brand logo
Kategori
Cek Kesehatan
Komunitas
Booking Dokter

Iklan

Bagikan

Apa yang Perlu Orang Tua Tahu tentang Gula Tambahan pada Minuman Anak?

Gula tambahan pada minuman anak perlu diperhatikan karena anak bisa mendapatkan gula dari berbagai sumber dalam sehari, mulai dari susu berperisa, minuman kemasan, teh manis, jus kemasan, biskuit, roti manis, sereal, hingga camilan.

Apa yang Perlu Orang Tua Tahu tentang Gula Tambahan pada Minuman Anak?

Namun, orang tua juga perlu memahami bahwa tidak semua gula pada label berarti gula tambahan. Pada susu, misalnya, terdapat gula alami yang disebut laktosa. Laktosa berbeda dari gula tambahan seperti sukrosa, gula pasir, sirup glukosa, atau pemanis berkalori lain yang ditambahkan saat proses produksi.

Secara umum, gula tambahan sebaiknya dibatasi. Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko berat badan berlebih, karies gigi, dan pola makan yang kurang seimbang. Anak juga dapat menjadi terbiasa dengan rasa yang terlalu manis sehingga lebih sulit menerima air putih, susu plain, buah utuh, atau makanan rumahan dengan rasa alami.

Orang tua dapat membantu mengatur asupan gula anak dengan membaca label, memahami takaran saji, membedakan gula alami dan gula tambahan, memilih minuman sesuai usia, serta membiasakan anak minum air putih sebagai pilihan utama.

Mengapa gula tambahan pada minuman anak perlu diperhatikan?

batas gula anak

Anak umumnya menyukai rasa manis. Karena itu, minuman manis sering terasa lebih mudah diterima dibanding air putih atau minuman dengan rasa yang lebih natural.

Masalahnya, gula tambahan sering tidak disadari jumlahnya. Anak mungkin hanya minum satu kemasan minuman manis, tetapi pada hari yang sama juga mengonsumsi biskuit, roti manis, permen, sereal, atau camilan lain yang juga mengandung gula tambahan.

Jika kebiasaan ini terjadi terus-menerus, total asupan gula harian anak dapat menjadi berlebihan. Dalam jangka panjang, konsumsi gula tambahan yang tinggi dapat menurunkan kualitas pola makan karena anak lebih sering memilih makanan dan minuman manis dibanding makanan bergizi.

Selain itu, minuman manis biasanya lebih mudah dikonsumsi dalam jumlah banyak karena tidak selalu membuat anak merasa kenyang. Akibatnya, anak bisa mendapatkan tambahan energi dari gula tanpa disertai zat gizi penting seperti protein, serat, vitamin, dan mineral.

Itulah sebabnya, orang tua perlu lebih cermat memilih minuman anak, bukan hanya berdasarkan rasa yang disukai, tetapi juga kandungan gula, takaran saji, dan nilai gizinya.

Apa yang dimaksud dengan gula tambahan?

Gula tambahan adalah gula atau pemanis berkalori yang ditambahkan ke dalam makanan atau minuman saat proses produksi, pengolahan, atau penyajian.

Pada daftar komposisi, gula tambahan dapat muncul dengan berbagai nama, antara lain:

  • gula,
  • sukrosa,
  • sirup glukosa,
  • sirup fruktosa,
  • dekstrosa,
  • maltosa,
  • madu,
  • molases,
  • konsentrat sari buah, dan
  • sirup jagung tinggi fruktosa atau corn syrup.

Pada minuman anak, gula tambahan biasanya digunakan untuk memberikan rasa manis, memperkuat rasa, atau membuat produk lebih disukai.

Gula tambahan berbeda dari gula alami yang memang terdapat dalam bahan makanan. Contohnya laktosa pada susu dan fruktosa pada buah utuh.

Apa saja jenis gula yang perlu diketahui orang tua?

Saat membaca label, orang tua mungkin sering menemukan kata “gula”, tetapi belum tentu memahami jenisnya. Berikut beberapa jenis gula yang umum ditemukan.

1. Laktosa

Laktosa adalah gula alami yang terdapat dalam susu. Karena laktosa memang berasal dari susu, keberadaannya tidak sama dengan gula tambahan.

Pada label informasi nilai gizi, laktosa dapat ikut terhitung sebagai “gula” atau “total sugar”. Ini sebabnya susu plain tanpa gula tambahan pun tetap dapat memiliki angka gula pada label.

Hal ini penting dipahami agar orang tua tidak langsung menganggap semua angka gula dalam susu sebagai gula tambahan.

Namun, pada anak dengan intoleransi laktosa, laktosa dapat menimbulkan keluhan seperti kembung, nyeri perut, sering buang gas, atau diare setelah minum susu. Bila anak mengalami keluhan seperti ini, konsultasikan dengan dokter.

2. Sukrosa

Sukrosa adalah gula meja atau gula pasir yang sering ditambahkan ke makanan dan minuman untuk memberi rasa manis.

Pada minuman kemasan, sukrosa termasuk gula tambahan bila memang ditambahkan saat proses produksi.

Jika orang tua ingin membatasi gula tambahan anak, perhatikan apakah terdapat sukrosa pada daftar komposisi.

3. Glukosa

Glukosa adalah salah satu bentuk gula sederhana yang digunakan tubuh sebagai sumber energi. Dalam produk kemasan, glukosa atau sirup glukosa dapat ditambahkan sebagai pemanis.

Bila tercantum sebagai bahan tambahan dalam komposisi, glukosa dapat dikategorikan sebagai gula tambahan.

4. Fruktosa

Fruktosa adalah gula alami yang terdapat pada buah. Pada buah utuh, fruktosa hadir bersama serat, vitamin, mineral, dan senyawa alami lain.

Namun, fruktosa juga dapat hadir sebagai gula tambahan bila ditambahkan dalam bentuk sirup fruktosa, high-fructose corn syrup, atau pemanis lain dalam produk kemasan.

Karena itu, buah utuh tetap lebih dianjurkan dibanding minuman rasa buah atau jus kemasan yang mengandung gula tambahan.

5. Maltosa

Maltosa adalah jenis gula yang dapat ditemukan pada beberapa produk olahan. Bila maltosa ditambahkan dalam komposisi, zat ini juga termasuk gula tambahan.

6. Free sugars

Free sugars adalah istilah yang digunakan dalam panduan kesehatan untuk menyebut gula yang ditambahkan ke makanan atau minuman serta gula alami yang terdapat dalam madu, sirup, jus buah, dan konsentrat jus buah.

Free sugars berbeda dari gula alami dalam buah utuh atau laktosa yang secara alami ada dalam susu.

Dalam praktik sehari-hari, orang tua tidak harus menghafal semua istilah ini. Namun, memahami perbedaannya dapat membantu saat membaca label dan memilih minuman anak.

Gula alami dan gula tambahan, apa bedanya?

Perbedaan gula alami dan gula tambahan penting untuk dipahami. Gula alami adalah gula yang memang terdapat secara alami dalam bahan makanan, contohnya laktosa dalam susu dan fruktosa dalam buah utuh.

Gula tambahan adalah gula atau pemanis berkalori yang ditambahkan ke makanan atau minuman. Contohnya sukrosa, sirup glukosa, gula pasir, atau madu yang ditambahkan saat proses produksi atau penyajian.

Perbedaan ini penting karena makanan atau minuman yang mengandung gula alami biasanya juga membawa zat gizi lain. Misalnya, susu mengandung protein, kalsium, vitamin, dan mineral. Buah utuh mengandung serat, vitamin, mineral, dan air.

Sementara itu, gula tambahan biasanya lebih banyak menambah rasa manis dan energi, tetapi tidak selalu menyumbang zat gizi penting.

Namun, ini bukan berarti gula alami boleh dikonsumsi tanpa batas. Porsi tetap perlu diperhatikan, terutama pada minuman seperti jus buah yang lebih mudah diminum dalam jumlah banyak dibanding buah utuh.

Apakah anak tetap membutuhkan gula?

Tubuh anak membutuhkan energi untuk tumbuh, belajar, bermain, dan beraktivitas. Energi ini dapat diperoleh dari karbohidrat, protein, dan lemak.

Karbohidrat yang dikonsumsi anak akan dipecah menjadi glukosa, yaitu salah satu sumber energi utama bagi tubuh dan otak. Namun, kebutuhan energi anak sebaiknya dipenuhi dari sumber karbohidrat yang lebih bernutrisi, seperti nasi, roti, kentang, ubi, jagung, oatmeal, buah utuh, dan makanan bergizi lainnya.

Anak tidak membutuhkan gula tambahan dalam jumlah besar. Si Kecil boleh saja mengonsumsi makanan manis sesekali, tetapi gula tambahan sebaiknya dibatasi agar tidak menggeser asupan makanan yang lebih bernutrisi.

Dengan kata lain, yang perlu dikurangi bukan semua karbohidrat, melainkan gula tambahan yang berlebihan dari makanan dan minuman manis.

Berapa batas konsumsi gula tambahan untuk anak?

Batas gula dapat berbeda tergantung usia, kebutuhan energi, aktivitas, dan kondisi kesehatan anak. Namun, beberapa panduan kesehatan dapat menjadi acuan umum.

