Tinggi Badan Anak Usia 5-18 Tahun yang Ideal dan Sesuai dengan Usia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Pertumbuhan anak yang baik tidak hanya dipantau dari berat badan, tetapi juga dari tinggi badannya. Tinggi badan si kecil akan terus bertambah seiring pertambahan usia dan berat badannya. Untuk anak yang berusia di atas 5 tahun, ada kriteria tersendiri yang menunjukkan apakah tinggi badan anak balita dianggap ideal atau tidak. Berikut penjelasannya.

Tinggi badan anak balita menunjukkan status gizi 

Selama ini, banyak orangtua yang mengira bahwa gizi anak hanya dilihat dari berat badan saja. Padahal, tinggi anak juga dapat menentukan apakah ia memiliki status gizi yang baik atau tidak. Tak banyak yang tahu, kalau pendek adalah salah satu bentuk dari kekurangan gizi pada anak, dalam medis biasanya kondisi ini disebut dengan stunting yang membuat tubuh anak pendek.

Seorang anak yang lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya maka akan mengalami berbagai gangguan pertumbuhan-perkembangan, kemampuan berpikir terhambat, serta rentan terkena berbagai penyakit infeksi. Biasanya, kondisi anak yang pendek ini disebabkan karena asupan gizi selama 1000 hari kehidupannya (2 tahun pertama) tidak terpenuhi dengan baik.

Ketika seorang anak mengalami penyebab tubuh yang pendek, maka tandanya asupan gizi yang ia punya tidak cukup untuk membuat tubuhnya tumbuh normal seperti teman-temannya. Jadi, Anda harus tahu apakah si kecil memiliki tinggi badan yang ideal atau tidak sehingga membuat Anda tahu status gizi dan kesehatannya saat itu.

Berapa tinggi badan anak yang ideal?

Sebenarnya, tidak ada angka yang menjadi patokan dari tinggi badan buah hati Anda. Pasalnya, setiap anak memiliki pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang berbeda-beda.

Tingkat kecepatan pertumbuhan yang terjadi pada setiap anak juga tidak sama. Bisa saja seorang anak tumbuh sangat pesat dan akhirnya memiliki tubuh yang lebih tinggi dari teman-temannya.

Namun, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), ada batasan di mana anak dianggap pendek (stunting) dan memiliki gizi yang buruk. Sesuai dengan ketentuan WHO tahun 2007, seorang anak dikatakan pendek jika tinggi/panjang badan kurang dari:

tinggi badan anak 5-18 tahun

Pemeriksaan tinggi atau panjang badan anak yang akurat bisa dilakukan di pelayanan kesehatan terdekat, seperti Puskesmas dan Posyandu secara rutin.

Jika tinggi atau panjang anak di bawah angka tersebut, maka sebaiknya segera periksakan anak ke dokter untuk diketahui kondisi kesehatannya lebih lanjut. Apalagi, bila si kecil masih di usia balita. hal ini dapat menandakan bahwa ada masalah dengan pertumbuhannya.

Faktor yang memengaruhi tinggi badan anak

tinggi badan anak

Meski tinggi badan buah hati Anda tidak bisa disamakan, tapi ada faktor yang memengaruhi pertumbuhannya. Beberapa faktor tersebut di antaranya, mengutip dari Healthy Children:

Faktor hormonal

Hormon yang tidak seimbang bisa berpengaruh pada tinggi badan anak, baik saat balita atau sudah beranjak remaja. Ketidakseimbangan hormon seperti kadar tiroid atau hormon pertumbuhan yang rendah, menyebabkan pertumbuhan anak lebih lambat. Ini membuat tinggi badan anak bisa lebih tinggi atau lebih rendah bila tidak diobati.

Nutrisi yang kurang baik

Stunting dipengaruhi oleh pemberian nutrisi yang kurang baik, sehingga berat badan yang kurang (underweight) berpengaruh pada pertumbuhan tinggi badan anak. Ini yang membuat nutrisi dari makanan yang disantap oleh anak, menentukan tinggi badan si kecil. 

Tidak hanya anak yang kekurangan berat badan, anak yang kelebihan berat badan pada anak atau overweight, juga bisa mengalami tinggi badan kurang bahkan sampai stunting. Kondisi tersebut disebabkan oleh nutrisi dan gizi yang tidak seimbang dan kurang baik. 

Faktor genetik

Bila anak Anda lebih pendek atau tinggi dari teman-temannya, kemungkinan lain yang menjadi faktornya adalah genetik. Apakah tinggi badan keluarga Anda, baik itu ayah, ibu, nenek, kakek, atau om dan tante, ada yang tidak sesuai dengan usianya? 

Biasanya, ketika tinggi badan anak balita lebih pendek atau tinggi dari teman sebaya, dokter akan menanyakan rekam jejak di dalam keluarga. Selain itu, dokter juga akan bertanya tentang tumbuh kembang anak waktu masih kecil. pasalnya, aktivitas anak juga membantu tumbuh kembang anak.

Waktu pubertas orangtua juga akan menjadi bahan penilaian dokter karena berpengaruh pada pertumbuhan tinggi anak balita. 

Kalau dilihat faktor genetik, anak yang memiliki kondisi khusus, seperti noona syndrome, turner syndrome, atau down syndrome cenderung punya postur tubuh yang pendek.

Ada beberapa faktor risiko saat hamil yang menjadikan anak mengalami down syndrome. Sementara itu untuk marfan syndrome kebalikannya, membuat anak menjadi jauh lebih tinggi.

Apakah pertumbuhan tinggi badan anak akan terhenti?

Biasanya anak-anak, baik perempuan maupun laki-laki, akan mengalami peningkatan pertumbuhan yang sangat signifikan di masa pubertas dengan angka berbeda sesuai jenis kelamin. Hal tersebut merupakan ciri tubuh anak mulai masuk usia pubertas.

Mengutip dari Kids Health, anak perempuan biasanya mulai pubertas di usia 8-13 tahun. Di masa ini, perubahan tubuh mereka mulai terlihat seperti payudara dan menstruasi. Melihat pertembuhan anak perempuan berkembang pesat saat pubertas, biasanya mereka akan berhenti bertumbuh di usia 16 tahun. Sementara itu, pertumbuhan anak laki-laki sampai usia 18 tahun.

Namun, perkembangan tinggi badan anak berbeda, tergantung kapan mereka melalui masa pubertas. Kalau anak melewati masa pubertas lebih lambat dari anak di usianya, mereka akan tumbuh sampai usia yang lebih dari batasannya.

Cara meningkatkan tinggi badan anak

tinggi anak balita pendek

Cara menghadapi tinggi badan anak yang kurang, tergantung pada faktor yang menjadi penyebabnya. Kalau tinggi buah hati Anda bukan disebabkan oleh penyakit atau kondisi medis tertentu, tidak ada perawatan khusus hanya perlu mengganti kebiasaan si kecil. 

Berikut kebiasaan baik yang perlu dilakukan untuk meningkatkan tinggi badan anak

Konsumsi makanan dan minuman yang sehat

Tidak hanya untuk menaikkan berat badan, makanan dan minuman yang sehat juga baik untuk menambah tinggi badan. Untuk meningkatkan tinggi badan si kecil, ia perlu mengonsumsi buah segar, protein, lemak, vitamin D, kalsium, dan makanan yang mengandung susu.

Apakah susu bisa menambah tinggi badan buah hati? Berdasarkan jurnal berjudul Milk Intake, Height and Body Mass Index in Preschool Children tinggi badan orang dewasa berhubungan dengan konsumsi susu pada usia 5-12 dan 13-17 tahun. 

Kandungan kalori, protein dan kalsium di dalam susu membantu dalam mendukung pertumbuhan tulang anak. Kalsium dalam susu memiliki peran penting dalam pembentukkan dan pertumbuhan tulang anak. 

Biarkan anak bergerak aktif

Anak di atas usia 5 tahun sedang sangat aktif bergerak dan ingin melakukan banyak aktivitas fisik, seperti berlari atau melompat. Ini saat yang tepat untuk mengajak anak Anda olahraga. 

Membentuk kebiasaan olahraga pada anak sangat baik untuk kesehatan dan pertumbuhan tulang anak. 

Anda bisa mengajak anak untuk jogging santai, bermain lompat tali (skipping), senam, basket, sepak bola, atau berenang. Pilih jenis aktivitas fisik yang disukai oleh anak agar ia tidak merasa terbebani saat bergerak.

Tidur yang cukup

Anak tidur tidak hanya sekadar istirahat, tetapi sedang masuk ke dalam fase penting pertumbuhannya. Inilah yang membuat anak diwajibkan untuk tidur di siang hari. 

Berapa lama seharusnya anak tidur? Berikut rinciannya:

  • Anak usia 3-5 tahun: 10-13 jam 
  • Anak usia 6-13 tahun: 9-13 jam
  • Anak usia 14-17 tahun: 8-10 jam

Sementara untuk anak usia 18 tahun sama seperti orang dewasa, yaitu 7-9 jam dalam sehari.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Cara Mudah Mengatasi Ruam Susu Pada Bayi ASI Eksklusif

Para ibu mungkin sudah tidak asing lagi dengan kemunculan ruam susu atau ruam di pipi bayi. Namun, apakah ruam susu itu dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Ilmuwan Jepang Ungkap Cara Sempurna Memeluk Bayi

Baru-baru ini ilmuwan jepang menemukan rahasia cara sempurna memeiuk bayi. Bagaimana caranya agar bayi nyaman dan tenang?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Parenting, Tips Parenting 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Membentak anak dapat memberikan dampak yang buruk. Apa akibat dari anak terlalu sering dibentak dan apa yang harus dilakukan orangtua?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Parenting, Tips Parenting 22/06/2020 . Waktu baca 8 menit

Begini Alasan Adanya Mata Plus pada Anak

Mata plus sering dikenal sebagai penyakit orang tua. Padahal banyak juga kasus mata plus pada anak. Baca terus dan pelajari berbagai penyebab dan gejalanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mata, Hidup Sehat 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Konten Bersponsor

Peran Penting Nutrisi untuk Kurangi Dampak Stunting pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 27/07/2020 . Waktu baca 6 menit
Konten Bersponsor
penyebab stunting

Benarkah Cacingan Bisa Menyebabkan Stunting pada Anak?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
protein susu soya

Ibu Harus Tahu, Ini Beda Kandungan Protein dalam Susu Kedelai dan Susu Sapi

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . Waktu baca 6 menit
Konten Bersponsor
nutrisi untuk anak aktif

Kebutuhan Asupan Nutrisi yang Perlu Dipenuhi Anak Aktif dan Suka Olahraga

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 30/06/2020 . Waktu baca 6 menit