home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Begini Alasan Adanya Mata Plus pada Anak

Begini Alasan Adanya Mata Plus pada Anak

Mata plus yang secara medis dikenal sebagai hyperopia atau rabun dekat biasanya mulai menyerang orang-orang dewasa di atas 40 tahun. Akhirnya banyak yang menghubungkan penyakit rabun dekat ini sebagai penyakit orangtua. Padahal, ada juga anak-anak kecil yang telah didiagnosis menderita rabun dekat. Jadi, anggapan bahwa hanya orang tua yang bisa punya mata plus ternyata salah. Fakta yang dilaporkan oleh Merdeka mencatat bahwa kasus mata plus pada anak terus mengalami peningkatan sehingga kelainan mata ini sudah tidak tepat lagi disebut sebagai penyakit orang tua.

Apa yang terjadi pada anak dengan mata plus (hyperopia)?

Anak dengan mata plus mengalami kesulitan melihat dengan jelas objek-objek yang jaraknya dekat dengan mata. Objek yang jauh dari mata justru tampak lebih jelas. Itulah sebabnya kegiatan membaca, mengetik, dan mengoperasikan komputer atau telepon seluler jadi sangat susah. Bahkan pada beberapa kasus di mana mata anak mengalami hyperopia yang sangat serius, penglihatan jarak dekat pun juga akan terganggu.

Pada mata anak dengan penglihatan hyperopia, terjadi kelainan di mana bayangan optik jatuh di belakang retina. Bola mata dengan hyperopia umumnya terlalu pendek sehingga cahaya tidak bisa jatuh tepat pada retina dan penglihatan menjadi buram. Selain itu, biasanya juga terdapat kelainan pada bentuk kornea atau lensa mata anak.

Mengapa mata plus pada anak bisa terjadi?

Mata plus terjadi karena beberapa faktor risiko. Faktor yang paling kuat adalah genetik. Jika Anda atau pasangan memiliki sejarah kelainan mata hyperopia, maka kemungkinan anak Anda mewarisinya pun lebih besar. Faktor lainnya adalah usia. Namun, karena mata anak masih dalam tahap perkembangan, biasanya faktor usia bukanlah penyebab anak memiliki mata plus.

Gejala dan tanda-tanda anak menderita mata plus

Bagi anak yang mengalami gangguan mata plus di usia dini, Anda mungkin kesulitan untuk mengetahuinya karena anak belum benar-benar paham tentang cara kerja mata normal, dan tanda-tanda mata plus tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Maka, sebaiknya Anda perhatikan gejala-gejala berikut ini.

1. Pandangan kabur dan berbayang

Jika anak Anda mengeluhkan penglihatan yang buram, berbayang, atau kabur, segera ajak anak untuk melakukan pemeriksaan mata. Biasanya gejala ini akan jadi semakin parah di malam hari.

2. Kesulitan melihat objek dalam jarak dekat

Perhatikan gerak-gerik anak Anda ketika berinteraksi dengan objek dalam jarak dekat. Bila anak cenderung menjauhkan mainan, buku, atau gadget, kemungkinan anak mengalami rabun dekat.

3. Mata sakit dan lelah

Biasanya mata anak dengan gangguan hyperopia cepat lelah dan terasa nyeri. Jadi jika anak Anda sering mengerutkan dahi atau memejamkan mata, ada baiknya Anda segera memeriksakan mata anak.

4. Sering sakit kepala

Anak dengan mata plus harus menahan fokus objek yang dekat dari mata untuk waktu yang cukup lama. Mata anak pun jadi cepat lelah dan bisa menyebabkan rasa sakit dan nyeri pada kepala.

5. Sering mengusap matanya

Anak kecil belum bisa mengidentifikasi penyebab penglihatan yang buram atau kabur, maka anak pun akan mengusap mata dengan harapan objek di hadapan mereka akan terlihat lebih jelas.

6. Kesulitan membaca dan belajar

Jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa anak sulit belajar karena malas. Bisa jadi anak mengalami kesulitan saat membaca dan belajar karena adanya gangguan rabun dekat.

Menangani mata plus pada anak

Banyak yang percaya bahwa mata plus pada anak akan sembuh sendiri. Namun, hal tersebut tidak berlaku secara umum. Anak dengan hyperopia perlu mendapatkan perawatan khusus supaya gangguan yang dialami tidak bertambah serius. Pada anak usia balita dengan kasus rabun dekat ringan, kemungkinan mata kembali normal memang lebih tinggi karena mata akan menyesuaikan diri selama bertumbuh. Meskipun demikian, akan lebih baik jika Anda tetap mengikuti saran dokter dan memberikan perawatan yang terbaik bagi anak dengan mata plus. Berikut adalah penanganan yang bisa diberikan oleh orang tua.

1. Pakai kacamata

Setelah memeriksakan mata anak, biasanya anak dengan mata plus akan direkomendasikan oleh dokter untuk menggunakan kacamata. Kacamata akan membantu anak mengembalikan fokus pada objek yang tadinya tampak kabur. Memakai kacamata adalah penanganan terbaik yang bisa diberikan pada anak. Operasi perbaikan kornea, lensa, atau bola mata tidak direkomendasikan bagi anak karena perkembangan mata yang belum sempurna. Biasanya mata akan menjadi dewasa sempurna di usia 21 tahun.

2. Pola makan sehat

Mengonsumsi sayur, khususnya yang berdaun hijau tua dan buah-buahan yang berwarna terang bisa meningkatkan kesehatan mata anak. Selain itu, kandungan yang baik bagi anak dengan mata plus adalah vitamin C, D, serta kalsium, magnesium, dan selenium. Untuk itu, anak dengan mata plus sebaiknya banyak mengonsumsi brokoli, bayam, jeruk, stroberi, kiwi, salmon, sarden, tuna, telur, tahu, dan jamur.

3. Melatih kesehatan mata

Anak harus dilatih agar bisa menjaga kesehatan mata dengan cara banyak berkedip, terutama ketika sedang menatap layar komputer, televisi, atau tablet untuk waktu yang cukup lama. Pastikan juga bahwa anak cukup mengistirahatkan matanya. Anda bisa menerapkan sistem 10-3-10. Setiap anak memfokuskan mata pada objek tertentu selama 10 menit, beristirahatlah dan alihkan mata untuk memandang di kejauhan sejarak 3 meter selama 10 detik.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hyperopia (Farsightedness) in Children and Adults. http://www.eyehealthweb.com/hyperopia/# Diakses pada 26 September 2016.

Farsightedness (Hyperopia) – Topic Overview. http://www.webmd.com/eye-health/tc/farsightedness-hyperopia-topic-overview#1 Diakses pada 26 September 2016.

Farsightedness Prevention. http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/farsightedness/basics/prevention/con-20027486 Diakses pada 26 September 2016.

Best Eye Vitamins for Farsightedness. http://www.rebuildyourvision.com/blog/vision-conditions/farsightedness/best-eye-vitamins-for-farsightedness-2/ Diakses pada 26 September 2016.

Eye Exercises for Farsightedness. http://www.rebuildyourvision.com/blog/vision-conditions/farsightedness/eye-exercises-for-farsightedness/ Diakses pada 26 September 2016.

Anak pertama ternyata lebih rentan mengalami rabun dekat. https://www.merdeka.com/sehat/anak-pertama-ternyata-lebih-rentan-mengalami-rabun-dekat.html Diakses pada 27 September 2016.

Foto Penulis
Ditulis oleh Irene Anindyaputri pada 20/06/2020
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x