Beragam Manfaat dan Pilihan Aktivitas Fisik Anak Sekolah Dasar

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Anak-anak memerlukan aktivitas fisik secara rutin agar dapat bertumbuh menjadi anak yang sehat. Begitu pula saat memasuki usia sekolah dasar. Anak Anda harus semakin aktif melakukan aktivitas fisik saat duduk di bangku sekolah dasar. Aktivitas fisik apa yang paling baik untuk anak Anda? Berikut adalah beberapa pilihan untuk anak Anda.

Manfaat aktivitas fisik anak sekolah dasar

Memiliki gaya hidup yang aktif dapat meningkatkan kebiasaan sehat dan hal ini bisa berlangsung seumur hidup. Sebagai orangtua, Anda juga harus membantu memenuhi kebutuhan fisik anak demi meningkatkan kesejahteraan anak pada umumnya.

Saat memasuki usia sekolah dasar, anak membutuhkan aktivitas fisik yang dapat meningkatkan kekuatan, koordinasi, dan rasa percaya diri yang dimilikinya. Di samping itu, pada usia ini, anak biasanya sudah mulai bisa memilih aktivitas fisik seperti apa yang ingin dilakukannya. Selalu dampingi anak dan pastikan aktivitas fisik pilihannya adalah sesuatu yang positif dan menyehatkan tubuh.

Tidak hanya untuk mengatasi obesitas, penting untuk anak-anak berolahraga dalam rangka meningkatkan kebugaran jantung dan paru-paru. Selain itu rutin melakukan aktivitas fisik juga bisa membantu mencegah diabetes dan kolesterol pada anak-anak yang memiliki keturunan akan penyakit tersebut.

Anak yang sudah duduk di bangku sekolah dasar harusnya memiliki banyak pilihan aktivitas fisik yang bisa dilakukan. Anak bisa memilih aktivitas fisik yang sesuai dengan usia, kemampuan, dan hal yang disukainya. Anda juga bisa mendiskusikan dengan anak aktivitas fisik apa yang kira-kira lebih disukainya dibandingkan dengan aktivitas fisik lainnya.

Melansir Center of Disease Control and Prevention, anak di usia sekolah dasar setidaknya harus melakukan aktivitas fisik selama satu jam atau lebih setiap hari. Di samping itu, terdapat perkembangan fungsi otak sebagai manfaat lain dari 20-30 menit olahraga setiap hari. Bahkan, dampak dari jarangnya anak berolahraga bisa memberikan dampak yang buruk pada IQnya.

Jenis aktivitas fisik untuk anak usia sekolah dasar 

Aktivitas fisik sebenarnya sangat luas. Tidak melulu tentang olahraga, aktivitas fisik juga untuk anak sekolah dasar juga bisa berupa permainan yang melibatkan banyak gerakan tubuh, rekreasi bersama keluarga, hingga bermain bersama dengan teman di taman bermain.

Sembari mendorong anak untuk meningkatkan kemampuan motoriknya, Anda bisa membantu mencari aktivitas fisik yang sesuai dengan usia anak. Begitu pula dengan intensitas aktivitas atau olahraga yang dilakukan anak.

Saat memasuki usia sekolah, anak sebaiknya didorong untuk mulai melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga cukup intens. Menjalani aktivitas fisik dengan intensitas sedang akan membantu anak untuk menghasilkan banyak keringat. Biasanya, anak juga akan agak sedikit kesulitan bernapas, tapi masih sanggup berbicara.

Sementara, aktivitas fisik yang cukup intens biasanya membuat anak benar-benar berkeringat hingga kesulitan bernapas. Bahkan, anak mungkin merasa kesulitan bicara saat kehabisan napas. Aktivitas ini bisa berupa olahraga lari, berenang dengan cepat dan sebagainya.

Ada pula aktivitas fisik yang dapat meningkatkan fungsi otot dan tulang, seperti lompat tali, berlari, tenis, atau basket.

Aktivitas fisik untuk anak sekolah dasar usia 6-9 tahun

Bagi anak-anak yang masih berusia 6-9 tahun, Anda bisa mengajaknya untuk melakukan aktivitas fisik yang sedang hingga cukup intens setiap hari selama 60 menit. Aktivitas yang cukup intens bisa dilakukan setidaknya sebanyak tiga kali dalam seminggu.

Sementara itu, anak yang sudah duduk di bangku sekolah dasar juga disarankan melakukan aktivitas fisik yang dapat meningkatkan kekuatan otot dan tulang sebanyak tiga kali dalam seminggu. Pilihan olahraga yang cocok untuk anak pada usia ini adalah sepak bola, gymnastic, atau Anda juga bisa mengajaknya bermain ice skating di mall.

Aktivitas fisik untuk anak sekolah dasar usia 10-12 tahun

Sementara, untuk anak sekolah dasar usia 10-12 tahun bisa melakukan aktivitas fisik setidaknya selama 60 menit setiap hari. Sama seperti kelompok usia 6-9 tahun, aktivitas fisik yang dilakukan bisa dimulai dari yang sedang hingga cukup intens.

Anda bisa mengajaknya melakukan aktivitas fisik yang cukup intens sebanyak tiga kali dalam seminggu. Anda juga bisa mendorong anak untuk melakukan aktivitas fisik yang menguatkan fungsi otot dan tulang sebanyak tiga kali dalam seminggu.

Pada usia ini, sebagian besar anak telah memasuki masa puber. Ciri-ciri puber yang terlihat pada anak adalah tinggi dan berat tumbuhnya yang bertambah pesat, kekuatan, hingga tingkat kedewasaannya. Biasanya, anak sekolah dasar usia 10-12 tahun sudah mampu melakukan aktivitas fisik bersama dengan teman sebaya.

Sebagai contoh, anak bisa mulai berpartisipasi dalam olahraga tim. Tak hanya itu, jika anak Anda bersedia, Anda juga bisa melatihnya untuk mengangkat beban yang masih tergolong ringan. Namun, untuk itu, Anda harus secara ketat mengawasinya.

Walau pengawasan penting untuk keamanan, Anda juga tetap harus menunjukkan dukungan dan ketertarikan Anda. Menghabiskan waktu sebagai pengamat, Anda dapat mengevaluasi apakah perlu untuk meningkatkan tantangan. Sering kali, anak akan memberi tahu atau Anda akan menyadari apakah mereka perlu diberi tantangan saat mereka mulai bosan.

Mendorong anak untuk tetap aktif meski di rumah

Sebenarnya, untuk membuat anak bisa melakukan aktivitas fisik, Anda tidak harus mengajaknya beraktivitas di luar rumah. Anda tetap bisa kok mendorong anak usia sekolah dasar agar tetap aktif di rumah jika tidak sempat pergi ke luar rumah. Apalagi, jika Anda hanya mendaftarkannya di klub sepak bola dan anak hanya melakukannya seminggua 1-2 kali, anak mungkin tidak bisa beraktivitas fisik sesuai anjuran usianya.

Agar anak ikut bersemangat melakukan aktivitas fisik, Anda bisa membiasakan anak terlebih dahulu. Tujuannya agar anak tidak terbiasa untuk diam dan bermalas-malasan saat di rumah.

Beberapa hal yang dapat orangtua lakukan untuk anak tetap melakukan aktivitas fisik di rumah, seperti:

1. Biarkan anak bermain dan bebas bergerak

Izinkan anak Anda yang duduk di sekolah dasar untuk melakukan aktivitas fisik di dalam rumah seperti bermain dan aktif bergerak. Anak Anda mungkin bisa membakar lebih banyak kalori jika bisa melakukan aktivitas fisik dengan gembira. Jauhkan anak dari gadget yang mungkin memancing anak untuk bermalas-malasan.

Anda sebaiknya juga memperbolehkan anak untuk bermain bersama teman-teman atau saudaranya di rumah. Biarkan anak bersenang-senang sembari bermain dan melakukan aktivitas fisik. Dengan begitu, anak juga ‘lupa’ dengan rasa lelah yang mungkin dirasakannya.

2. Siapkan beragam alat bermain dan olahraga untuk anak

Sebagai orangtua, Anda juga harus menyiapkan berbagai peralatan bermain atau berolahraga di rumah. Peralatannya tidak harus yang rumit atau mahal. Anda bisa saja menyediakan bola, hula-hoops, dan tali untuk lompat tali.

Saat anak Anda mulai menunjukkan rasa bosan dengan aktivitas fisik yang dilakukannya, anak mungkin menjadi bermalas-malasan. Itulah saatnya Anda mendorong anak menggunakan alat-alat yang Anda miliki di rumah agar anak tetap aktif.

3. Ajak anak aktif bersama

Jika Anda ingin anak Anda lebih aktif dan rutin melakukan aktivitas fisik, Anda juga perlu melakukannya. Anak biasanya memerhatikan apa yang dilakukan oleh orangtua. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan orangtuanya sebagai role model. Maka itu, jika Anda aktif bergerak, anak mungkin akan ikut termotivasi untuk melakukan hal yang sama.

Sebagai alternatif kegiatan fisik, anak dapat diminta untuk membantu melakukan pekerjaan rumah. Sesuaikan dengan usia anak. Anda dapat memberi anak tugas untuk mencuci piring, mengepel lantai atau membersihkan kebun bersama Anda.

4. Batasi aktivitas yang kurang menyehatkan

Agar anak Anda yang duduk di bangku sekolah dasar bersemangat melakukan aktivitas fisik di rumah, Anda juga perlu menjadi orangtua yang tegas. Sebagai contoh batasi waktu anak menonton TV, menggunakan gadget, atau anak bermain video game. Pasalnya, justru aktivitas-aktivitas tersebut yang membuat anak lebih mudah untuk duduk diam di rumah, tapi tidak aktif bergerak.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 1, 1970 | Terakhir Diedit: Maret 27, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca