home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apakah Anak Obesitas Masih Boleh Makan Makanan Berlemak?

Apakah Anak Obesitas Masih Boleh Makan Makanan Berlemak?

Risiko obesitas tidak hanya mengintai orang dewasa, tapi juga anak-anak. Kondisi ini biasanya disebabkan karena anak memperoleh banyak asupan kalori dari makanan yang tidak menyehatkan. Mengingat lemak menyumbangkan banyak kalori, apakah anak yang obesitas masih boleh makan makanan mengandung lemak?

Obesitas pada anak tidak hanya disebabkan makanan berlemak

tanda anak obesitas

Kelebihan berat badan dan obesitas pada anak disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebab yang paling umum antara lain faktor keturunan, faktor psikologis, pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta gabungan dari seluruh faktor tersebut.

Kasus obesitas banyak terjadi pada anak-anak yang sering mengonsumsi makanan tinggi kalori. Kalori yang besar tersebut biasanya berasal dari fast food, junk food, kue-kue manis, camilan, permen, makanan penutup, serta minuman manis.

Di sisi lain, anak yang makan makanan berlemak tidak serta-merta pasti mengalami obesitas. Obesitas cenderung terjadi karena anak terlalu banyak mengonsumsi makanan mengandung gula. Makanan ini tinggi akan kalori, tapi miskin nutrisi.

obesitas pada anak

Asupan gula yang berlebih akan diubah menjadi sel-sel lemak. Semakin sering anak mengonsumsi gula, semakin banyak pula sel lemak yang terbentuk. Jika anak jarang beraktivitas fisik, timbunan lemak dapat bertambah besar dan mengakibatkan obesitas.

Selain itu, gula berlebih juga memicu obesitas dengan cara mengganggu kerja hormon leptin. Fungsi hormon leptin adalah memberikan rasa kenyang. Asupan gula berlebih dapat mengurangi kemampuan otak dalam merespons sinyal hormon ini. Dampaknya, anak sering merasa lapar dan ingin makan lebih banyak.

Meski lemak identik dengan berat badan yang bertambah, dalang di balik obesitas anak sebenarnya adalah gula dan kurangnya aktivitas fisik. Anak yang mengalami obesitas sekalipun boleh makan makanan mengandung lemak, yang terpenting jumlahnya tidak berlebihan.

Cara memberikan asupan lemak yang sehat bagi anak obesitas

resep makan malam

Lemak memiliki sejumlah fungsi bagi perkembangan anak. Tubuh anak membutuhkan lemak untuk menghasilkan energi, membangun sel-sel otak dan sistem saraf, membentuk hormon, melapisi organ, serta menyerap vitamin A, D, E, dan K.

Kendati bermanfaat, Anda perlu memperhatikan jenis lemak yang dikonsumsi oleh si kecil. Berikan ia lebih banyak asupan lemak tak jenuh yang menyehatkan. Sebaliknya, batasi asupan lemak jenuh dan lemak trans yang banyak terdapat pada camilan manis.

Anak yang mengalami obesitas tetap boleh makan makanan mengandung lemak. Namun, ada beberapa penyesuaian yang perlu Anda lakukan. Di antaranya:

  • Memilih sumber lemak yang lebih menyehatkan berupa alpukat, minyak zaitun, kacang-kacangan, dan ikan berlemak.
  • Memberikan susu rendah lemak dan daging tanpa lemak.
  • Membaca label kemasan makanan, sebab produk makanan berlabel ‘fat-free’ terkadang mengandung gula tambahan yang tinggi kalori.
  • Membatasi konsumsi gula dan makanan manis.
  • Membatasi konsumsi makanan olahan. Sebagai gantinya, berikan si kecil makanan utuh dan alami.
  • Mengurangi memasak dengan metode deep-frying. Anda bisa menggantinya dengan menumis, memanggang, atau mengukus.

Lemak memang dapat menambah berat badan. Meski demikian, bukan berarti anak yang mengalami obesitas tidak boleh makan makanan mengandung lemak. Anak-anak dengan obesitas sekalipun tetap memerlukan asupan lemak demi tumbuh kembangnya.

Hal yang menjadi pembeda adalah jenis lemak yang mereka konsumsi. Orangtua boleh memberikan asupan lemak, tapi utamakan lemak dari jenis yang menyehatkan. Tidak lupa, ajak si kecil berolahraga agar tubuhnya lebih aktif membakar kalori. Jika obesitas berkelanjutan, segeralah konsultasikan ke dokter anak.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Obesity in Children. https://www.webmd.com/children/guide/obesity-children#1 Diakses pada 7 November 2019.

Childhood obesity. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/childhood-obesity/symptoms-causes/syc-20354827 Diakses pada 7 November 2019.

Childhood Obesity. https://www.healthline.com/health/weight-loss/weight-problems-in-children Diakses pada 7 November 2019.

So, This Is Exactly How Sugar Makes Us Fat. https://www.huffingtonpost.com.au/2017/04/20/so-this-is-exactly-how-sugar-makes-us-fat_a_22046969/ Diakses pada 7 November 2019.

Healthy fat choices. https://www.heartfoundation.org.au/healthy-eating/food-and-nutrition/fats-and-cholesterol/monounsaturated-and-polyunsaturated-omega-3-and-omega-6-fats Diakses pada 7 November 2019.

Fats. https://kidshealth.org/en/parents/fat.html Diakses pada 7 November 2019.

Dietary Recommendations for Healthy Children. https://www.heart.org/en/healthy-living/healthy-eating/eat-smart/nutrition-basics/dietary-recommendations-for-healthy-children Diakses pada 7 November 2019.

Is saturated or unsaturated fat better for you? https://www.medicalnewstoday.com/articles/321655.php Diakses pada 7 November 2019.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 16/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro