
Panduan Memilih Minuman Bernutrisi untuk Anak Usia Sekolah
Minuman merupakan bagian dari asupan harian anak yang sering luput diperhatikan. Padahal, selain makanan, pilihan minuman juga dapat memengaruhi kecukupan cairan, energi, dan zat gizi anak.

Untuk anak usia sekolah, minuman yang baik sebaiknya dipilih berdasarkan kebutuhan tubuh, kesesuaian usia, kandungan gizi, kadar gula, takaran saji, serta kondisi kesehatan anak. Rasa yang nikmat dan disukai anak memang penting, tetapi bukan satu-satunya pertimbangan.
Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan. Selain itu, susu dapat menjadi salah satu minuman bernutrisi karena dapat menyumbang protein, kalsium, vitamin, mineral, dan pada produk tertentu juga dilengkapi zat gizi lain.
Namun, orang tua tetap perlu membaca informasi nilai gizi produk dan memperhatikan kandungan gula tambahan. Minuman bernutrisi sebaiknya menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang, bukan pengganti makanan utama.
Mengapa pilihan minuman anak perlu diperhatikan?
Saat membicarakan gizi anak, orang tua sering lebih fokus pada makanan utama, seperti nasi, lauk, sayur, dan buah. Padahal, minuman juga berkontribusi terhadap asupan harian anak.
Minuman dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan dan beberapa jenis minuman juga dapat menyumbang zat gizi. Namun, minuman juga bisa menjadi sumber gula tambahan yang tidak disadari.
Anak usia sekolah biasanya aktif belajar, bermain, bergerak, dan mengikuti berbagai kegiatan. Tubuhnya membutuhkan cairan yang cukup agar dapat menjalankan fungsi tubuh dengan baik.
Jika anak kurang minum, ia bisa merasa lemas, sakit kepala, kurang nyaman, atau sulit berkonsentrasi. Sebaliknya, jika anak terlalu sering mengonsumsi minuman manis dan tinggi gula, asupan kalorinya bisa meningkat tanpa diimbangi zat gizi yang cukup.
Karena itu, memilih minuman anak perlu dilakukan dengan cermat.
Apa yang dimaksud dengan minuman bernutrisi untuk anak?

Minuman bernutrisi untuk anak adalah minuman yang dapat membantu melengkapi kebutuhan cairan atau zat gizi anak sesuai usia dan kebutuhannya.
Minuman bernutrisi tidak harus selalu mahal atau memiliki klaim yang banyak pada kemasan. Yang penting, minuman tersebut sesuai dengan kondisi anak, aman dikonsumsi, tidak mengandung gula tambahan yang berlebihan, dan dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang.
Contoh minuman yang dapat dipertimbangkan dalam pola makan anak antara lain air putih, susu, dan dalam jumlah terbatas, jus buah 100% tanpa tambahan gula. Pada kondisi tertentu, minuman khusus dapat diberikan sesuai anjuran dokter atau ahli gizi.
Namun, minuman seperti soda, minuman berpemanis, teh kemasan manis, minuman energi, dan minuman berkafein sebaiknya tidak menjadi pilihan harian anak.
Prinsip utama memilih minuman untuk anak usia sekolah
Sebelum memilih minuman untuk anak, orang tua dapat menggunakan beberapa prinsip sederhana berikut.
1. Utamakan air putih untuk hidrasi
Air putih adalah pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan anak. Air putih tidak mengandung gula tambahan, tidak menambah kalori, dan membantu tubuh tetap terhidrasi.
Anak perlu dibiasakan minum air putih sejak kecil. Kebiasaan ini penting karena anak yang terlalu sering diberikan minuman manis lebih mungkin untuk tidak suka air putih.
Orang tua dapat membantu dengan menyediakan botol minum, mengingatkan anak minum saat bermain atau belajar, dan memberi contoh dengan ikut minum air putih.
Pada anak yang aktif, banyak berkeringat, sedang demam, muntah, atau diare, kebutuhan cairannya bisa meningkat. Dalam kondisi seperti ini, orang tua perlu lebih memperhatikan tanda dehidrasi, seperti mulut kering, urine lebih pekat, lemas, atau anak tampak sangat haus.
2. Pilih minuman sesuai usia
Kebutuhan anak berubah sesuai usia. Anak usia prasekolah, anak usia sekolah dasar, dan remaja memiliki kebutuhan cairan, energi, dan zat gizi yang berbeda.
Karena itu, jika memilih minuman kemasan, orang tua perlu membaca keterangan usia pada produk. Pastikan minuman tersebut memang sesuai untuk rentang usia anak.
Produk yang ditujukan untuk orang dewasa belum tentu sesuai untuk anak. Misalnya, minuman berkafein, minuman energi, atau minuman tinggi gula tidak dianjurkan menjadi pilihan anak.
3. Perhatikan kandungan gizi, bukan hanya rasa
Rasa yang nikmat dan disukai anak memang dapat membantu anak lebih mudah mengonsumsi minuman tertentu. Namun, minuman anak tidak sebaiknya dipilih hanya karena rasanya nikmat..
Orang tua perlu memperhatikan kandungan gizi pada label. Pada minuman seperti susu, misalnya, orang tua dapat melihat kandungan protein, lemak, karbohidrat, gula, kalsium, vitamin D, vitamin lain, mineral, serta zat gizi tambahan bila ada.
Minuman yang bernutrisi dapat membantu melengkapi asupan anak. Namun, minuman tetap tidak boleh menggantikan makanan utama karena anak tetap membutuhkan zat gizi dari makanan utuh yang bervariasi.
4. Cermati kandungan gula tambahan
Banyak minuman anak memiliki rasa manis. Rasa manis bisa berasal dari gula alami, gula tambahan, atau pemanis tertentu.
Pada susu, gula alami yang terdapat secara alami adalah laktosa. Sementara itu, gula tambahan dapat berupa sukrosa, gula, sirup glukosa, fruktosa, atau pemanis berkalori lain yang ditambahkan dalam proses produksi.
Gula tambahan perlu dibatasi karena anak bisa mendapatkannya dari banyak sumber dalam sehari, seperti minuman kemasan, biskuit, roti manis, kue, permen, sereal, dan camilan lainnya.
Membaca label membantu orang tua mengetahui jumlah gula per takaran saji dan memahami apakah produk mengandung gula tambahan.
5. Sesuaikan porsi dengan kebutuhan anak
Porsi minuman juga penting. Minuman bernutrisi tetap dapat berlebihan jika dikonsumsi terlalu banyak.
Misalnya, susu anak dapat membantu melengkapi asupan gizi anak, tetapi bila diberikan terlalu banyak dan terlalu dekat dengan waktu makan utama, anak bisa kenyang lebih dulu dan menolak makan.
Takaran saji pada label dapat membantu orang tua mengatur jumlah konsumsi. Sesuaikan porsi dengan usia, aktivitas, pola makan, dan kondisi kesehatan anak.
6. Perhatikan kondisi kesehatan anak
Tidak semua anak cocok dengan jenis minuman yang sama. Anak dengan alergi protein susu sapi, intoleransi laktosa, diabetes, obesitas, gangguan ginjal, gangguan pencernaan, atau kondisi medis lain mungkin membutuhkan pilihan minuman yang lebih spesifik.
Jika anak mengalami keluhan setelah minum susu atau minuman tertentu, seperti diare, muntah, kembung, nyeri perut, ruam, gatal, batuk berulang, atau sesak, sebaiknya konsultasikan ke dokter.
Dokter dapat membantu menilai apakah keluhan berkaitan dengan alergi, intoleransi laktosa, infeksi, atau kondisi lain.
Jenis minuman yang bisa dipilih untuk anak
Berikut beberapa jenis minuman yang umum diberikan kepada anak dan hal yang perlu diperhatikan pada masing-masing pilihan.
1. Air putih
Air putih adalah minuman utama untuk anak. Air putih membantu menjaga hidrasi, mendukung fungsi tubuh, dan tidak memberikan tambahan gula maupun kalori.
Orang tua dapat membiasakan anak minum air putih saat bangun tidur, sebelum berangkat sekolah, saat di sekolah, setelah bermain, dan sebelum tidur sesuai kebutuhan.
Jika anak tidak suka air putih, hindari langsung menggantinya dengan minuman manis. Cobalah strategi bertahap, seperti menggunakan botol minum yang disukai anak, menambahkan potongan buah segar untuk aroma ringan, atau membuat jadwal minum.
2. Susu
Susu dapat menjadi salah satu minuman bernutrisi untuk anak. Susu dapat menyumbang zat gizi seperti protein, kalsium, vitamin D, vitamin B, kalium, fosfor, dan zat gizi lain tergantung jenis produk.
Susu UHT yang mengandung omega 3 & 6 serta dilengkapi vitamin dan mineral juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu melengkapi asupan nutrisi anak selama masa pertumbuhan.
Protein membantu mendukung pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh. Kalsium dan vitamin D berperan dalam kesehatan tulang dan gigi. Beberapa produk susu juga dapat diperkaya dengan zat gizi tambahan tertentu.
Namun, susu tetap perlu dikonsumsi dalam jumlah wajar dan tidak menggantikan makanan utama. Anak tetap membutuhkan makanan pokok, lauk berprotein, sayur, buah, dan sumber lemak sehat lainnya.
Untuk anak usia sekolah, pilih susu yang sesuai usia, perhatikan kandungan gula, dan sesuaikan porsi dengan kebutuhan anak.
3. Jus buah 100%
Jus buah 100% tanpa tambahan gula dapat diberikan dalam jumlah terbatas. Namun, buah utuh tetap lebih dianjurkan karena mengandung serat yang lebih baik dan membantu anak belajar mengenal tekstur makanan.
Jus buah sering kali lebih mudah diminum dalam jumlah banyak dibanding buah utuh. Akibatnya, anak bisa mendapatkan asupan gula alami dan kalori lebih banyak tanpa merasa kenyang.
Jika memberikan jus, pastikan porsinya kecil, tidak ditambah gula, dan tidak menggantikan air putih maupun buah utuh.
4. Minuman berbasis buah kemasan
Minuman berbasis buah kemasan tidak selalu sama dengan jus buah 100%. Beberapa produk mengandung sedikit sari buah tetapi tinggi gula tambahan, perisa, atau bahan lain.
Orang tua perlu membaca label dengan cermat. Perhatikan apakah produk benar-benar 100% jus buah atau hanya minuman rasa buah.
Jika produk mengandung gula tambahan tinggi, sebaiknya tidak menjadi pilihan harian anak.
5. Minuman probiotik atau yogurt drink
Minuman probiotik atau yogurt drink dapat mengandung bakteri baik dan beberapa zat gizi. Namun, banyak produk dalam kategori ini juga mengandung gula tambahan.
Jika ingin memberikan minuman probiotik, pilih yang sesuai usia anak, perhatikan kandungan gula, dan berikan dalam porsi wajar.
Pada anak dengan gangguan imunitas, penyakit kronis, atau kondisi medis tertentu, konsumsi probiotik sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.
6. Minuman plant-based
Minuman nabati seperti minuman kedelai, almon, oat, atau beras dapat menjadi pilihan pada kondisi tertentu, misalnya alergi susu sapi atau preferensi keluarga.
Namun, kandungan gizinya tidak selalu sama dengan susu sapi. Beberapa minuman nabati rendah protein atau tidak mengandung kalsium dan vitamin D dalam jumlah cukup kecuali difortifikasi.
Jika minuman nabati digunakan sebagai pengganti susu, orang tua perlu memastikan kandungan gizinya sesuai dan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi, terutama pada anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
7. Minuman berpemanis
Minuman berpemanis seperti soda, teh kemasan manis, minuman rasa buah dengan gula tambahan, minuman serbuk manis, dan minuman boba sebaiknya dibatasi.
Minuman ini dapat menambah asupan gula dan kalori tanpa memberikan banyak zat gizi penting. Jika terlalu sering dikonsumsi, anak dapat terbiasa dengan rasa yang sangat manis.
Pada anak usia sekolah, kebiasaan minum manis juga dapat memengaruhi kesehatan gigi dan kualitas pola makan secara keseluruhan.
Bagaimana dengan Minuman berkafein dan minuman energi?
Perlu diperhatikan bahwa minuman berkafein, seperti kopi, teh pekat, minuman energi, dan beberapa minuman kemasan tertentu, tidak dianjurkan sebagai pilihan anak.
Kafein dapat memengaruhi tidur, denyut jantung, kecemasan, dan kenyamanan anak. Minuman energi juga sering mengandung kafein tinggi, gula, atau stimulan lain yang tidak sesuai untuk anak.
Jika anak sering mengantuk atau lemas sehingga orang tua merasa ingin memberikan minuman berkafein, sebaiknya cari penyebabnya terlebih dahulu. Anak mungkin kurang tidur, kurang asupan, anemia, dehidrasi, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Kandungan yang perlu diperhatikan pada label minuman anak

Saat memilih minuman kemasan untuk anak, label produk adalah sumber informasi penting. Berikut bagian yang sebaiknya diperhatikan.
1. Takaran saji
Takaran saji menunjukkan jumlah produk yang menjadi dasar perhitungan nilai gizi. Misalnya, informasi gizi dapat ditulis per 100 ml atau per satu kemasan.
Jika anak minum lebih dari satu takaran saji, jumlah energi, gula, dan zat gizi lain yang masuk juga bertambah.
Karena itu, jangan hanya melihat angka pada label, tetapi perhatikan juga berapa banyak produk yang diminum anak.
2. Energi atau kalori
Energi menunjukkan jumlah kalori yang diberikan oleh minuman tersebut. Minuman bernutrisi bisa mengandung energi, tetapi perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak.
Jika anak sudah makan cukup, terlalu sering minum minuman berkalori tinggi dapat menambah asupan energi berlebih.
Sebaliknya, pada anak dengan asupan makan kurang, minuman bernutrisi tertentu dapat membantu melengkapi kebutuhan energi sesuai anjuran tenaga kesehatan.
3. Protein
Protein penting untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh. Pada minuman seperti susu, kandungan protein dapat menjadi salah satu nilai gizi yang diperhatikan.
Namun, anak tetap perlu mendapatkan protein dari makanan utama, seperti telur, ikan, ayam, daging, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.
4. Lemak
Lemak dalam jumlah sesuai dibutuhkan anak sebagai sumber energi, komponen sel, dan membantu penyerapan vitamin larut lemak.
Perhatikan jenis produk dan usia anak. Pada beberapa kondisi, dokter dapat menyarankan pilihan susu atau minuman dengan kandungan lemak tertentu.
Namun, orang tua sebaiknya tetap membatasi makanan dan minuman yang tinggi lemak jenuh atau lemak trans.
5. Karbohidrat dan gula
Karbohidrat dalam minuman dapat berasal dari laktosa alami pada susu, gula dari buah, atau gula tambahan.
Perhatikan jumlah gula per takaran saji dan daftar komposisi. Jika terdapat sukrosa, gula, sirup glukosa, fruktosa, madu, atau bahan pemanis berkalori lain, artinya produk mengandung gula tambahan.
Kandungan gula tidak harus selalu nol, tetapi orang tua perlu mengatur total asupan gula anak dalam sehari.
6. Vitamin dan mineral
Beberapa minuman, terutama susu atau minuman yang difortifikasi, dapat mengandung vitamin dan mineral seperti kalsium, vitamin D, vitamin B, zat besi, zinc, atau yodium.
Kandungan ini dapat membantu melengkapi asupan anak, tetapi tidak menggantikan makanan bergizi seimbang.
Jika anak memiliki kekurangan zat gizi tertentu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum mengandalkan produk tertentu atau memberikan suplemen.
7. Klaim nutrisi
Kemasan produk dapat mencantumkan klaim seperti rendah gula, tanpa gula tambahan, tinggi kalsium, mengandung vitamin, atau sumber protein.
Klaim ini dapat membantu, tetapi orang tua tetap perlu membaca informasi nilai gizi dan komposisi secara lengkap.
Misalnya, produk yang tertulis tanpa gula tambahan masih bisa mengandung gula alami. Pada susu, gula alami tersebut adalah laktosa.
Gula alami dan gula tambahan, apa bedanya?
Perbedaan gula alami dan gula tambahan penting dipahami saat memilih minuman anak.
Gula alami adalah gula yang memang terdapat secara alami dalam bahan makanan atau minuman. Contohnya laktosa dalam susu dan fruktosa dalam buah.
Gula tambahan adalah gula atau pemanis berkalori yang ditambahkan saat proses produksi atau penyajian. Contohnya sukrosa, gula pasir, sirup glukosa, sirup fruktosa, madu, atau bahan lain yang ditambahkan untuk memberi rasa manis.
Pada anak, gula tambahan sebaiknya dibatasi. Bukan berarti anak sama sekali tidak boleh merasakan manis, tetapi frekuensi dan porsinya perlu diatur.
Minuman menjadi salah satu sumber gula tambahan yang sering tidak disadari karena mudah diminum dan tidak selalu membuat anak kenyang.
Bagaimana memilih minuman yang nikmat tetapi tetap bernutrisi?
Anak sering memilih minuman berdasarkan rasa. Karena itu, orang tua perlu mencari keseimbangan antara rasa yang disukai anak dan kandungan gizi yang sesuai.
Minuman yang rasanya nikmat dapat membantu anak lebih mudah menerimanya. Namun, rasa nikmat sebaiknya tetap diikuti dengan pertimbangan nutrisi. Berikut cara memilihnya:
1. Pilih rasa yang disukai, tetapi tetap baca label
Jika anak menyukai rasa tertentu, orang tua boleh mempertimbangkannya. Namun, tetap perhatikan kandungan gula, takaran saji, dan zat gizi.
Rasa yang nikmat bukan masalah bila dikonsumsi dalam porsi wajar dan tidak membuat anak terlalu sering memilih minuman manis.
2. Biasakan anak mengenal rasa yang tidak terlalu manis
Preferensi rasa anak dapat dibentuk. Jika anak terbiasa minum yang sangat manis, ia mungkin sulit menerima air putih atau susu plain.
Pengurangan rasa manis dapat dilakukan bertahap. Misalnya, lebih sering menyediakan air putih, memilih varian tanpa gula tambahan, atau membatasi frekuensi minuman manis.
3. Jadikan minuman bernutrisi sebagai pelengkap, bukan hadiah
Jika minuman manis selalu dijadikan hadiah, anak bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang lebih istimewa daripada minuman lain.
Sebaiknya, bangun kebiasaan minum sehat sebagai bagian dari rutinitas harian, bukan hanya sebagai reward.
4. Padukan dengan makanan bergizi
Minuman bernutrisi sebaiknya diberikan bersama pola makan yang baik. Misalnya, susu sebagai pelengkap sarapan atau bekal, bukan sebagai pengganti makan. Dengan begitu, anak tetap mendapatkan zat gizi dari berbagai sumber.
