbuhan anak dengan Kartu Menuju Sehat (KMS). Ini adalah cara terbaik untuk melihat perkembangan tinggi badan balita sesuai dengan usianya atau tidak. 

Setiap kontrol ke dokter anak atau bidan, mereka menggunakan grafik yang sama dengan yang ada di dalam KMS. Keduanya merujuk pada sumber yang sama yaitu WHO, sehingga Anda tidak perlu takut ada perbedaan seputar tinggi badan buah hati.

Mengukur tinggi badan si kecil tidak hanya berhubungan dengan stunting, grafik pertumbuhan juga bisa menilai permulaan pubertas pada anak.

Ini membantu dokter anak menentukan apakah perkembangan awal anak Anda berada dalam tahap normal atau tidak.

Berapa tinggi badan balita usia 2-5 tahun yang ideal?

TB pada anak, berat badan turun

Setiap anak memiliki tinggi berbeda, tergantung pada usianya. Berikut penjelasan seputar tinggi badan balita yang ideal untuk anak usia 2-5 tahun.

Balita 2-3 tahun

Bagaimana penambahan tinggi badan anak 2-3 tahun? Pada perkembangan bayi usia 24 bulan atau 2 tahun, rata-rata tinggi badan si kecil sudah setengah dari tinggi badan orang dewasa. Bahkan untuk ukuran kepala, 90 persennya mendekati lingkar kepala orang dewasa. 

Melansir dari Kids Health, mulai di tahun ketiga kehidupan anak, rata-rata tinggi badan balita bertambah sekitar 5-8 cm. Aktivitas si kecil semakin banyak dan sangat menyukai kegiatan fisik yang berbasis kemampuan motorik.

Bila dilihat dari situs Kementerian Kesehatan, tinggi badan balita 2-3 tahun rata-rata berada di angka 87,7 cm-95,3 cm untuk laki-laki dan 87,1 cm-96,1 cm untuk anak perempuan.

Balita 3-4 tahun

Dilihat dari daftar berat dan tinggi badan anak Kementerian Kesehatan, penambahan tinggi balita 3-4 tahun sekitar 7cm per tahun. Rata-rata, berat badan si kecil berada di angka 96,1 cm-103,3 cm untuk anak laki-laki dan 95,1 cm – 102,7 cm untuk anak perempuan.

Balita 4-5 tahun

Melansir dari Kids Health, pertumbuhan tinggi badan anak usia 4-5 tahun tidak terlalu signifikan, sekitar 8 cm selama satu tahun. Rata-rata, di usia ini tinggi badan balita sekitar 103,3 cm-110 cm untuk laki-laki dan 102,7 cm-109,4 cm untuk perempuan.

Berikut panjang badan anak usia 2-5 tahun sesuai Peraturan Kementerian Kesehatan tahun 2020:

Usia  Anak Perempuan Anak Laki-Laki
2-3 tahun 85,7 cm – 95,1 cm 87,1 cm – 96,1 cm
3-4 tahun 95,1 cm – 102,7 cm 96,1 cm – 103,3 cm
4-5 tahun 102,7 cm – 109,4 cm 103,3 cm – 110 cm

Cara menghitung tinggi badan balita yang ideal

Tidak hanya bayi, menghitung tinggi badan anak usia 2-5 tahun juga sama penting untuk tumbuh kembangnya. Pengukuran panjang badan anak berdasarkan usia (PB/U) adalah indikator untuk mengukur panjang anak berdasarkan usia.

Berdasarkan Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, hasil penilaian panjang badan si kecil berdasarkan PB/U yaitu:

  • Tinggi badan di atas normal: > +3 SD
  • Tinggi badan normal: -2 SD sampai +3 SD
  • Pendek: -3 SD sampai -2 SD
  • Sangat pendek: < -3 SD

Satuan dari pengukuran tinggi badan disebut dengan standar deviasi (SD). Balita dikatakan memiliki panjang badan normal ketika berada di rentang -2 SD sampai +3 SD dalam Standar Antropometri dari Kementerian Kesehatan tahun 2020.

Bila tinggi badan balita usia 2-5 tahun di bawah -2 SD sampai -3 SD, anak bisa dikatakan mengalami stunting. Sementara itu, kalau bayi lebih dari +3 SD, termasuk kategori tinggi badan di atas normal.

Pentingnya memantau pertumbuhan tinggi badan balita

Ketika memantau pertumbuhan anak, seringkali orangtua fokus pada berat badan. Padahal, tinggi badan si kecil juga penting untuk diperhatikan agar sesuai dengan grafik pertumbuhannya. 

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa indikator tinggi badan anak akan menentukan status gizi si kecil apakah termasuk gizi berlebih, gizi baik, kurang, atau sampai gizi buruk.

Indikator tinggi badan balita terhadap usianya atau TB/U bisa menjadi acuan. Dari pengukuran ini, bisa melihat perawatan anak tinggi, normal, pendek, atau sangat pendek.

Untuk memastikan perkembangan dan pertumbuhan balita sesuai dengan grafik, bawalah si kecil ke posyandu atau dokter anak secara teratur. Bila Anda mencurigai ada kelainan dalam pertumbuhannya, segera laporkan ke dokter. 

Faktor yang memengaruhi tinggi badan balita yang ideal

tinggi badan anak

Tinggi badan balita tidak bisa disamakan. Lalu, melihat kondisi tinggi badan yang berbeda-beda, apa faktor yang memengaruhinya? Berikut beberapa hal yang berpengaruh pada tinggi badan balita, dilansir dari Healthy Children:

Faktor keluarga dan genetik

Faktor keluarga dan faktor genetik memengaruhi tinggi badan anak. Ketika tinggi badan anak Anda lebih pendek atau tinggi dibanding teman seusianya, dokter akan menanyakan rekam jejak di keluarga Anda.

