Anak Kerokan Saat Masuk Angin, Amankah?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Banyak orang mengandalkan kerokan ketika mereka masuk angin. Tak hanya orang dewasa, orangtua pun kadang membiarkan anak-anak mereka yang masuk angin meredakan gejala dengan kerokan. Namun, apakah kerokan pada anak aman dilakukan? Simak ulasannya berikut ini.

Amankah kerokan pada anak-anak?

Masuk angin sebenarnya adalah kondisi yang ditandai dengan munculnya sejumlah gejala, seperti demam, badan pegal, perut mual dan kembung, hingga hidung mampet.

Rasa “tak enak badan” akibat masuk angin ini disinyalir karena terlalu banyak angin yang masuk ke tubuh. Kerokan menjadi salah satu cara yang umum, baik untuk dewasa maupun anak, untuk meredakannya.

Menurut dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, seperti dikutip dari laman Vice Indonesia, kerokan menyebabkan sugesti nyaman pada seseorang. Itu sebabnya, banyak yang percaya bahwa rasa “tak enak badan” bisa sembuh dengan kerokan.

Dalam dunia kedokteran sendiri, kerokan pada anak ataupun orang dewasa diperbolehkan. Namun, Prof. Dr. dr. Didik Gunawan Tamtomo, PAK, MM, MKes dalam artikel yang dipublikasikan detikHealth menyebut ada hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan kerokan pada anak.

Guru besar Fakultas Kedokteran Unversitas Negeri Sebelas Maret itu menyebut bahwa bayi dan balita tak boleh dikerok dengan gesekan terlalu kuat. Alasannya, jaringan kulit pada anak-anak, terutama bayi dan balita masih lemah dan rentan.

Solusinya, Prof. Didik menyarankan untuk menggunakan irisan bawang merah ketika saat ingin melakukan kerokan pada anak-anak.

Hal ini untuk menghindari rasa sakit dan iritasi pada kulit akibat goresan koin, benda yang biasa digunakan untuk kerokan.

Kerokan dengan bawang merah, menurut Prof, Didik, memberikan efek vasodilatasi, yaitu melancarkan peredaran darah dan efek menenangkan. Hal itu lah yang membuat banyak orang percaya dengan “khasiat” kerokan bawang merah.

Cara lain mengatasi masuk angin pada anak-anak

Masuk angin pada umumnya punya gejala yang sama dengan flu, seperti badan pegal, sakit kepala, hingga demam.

Kids Health menyebutkan bahwa Anda bisa memberikan acetaminophen atau ibuprofen untuk mengatasi gejala tersebut. Namun, pastikan takarannya telah menyesuaikan dengan usia dan berat badan anak.

Selain melakukan kerokan pada anak-anak, beberapa cara lain yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi rasa tak nyaman akibat masuk angin, yaitu:

  • Masukkan air garam (saline wash) ke dalam lubang hidung untuk mengurangi hidung tersumbat.
  • Gunakan cool-mist humidifier untuk meningkatkan kelembapan udara.
  • Oleskan petroleum jelly di bawah hidung untuk meredakan hidung mampet.
  • Berikan permen tenggorokan untuk meredakan sakit tenggorokan (hanya untuk anak di atas 6 tahun).
  • Gunakan air hangat saat mandi untuk meredakan pegal-pegal.
  • Mandi air panas untuk membuat kamar mandi beruap yang dapat membantu anak bernapas dengan lega.

Selain kerokan, Anda juga bisa memberikan sup ayam hangat untuk anak saat ia masuk angin.

Bukti secara ilmiah soal khasiat sup ayam dalam mengobati flu memang belum ada, tapi makanan itu telah digunakan secara turun-temurun untuk meredakan rasa “tak enak badan”.

Sup ayam mengandung asam amino penipis lendir yang disebut sistein. Sebuah penelitian yang dipublikasikan CHEST juga menyebutkan bahwa sup ayam menyebabkan efek anti-peradangan yang bisa mengurangi infeksi saluran pernapasan bagian atas yang merupakan gejala flu biasa.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Suka Batuk-batuk Setelah Berolahraga? Ini Alasannya

Pernahkah Anda mengalami batuk setelah berolahraga, padahal tidak sedang terkena flu atau pilek? Ini beberapa kondisi yang mungkin jadi penyebabnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Fakta Unik 29 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit

Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Beberapa Orang Suka Bau Hujan

Beberapa orang merasa tenang mencium bau tanah yang menguar setelah hujan turun. Ternyata, ada alasan ilmiah di balik itu. Ini penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Hidup Sehat, Fakta Unik 15 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit

Mengenal Hubungan Poliamori, Saat Cinta Anda Tak Hanya untuk Satu Orang

Menjadi yang kedua atau diduakan mungkin jadi hal yang tak pernah Anda inginkan. Namun, nyatanya tidak dengan hubungan poliamori. Apa itu poliamori?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rena Widyawinata
Hidup Sehat, Seks & Asmara 13 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Pengaruh TBC pada Ibu Hamil dan Janin?

Kesehatan ibu hamil perlu dijaga dengan baik agar tidak memengaruhi kondisi janin. Lalu, apakah ada pengaruh TBC pada ibu hamil?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Batuk, Health Centers 11 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

tanda-tanda selingkuh

6 Tanda Pasangan Anda Selingkuh

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 November 2020 . Waktu baca 4 menit
air mani untuk masker wajah

Benarkah Masker dari Air Mani Pria Bisa Membuat Kulit Wajah Mulus dan Awet Muda?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 November 2020 . Waktu baca 4 menit
minyak esensial

6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit
gerimis bikin sakit

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 31 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit