Jika anak sudah masuk kategori obesitas, tandanya Anda perlu mengubah gaya hidup si kecil. Pasalnya, obesitas meningkatkan risiko anak terkena berbagai masalah kesehatan seperti diabetes hingga penyakit jantung. Agar anak tetap sehat, Anda tidak lagi bisa asal dalam menyajikan makanan. Pola makan anak obesitas perlu benar-benar dijaga agar berat badannya tidak terus bertambah. Anda tidak perlu bingung, saya akan menjelaskan pola makan anak obesitas yang sebaiknya diterapkan mulai dari anak didiagnosis obesitas.

Kapan anak dikatakan obesitas?

kegemukan pada anak

Sebelum menerapkan perubahan pola makan, Anda perlu mengetahui lebih dulu batasan obesitas pada anak usia sekolah. Anda bisa memakai tiga klasifikasi yang digunakan dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) 2000, International Obesity Task Force (IOTF) 2006, atu World Health Organization (WHO) 2006.

Saya akan memberikan contoh bagaimana menentukan status gizi obesitas memakai kurva dari CDC 2000 dengan rumus sebagai berikut:

Berat badan anak yang sebenarnya dibagi dengan berat badan ideal berdasarkan tinggi badan dikali 100 persen

(BB sebenarnya/BB ideal x 100%)

  • Jika hasilnya 110-120 persen maka anak masuk kategori overweight (kelebihan berat badan).
  • Jika hasilnya lebih dari 120 persen, maka anak masuk kategori obesitas.

Cara ini memang cukup rumit dan membutuhkan ketelitian. Pasalnya, untuk menentukan BB ideal sendiri perlu dilakukan perhitungan khusus. Oleh karena itu, sebaiknya Anda meminta bantuan dokter anak atau dokter gizi klinik untuk menilainya.

Apa yang terjadi jika anak dibiarkan makan sembarangan?

tanda anak obesitas

Anda tidak bisa menyepelekan efek yang terjadi jika anak obesitas tetap makan sembarangan. Banyak risiko masalah  kesehatan yang dapat menyerang buah hati Anda, seperti:

  • Peningkatan tekanan darah dan kolesterol yang mengganggu fungsi jantung serta pembuluh darah.
  • Gangguan toleransi glukosa, resistensi insulin, dan diabetes.
  • Sumbatan jalan napas saat tidur (obstructive sleep apnea) dan asma.
  • Gangguan pada sendi dan otot.
  • Perlemakan hati, batu empedu, hingga penyakit gastroesophageal reflux (GERD).
  • Masalah kulit seperti rentan terkena infeksi jamur dan jerawat yang berlebihan.
  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS).
  • Gangguan psikologis seperti menarik diri dari lingkungan sekitarnya, masalah kecemasan, hingga depresi.

Pola makan anak obesitas yang perlu diterapkan

balita makan malam

Untuk menerapkan pola makan anak obesitas, saya membaginya menjadi dua kategori yaitu yang dianjurkan dan perlu dihindari. Berikut rinciannya.

Pola makan yang dianjurkan

Pola makan yang sebaiknya diterapkan pada anak obesitas ialah sebagai berikut:

  • Asupan kalori yang seimbang sesuai kebutuhan anak. Konsultasikan ke dokter gizi klinik untuk mendapatkan takaran yang tepat.
  • Makan dengan teratur, yaitu tiga kali makan besar dan dua kali camilan dalam sehari.
  • Menerapkan pola makan sehat dan kaya gizi seperti sayur, buah, dan produk biji-bijian utuh yang divariasikan tiap hari.
  • Menerapkan kebiasaan minum air putih yang selalu diberikan di antara jadwal makan besar dan camilan.
  • Mengonsumsi protein rendah lemak dari berbagai macam sumber.
  • Mengonsumsi produk susu rendah atau bebas lemak.

Pola makan yang perlu dihindari

Tak hanya menerapkan pola makan yang dianjurkan, Anda juga perlu mencermati apa yang sebaiknya dihindari, yaitu:

  • Makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans.
  • Makanan siap saji (junk food) dan makanan instan.
  • Makanan dan minuman tinggi kalori dan gula.
  • Minuman kemasan dan soda.

Bolehkah anak obesitas diet?

Diet untuk anak obesitas boleh-boleh saja dilakukan asalkan dalam pengawasan dokter. Pada dasarnya ada tiga hal yang perlu diperhatikan pada diet anak obesitas. Pertama, menerapkan pola makan yang benar, kedua memberikan aktivitas fisik yang tepat, dan ketiga mengubah perilaku anak dengan menjadikan orangtua sebagai panutan. Tujuannya adalah untuk mencegah kenaikan berat badan dengan menjaga tumbuh kembang yang optimal.

Diet dapat dilakukan dengan cara tetap memberikan makan terjadwal, dengan rincian tiga kali makan besar dan dua kali camilan. Namun, yang berbeda ialah pemilihan jenis makanannya yang lebih rendah kalori dan lebih sehat.

Agar terapi diet pada anak obesitas berhasil, anak harus didukung oleh orang-orang terdekatnya. Sehingga diet tak hanya dilakukan oleh si anak saja tetapi juga melibatkan orangtua, anggota keluarga, teman, dan juga guru di sekolah untuk mencapai keberhasilan. Jadi, orangtua tidak hanya menyuruh anak saja yang makan makanan sehat atau berolahraga tapi seluruh keluarga pun ikut menerapkannya.

Baca Juga:

dr. Raissa Edwina Djuanda, M. Gizi, Sp.GK. Gizi Klinik
Dokter Raissa menamatkan studi Dokter Umum, Magister, dan Spesialis Gizi Klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Beliau pernah menjabat sebagai Manager Gizi Atlet di Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas. Pada tahun 2015, dr. Raissa pernah menjadi salah satu pemenang presentasi poster ilmiah pada acara The 2nd Jakarta Annual Meeting of Clinical Nutrition. Beliau juga pernah mendapat penghargaan dari Rektor Universitas Indonesia sebagai mahasiswa berprestasi dalam bidang olahraga. Saat ini, dr. Raissa aktif memberikan konseling dan edukasi kepada masyarakat melalui media cetak dan televisi. dr. Raissa bisa ditemui di tempat praktik pribadinya di Sawo 15 Menteng, atau di RS Hermina Jatinegara dan RS Pondok Indah - Puri Indah.
Selengkapnya
Artikel Terbaru