Selain itu, kemungkinan dokter juga akan bertanya apakah Anda pernah mengalami hal yang sama seputar tumbuh kembang di waktu kecil.

Anda juga akan ditanya mengenai usia berapa mengalami pubertas karena ini juga berpengaruh pada pertumbuhan tubuh anak.

Bila dilihat dari faktor genetik, anak-anak berkebutuhan khusus seperti down syndrome, noona syndrome, atau turner syndrome cenderung memiliki postur tubuh yang lebih pendek. Sementara itu marfan syndrome menyebabkan anak menjadi lebih tinggi.

Gizi dan nutrisi

Nutrisi dari makanan yang dikonsumsi anak Anda bisa menentukan perkembangan tinggi badan si kecil. Memang anak-anak yang kurus memiliki kecenderungan lebih pendek dibanding anak seusianya, bahkan sampai mengalami stunting.

Meski demikian, anak-anak obesitas atau yang kelebihan berat badan tingginya bisa kurang bahkan sampai stunting. Ini disebabkan oleh pemberian makanan dengan gizi yang kurang baik. 

Hormon

Ketidakseimbangan hormon, seperti kadar tiroid atau hormon pertumbuhan yang rendah, bisa menyebabkan pertumbuhan tinggi badan anak bergerak lebih lambat dibanding anak seusianya.

Efeknya, ada balita yang tubuhnya lebih pendek atau sangat tinggi. Periksakan ke dokter bila tinggi badan anak Anda terlalu pendek atau tinggi karena sangat mungkin ia mengalami masalah hormon pertumbuhan.

Kondisi kesehatan tertentu

Anak-anak yang mengidap beberapa penyakit kronis memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mendapatkan tubuh pendek dibanding anak seusianya. Selain karena kondisi kesehatan, penggunaan obat kortikosteroid kronis bisa memperlambat pertumbuhan anak.

Pertumbuhan yang lambat

Kids Health menyebutkan bahwa pertumbuhan anak yang lebih lambat di usia 6 bulan sampai 2 tahun sebenarnya akan meningkat ketika ia masuk usia pubertas.

Di usia 2-3 tahun, anak-anak yang pertumbuhan tinggi badannya tidak melesat tetap melalui masa kanak-kanak yang normal. Ketika masa pubertas datang, perkembangan tinggi badan anak akan mengejar ketertinggalan teman-temannya terdahulu.

Tidak sedikit anak yang memiliki riwayat keluarga dengan pola pertumbuhan seperti ini. Secara umum, kondisi tersebut tidak perlu mendapatkan perawatan khusus karena masih dalam tahap wajar.

Perlukah melakukan pemeriksaan bila tinggi badan balita kurang ideal?

Healthy Children menjelaskan bahwa pemeriksaan pertumbuhan tinggi badan anak yang terbaik adalah menggunakan grafik pertumbuhan bila perkembangannya normal.

Bila Anda ingin melakukan pemeriksaan lebih lanjut, dokter akan melakukan pengujian tambahan, seperti memeriksa usia tulang anak.

Namun, ini baru bisa dilakukan ketika anak berusia tujuh tahun ke atas. Agar lebih jelas, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter anak untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Cara meningkatkan tinggi badan balita

makan telur satu butir

Mengatasi tinggi badan balita yang kurang tergantung pada masalah yang dialami si kecil. Bila anak Anda kurang tinggi bukan karena penyakit, tidak ada perawatan khusus yang perlu dilakukan. Hanya perlu mengubah kebiasaan anak, seperti:

Mengonsumsi makanan sehat

Makanan sehat tidak hanya baik untuk berat badan, tetapi juga tinggi badan anak. Mengutip dari Healthline, untuk meningkatkan tinggi badan balita, anak perlu dibiasakan mengonsumsi buah segar, sayuran, protein, lemak, dan makanan mengandung susu.

Meski begitu, ada beberapa yang perlu dihindari seperti gula berlebih dan lemak jahat.

Tidur yang cukup

Saat anak tidur, ia tidak hanya sekadar istirahat, tetapi juga mengalami fase penting dalam pertumbuhannya. Melansir dari Healthline, anak usia 1-2 tahun membutuhkan waktu 11-14 jam, sedangkan balita usia 2-5 tahun butuh tidur selama 10-13 tahun.

Anda juga dapat membiasakan anak untuk tidur siang, setidaknya 1-3 jam agar perkembangan si kecil dalam hal pertumbuhan tinggi badan tetap berjalan dengan baik. 

Bergerak aktif

Kalau anak Anda termasuk tipe yang sangat senang bergerak dan tidak bisa diam, Anda bisa mengajaknya berolahraga

Membiasakan anak untuk berolahraga sangat baik untuk kesehatan tulang dan pertumbuhan tinggi badan. Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan agar tinggi badan balita bertambah yaitu berenang, melompat, dan senam.

Sebagai orangtua, penting bagi Anda untuk memantau tinggi badan dan berat badan si kecil. Jika tinggi badan si kecil tidak memenuhi kriteria sesuai usianya, sebaiknya konsultasikan ke dokter. Dokter dapat membantu mencari penyebab serta penanganan yang tepat.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Desember 16, 2019 | Terakhir Diedit: Maret 20, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca