Apakah Pemanis Buatan Aman Dikonsumsi Anak-anak?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 2 November 2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Permen, kue, soft drink, jeli, dan susu kotak adalah beberapa jenis camilan yang paling digemari anak-anak. Namun, seluruh camilan ini juga memiliki persamaan lain, yakni mengandung pemanis buatan. Meskipun diperbolehkan, ada batasan konsumsi yang harus dipatuhi agar pemanis buatan tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan anak.

Mengenal pemanis buatan dan keunggulannya

Pemanis buatan merupakan bahan-bahan sintetis yang digunakan untuk menggantikan gula. Kendati lekat dengan istilah ‘sintetis’ dan ‘buatan’, pemanis yang banyak terdapat dalam produk kemasan ini biasanya dibuat dari bahan alami, termasuk gula pasir.

Gula pasir akan melewati serangkaian proses kimiawi sebelum menjadi pemanis buatan. Hasil akhir dari proses tersebut adalah pemanis buatan yang tingkat kemanisannya bisa mencapai 600 kali lipat dari bahan bakunya.

mitos tentang gula

U.S. Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui penggunaan enam jenis pemanis buatan, yakni sakarin, asesulfam, aspartam, neotam, sukralosa, dan stevia. Di antara seluruh pemanis tersebut, sukralosa adalah yang paling sering digunakan.

Penggunaan pemanis buatan saat ini dinilai tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan anak. Pasalnya, pemanis buatan bukanlah gula atau karbohidrat yang memiliki dampak buruk jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Pemanis buatan juga memiliki beberapa keunggulan dibandingkan gula pasir, di antaranya:

  • Tidak menyebabkan obesitas karena tidak mengandung kalori.
  • Tidak menyebabkan gigi berlubang.
  • Aman bagi penderita diabetes karena tidak meningkatkan kadar gula darah.

Adakah bahaya jangka panjang pemanis buatan bagi anak?

Pemanis buatan sering digunakan dalam produk-produk berlabel ‘diet’ atau ‘bebas-gula’. Mengingat kalorinya hanya nol, produk mengandung pemanis buatan juga diyakini dapat membantu menurunkan berat badan.

Namun, penelitian dalam jurnal Toxicological & Environmental Chemistry menunjukkan hasil sebaliknya. Anak-anak yang diberikan minuman mengandung pemanis buatan memiliki kadar plasma sukralosa darah yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Meski tidak memiliki bahaya langsung untuk kesehatan, plasma sukralosa yang tinggi akibat konsumsi pemanis buatan akan bertahan dalam tubuh anak. Hal ini disebabkan karena ginjal anak belum mampu membuang zat berlebih secara efektif.

Tingginya konsumsi pemanis buatan pada anak-anak lantas dapat memengaruhi selera makan mereka saat dewasa. Seiring masa pertumbuhan, anak yang sering terpapar makanan mengandung pemanis buatan biasanya akan terus mengonsumsinya.

Mereka cenderung lebih banyak makan manis ketika tumbuh besar. Selain karena indra pengecapannya telah terbiasa dengan rasa manis, mereka pun mengonsumsi makanan manis lain karena menganggap pemanis buatan tidak memicu kegemukan.

berat badan anak obesitas

Makanan manis yang tidak menggunakan pemanis buatan biasanya mengandung kalori berlebih. Seiring waktu, asupan kalori berlebih dari makanan manis dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, serta penyakit terkait gangguan metabolisme lainnya.

Bahaya pemanis buatan mungkin tidak langsung tampak pada anak. Padahal, konsumsi pemanis buatan dalam jumlah banyak bisa memengaruhi pola makan anak. Anak juga berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan di kemudian hari.

Untuk melindungi anak dari bahaya tersebut, orangtua dapat memberikan pemanis alternatif yang lebih aman. Misalnya, gula pasir, brown sugar, madu, atau sirup maple. Batasi pula asupannya agar anak terlatih untuk tidak mengonsumsinya secara berlebihan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Yang Perlu Anda Ketahui tentang Sukralosa

Sukralosa adalah pemanis buatan bebas kalori yang aman bagi penderita diabetes. Namun, ada jumlah yang direkomendasikan agar tak berdampak buruk bagi tubuh.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rena Widyawinata
Nutrisi, Hidup Sehat 31 Agustus 2018 . Waktu baca 4 menit

Mengenal Aspartam dan Dampaknya bagi Tubuh

Aspartam adalah pemanis buatan yang biasanya digunakan untuk mengganti gula alami. Namun, apakah aspartam aman dikonsumsi dalam jangka panjang?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rena Widyawinata
Hidup Sehat, Fakta Unik 30 Agustus 2018 . Waktu baca 4 menit

Bahaya Obesitas pada Anak Balita yang Perlu Orangtua Perhatikan

Anak yang gemuk memang lucu, tapi jika dibiarkan bisa menyebabkan obesitas pada anak balita yang akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan nantinya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Parenting, Nutrisi Anak 27 Agustus 2018 . Waktu baca 10 menit

Amankah Mengganti Gula Pasir Dengan Pemanis Rendah Kalori?

Bagi Anda yang sedang mengurangi asupan gula, berbagai cara bisa Anda lakukan, Termasuk, mengganti gula dengan pemanis buatan. Namun, apa ini aman?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Nutrisi, Hidup Sehat 9 Juli 2018 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pemanis buatan saat hamil

Apakah Pemanis Buatan Aman untuk Ibu Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 18 November 2020 . Waktu baca 3 menit
dampak obesitas terhadap kesehatan mental anak

Obesitas pada Anak Berisiko Terhadap Depresi dan Stres Saat Dewasa

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 9 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit
bahaya makanan manis bagi anak

Jangan Sembarang Memberi Makanan Manis Pada Anak, Ini 4 Bahayanya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2019 . Waktu baca 4 menit
efek pemanis buatan

4 Efek Buruk Konsumsi Pemanis Buatan Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2019 . Waktu baca 3 menit