Kapan waktu yang tepat memberikan minuman bernutrisi?
Waktu pemberian minuman bernutrisi perlu diatur agar tidak mengganggu nafsu makan anak.
1. Saat sarapan
Susu dapat menjadi pelengkap sarapan. Misalnya, diberikan bersama roti isi telur, oatmeal, nasi dengan lauk sederhana, atau buah.
Namun, bila anak menjadi terlalu kenyang setelah minum susu, berikan dalam porsi lebih kecil atau pisahkan waktunya dari makan utama.
2. Sebagai bagian dari bekal
Minuman bernutrisi dapat menjadi bagian dari bekal anak, terutama jika anak memiliki jadwal sekolah atau aktivitas yang cukup panjang.
Pastikan minuman mudah dibawa, kemasan aman, dan sesuai dengan usia anak.
3. Di sela aktivitas
Minuman bernutrisi dapat diberikan di sela aktivitas, misalnya setelah anak bermain atau belajar. Namun, tetap perhatikan porsi dan jangan terlalu dekat dengan waktu makan utama.
4. Saat anak membutuhkan asupan tambahan sesuai kondisi
Pada anak yang sedang pemulihan setelah sakit, sulit makan, atau memiliki kebutuhan gizi tertentu, dokter atau ahli gizi mungkin menyarankan minuman bernutrisi tertentu.
Dalam kondisi ini, jenis dan porsinya sebaiknya mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
Minuman yang sebaiknya dibatasi pada anak

Beberapa jenis minuman sebaiknya tidak menjadi pilihan harian anak.
1. Minuman tinggi gula
Minuman tinggi gula seperti soda, minuman rasa buah, teh kemasan manis, minuman boba, dan minuman serbuk manis sebaiknya dibatasi.
Konsumsi berlebihan dapat meningkatkan asupan gula tambahan dan menurunkan kualitas pola makan anak.
2. Minuman berkafein
Minuman berkafein seperti kopi, teh pekat, minuman energi, dan beberapa minuman kemasan juga sebaiknya tidak diberikan kepada anak.
Pasalnya, kafein dapat memengaruhi tidur, kecemasan, denyut jantung, dan kenyamanan anak.
3. Minuman energi
Minuman energi tidak dianjurkan untuk anak karena dapat mengandung kafein, gula, atau stimulan lain dalam jumlah tinggi.
Jika anak sering lemas atau mengantuk, cari penyebabnya, bukan memberikan minuman energi.
4. Minuman dengan pemanis non-gula
Minuman dengan pemanis non-gula atau non-sugar sweeteners sering dianggap lebih aman karena rendah kalori. Namun, minuman ini tidak perlu menjadi pilihan rutin anak.
Anak sebaiknya dibiasakan dengan air putih dan minuman yang mendukung pola makan bergizi, bukan minuman manis meskipun menggunakan pemanis rendah kalori.
5. Jus dalam jumlah berlebihan
Jus buah 100% boleh diberikan terbatas, tetapi tidak menggantikan buah utuh. Terlalu banyak jus dapat menambah asupan gula alami dan kalori.
Lebih baik biasakan anak makan buah utuh agar mendapatkan serat dan rasa kenyang yang lebih baik.
Kesalahan yang perlu dihindari saat memilih minuman anak
Agar pilihan minuman lebih tepat, hindari beberapa kesalahan berikut.
1. Menganggap semua minuman anak pasti sehat
Kemasan yang terlihat menarik atau menggunakan kata “anak” tidak selalu berarti produk sesuai untuk dikonsumsi setiap hari.
Label tetap perlu dibaca. Perhatikan komposisi, kandungan dan jenis gula dalam minuman, takaran saji, dan informasi gizi.
2. Hanya memilih karena rasanya nikmat
Rasa penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya pertimbangan. Pilih minuman yang rasanya dapat diterima anak dan kandungan gizinya sesuai.
3. Memberikan minuman manis terlalu sering
Minuman manis sebaiknya tidak menjadi kebiasaan harian. Jika anak sudah terbiasa, kurangi secara bertahap dan lebih sering tawarkan air putih.
4. Memberikan susu terlalu banyak hingga anak menolak makan
Susu dapat melengkapi asupan anak, tetapi terlalu banyak susu bisa membuat anak terlalu kenyang. Jika anak menolak makanan utama karena sudah minum susu, porsi atau waktunya perlu diatur ulang.
5. Tidak memperhatikan alergi atau intoleransi
Anak dengan alergi susu sapi atau intoleransi laktosa membutuhkan pilihan khusus. Jangan memaksakan minuman tertentu bila anak mengalami keluhan setelah mengonsumsinya.
6. Mengganti air putih dengan minuman lain
Air putih tetap menjadi minuman utama. Minuman bernutrisi dapat menjadi pelengkap, tetapi tidak menggantikan peran air putih dalam hidrasi harian anak.
Tips membiasakan anak memilih minuman sehat
Membentuk kebiasaan minum sehat membutuhkan waktu. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua.
1. Sediakan air putih di tempat yang mudah dijangkau
Letakkan botol minum di dekat anak saat belajar, bermain, atau bepergian. Anak lebih mudah minum bila air tersedia.
2. Beri contoh dari orang tua
Anak cenderung meniru kebiasaan orang tua. Jika orang tua terbiasa minum air putih dan membatasi minuman manis, anak lebih mudah mengikuti.
3. Kurangi minuman manis secara bertahap
Jika anak sudah terbiasa minum manis, pengurangan mendadak bisa membuat anak menolak. Kurangi frekuensi atau porsinya secara bertahap.
4. Libatkan anak dalam memilih
Berikan pilihan yang tetap sehat, misalnya “Mau bawa air putih di botol biru atau botol merah?” atau “Mau susu saat sarapan atau untuk bekal?” Pilihan kecil dapat membuat anak merasa dilibatkan.
5. Jangan menyimpan terlalu banyak minuman manis di rumah
Anak lebih mudah meminta minuman manis jika selalu tersedia. Batasi stok minuman manis dan sediakan pilihan yang lebih sehat.
Kapan perlu berkonsultasi dengan dokter?
Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter bila anak sering menolak minum air putih, hanya mau minuman manis dan sulit makan.
Kunjungan ke dokter juga diperlukan jika tinggi badan dan berat badan anak tidak, berat badan anak berlebih, atau anak memiliki keluhan setelah minum susu atau minuman tertentu.
Selain itu, keluhan lain yang tidak boleh diabaikan adalah diare, muntah, kembung, nyeri perut, ruam, gatal, batuk berulang, sesak, atau lemas setelah mengonsumsi minuman tertentu.
Dokter dapat melakukan anamnesis pola makan, pemeriksaan fisik, penilaian status gizi, evaluasi kurva pertumbuhan, dan pemeriksaan penunjang bila diperlukan. Bila anak membutuhkan pengaturan gizi lebih spesifik, dokter dapat merujuk ke ahli gizi atau dokter spesialis anak.
Memilih minuman bernutrisi untuk anak usia sekolah perlu dilakukan dengan cermat. Orang tua sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan rasa yang nikmat, tetapi juga kandungan gizi, kadar gula, takaran saji, kesesuaian usia, dan kondisi kesehatan anak.
Air putih tetap menjadi minuman utama untuk memenuhi kebutuhan cairan. Susu dapat menjadi salah satu minuman bernutrisi yang membantu melengkapi asupan harian, selama dikonsumsi dalam porsi wajar dan tidak menggantikan makanan utama.
Dengan pilihan minuman yang tepat, makanan yang bervariasi, tidur cukup, dan aktivitas fisik yang sesuai, orang tua dapat membantu anak tumbuh lebih sehat, aktif, dan siap belajar.