WHO merekomendasikan agar asupan free sugars pada anak dan orang dewasa dibatasi hingga kurang dari 10% total energi harian. Mengurangi konsumsi gula hingga di bawah 5% total energi harian dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

American Heart Association menyarankan anak usia 2–18 tahun membatasi gula tambahan hingga tidak lebih dari 25 gram per hari, atau sekitar 6 sendok teh.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menyarankan batas konsumsi gula per orang per hari sebesar 50 gram atau sekitar 4 sendok makan sebagai bagian dari edukasi gula, garam, dan lemak.

Dalam praktik sehari-hari, orang tua tidak selalu perlu menghitung gram gula secara detail setiap kali makan. Namun, penting untuk membangun kebiasaan membaca label, membatasi minuman manis, dan memilih makanan serta minuman dengan gula tambahan yang lebih rendah.

Mengapa minuman manis perlu lebih diwaspadai?

Minuman manis perlu diperhatikan karena gula dalam minuman sering lebih mudah masuk dalam jumlah banyak tanpa disadari.

Berbeda dengan makanan padat yang membuat anak mengunyah dan merasa kenyang, minuman manis bisa cepat habis. Anak mungkin masih merasa lapar setelah minum, lalu tetap makan camilan atau makanan lain.

Beberapa contoh minuman yang bisa menjadi sumber gula tambahan antara lain:

  • teh kemasan manis,
  • soda,
  • minuman rasa buah,
  • minuman serbuk manis,
  • minuman boba,
  • minuman olahraga,
  • susu berperisa dengan gula tambahan tinggi,
  • minuman yoghurt tinggi gula, dan
  • minuman cokelat kemasan.

Minuman seperti ini tidak harus selalu dilarang sepenuhnya, tetapi sebaiknya tidak menjadi pilihan harian anak. Frekuensi dan porsinya perlu diatur dengan baik.

Dampak konsumsi gula tambahan berlebihan pada anak

Konsumsi gula tambahan yang berlebihan dapat berdampak pada kesehatan dan kebiasaan makan anak. Berikut beberapa dampak yang perlu diperhatikan.

1. Meningkatkan risiko berat badan berlebih

Gula tambahan dapat menambah asupan energi. Jika energi yang masuk lebih besar daripada yang digunakan tubuh dalam jangka panjang, anak dapat mengalami kenaikan berat badan yang berlebih.

Berat badan berlebih pada anak dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan di kemudian hari, terutama bila disertai pola makan rendah gizi dan kurang aktivitas fisik.

Namun, berat badan anak tetap perlu dinilai menggunakan kurva pertumbuhan dan indeks massa tubuh sesuai usia, bukan hanya dilihat dari bentuk tubuh.

2. Meningkatkan risiko karies gigi

Gula dapat dimanfaatkan bakteri di mulut untuk menghasilkan asam. Asam ini dapat merusak enamel gigi dan meningkatkan risiko karies.

Risiko karies dapat meningkat bila anak sering mengonsumsi makanan atau minuman manis, terutama bila kesehatan gigi anak kurang terjaga atau anak sering minum manis menjelang tidur.

Orang tua perlu membiasakan anak menyikat gigi, membatasi makanan dan minuman manis, serta memeriksakan gigi secara berkala.

3. Membentuk preferensi rasa yang terlalu manis

Anak yang terlalu sering diberikan minuman manis dapat terbiasa dengan rasa yang sangat manis. Akibatnya, ia mungkin lebih sulit menerima air putih, susu plain, sayur, buah utuh, atau makanan rumahan dengan rasa yang lebih alami.

Preferensi rasa anak dapat dibentuk sejak dini. Karena itu, mengurangi gula tambahan secara bertahap dapat membantu anak lebih terbiasa dengan rasa alami makanan dan minuman.

4. Mengurangi kualitas pola makan

Minuman manis dapat membuat anak kenyang sesaat atau menambah energi, tetapi tidak selalu menyediakan zat gizi penting. Jika terlalu sering dikonsumsi, minuman manis dapat menggantikan pilihan yang lebih bernutrisi.

Misalnya, anak lebih memilih minuman manis daripada air putih atau susu plain, atau lebih memilih camilan manis daripada makanan utama.

Dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat membuat asupan protein, serat, vitamin, dan mineral menjadi kurang optimal.

5. Mengganggu kebiasaan makan

Jika anak terlalu sering minum minuman manis di sela waktu makan, ia bisa menjadi tidak lapar saat waktu makan utama. Akibatnya, makanan utama tidak habis atau variasi asupan menjadi terbatas.

Karena itu, waktu pemberian minuman manis atau minuman bernutrisi juga perlu diatur agar tidak mengganggu jadwal makan.

Cara membaca label gula pada minuman anak

cara membaca informasi nilai gizi

Membaca label dapat membantu orang tua memilih minuman dengan lebih cermat. Berikut langkah yang bisa dilakukan.

1. Cek takaran saji

Informasi nilai gizi biasanya dihitung berdasarkan takaran saji tertentu. Takaran ini bisa per 100 ml, per 200 ml, atau per satu kemasan.

Jika anak mengonsumsi lebih dari satu takaran saji, jumlah gula, energi, dan zat gizi lain yang masuk juga bertambah.

Contohnya, bila label menunjukkan gula per 100 ml, tetapi anak minum 200 ml, jumlah gula yang dikonsumsi menjadi dua kali lipat dari angka tersebut.

2. Lihat jumlah gula total

Gula total menunjukkan jumlah gula dalam produk, baik gula alami maupun gula tambahan.

Pada susu, angka gula total dapat mencakup laktosa. Pada minuman buah, gula total dapat mencakup gula alami dari buah dan gula tambahan bila ada. Karena itu, angka gula total perlu dibaca bersama daftar komposisi.

3. Baca daftar komposisi

Daftar komposisi membantu orang tua mengetahui apakah produk mengandung gula tambahan. Perhatikan istilah seperti gula, sukrosa, sirup glukosa, sirup fruktosa, dekstrosa, maltosa, madu, atau konsentrat sari buah.

Jika bahan-bahan tersebut tercantum, artinya produk mengandung gula tambahan atau free sugars.

4. Perhatikan urutan bahan

Pada daftar komposisi, bahan dan kandungan produk umumnya dicantumkan berurutan dari jumlah terbanyak ke yang lebih sedikit.

Jika gula atau pemanis berkalori muncul pada bagian awal daftar komposisi, artinya bahan tersebut kemungkinan cukup dominan dalam produk.

Ini dapat menjadi sinyal bagi orang tua untuk lebih mempertimbangkan frekuensi dan porsi konsumsi produk tersebut.

5. Jangan hanya mengandalkan klaim di depan kemasan

Klaim seperti “rasa buah”, “mengandung vitamin”, “rendah lemak”, atau “untuk anak” tidak otomatis berarti produk rendah gula. Orang tua tetap perlu membaca informasi nilai gizi dan komposisi secara lengkap.

6. Bedakan “tanpa gula tambahan” dan “bebas gula”

Produk yang mencantumkan klaim tanpa gula tambahan berarti tidak mengandung gula tambahan, tetapi produk tersebut tetap bisa mengandung gula alami.

Misalnya, susu tanpa gula tambahan tetap dapat mengandung laktosa. Buah atau jus buah tanpa gula tambahan tetap mengandung gula alami dari buah.

Jadi, klaim “tanpa gula tambahan” tidak selalu berarti bebas gula sepenuhnya.

Apa yang perlu diperhatikan pada susu dan minuman berbasis susu?

Susu dapat menjadi minuman bernutrisi untuk anak karena dapat menyumbang protein, kalsium, vitamin, mineral, dan zat gizi lain tergantung jenis produk.

Susu UHT yang mengandung Omega 3 dan Omega 6 serta dilengkapi vitamin dan mineral juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu melengkapi asupan nutrisi anak selama masa pertumbuhan.

Namun, kandungan dan jumlah zat gizi pada setiap produk dapat berbeda sehingga orang tua tetap perlu membaca informasi nilai gizi dan daftar komposisi pada label, terutama pada susu berperisa atau minuman berbasis susu. 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • kesesuaian usia anak,
  • takaran saji,
  • jumlah gula total,
  • ada atau tidaknya gula tambahan seperti sukrosa,
  • kandungan protein, kalsium, vitamin, dan mineral,
  • komposisi bahan, serta
  • tanggal kedaluwarsa dan kondisi kemasan.

Pada susu, angka gula pada label bisa berasal dari laktosa alami. Bila produk juga mengandung sukrosa atau gula tambahan lain, gula tersebut biasanya berasal dari tambahan saat proses produksi.

Jika orang tua ingin mengurangi gula tambahan, susu plain atau produk tanpa tambahan sukrosa dapat menjadi pilihan, selama sesuai usia dan kebutuhan anak.

Apakah susu plain selalu lebih baik?

gula pada susu anak

Susu plain dapat menjadi pilihan yang baik karena rasanya lebih natural dan umumnya tidak mengandung gula tambahan seperti varian berperisa. Namun, pemilihan susu tetap perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan nutrisi, kondisi kesehatan, dan toleransi anak.

Pada sebagian anak, susu plain mungkin tidak langsung diterima karena terbiasa dengan rasa manis. Jika demikian, orang tua dapat mengurangi pilihan minuman manis secara bertahap dan membiasakan anak dengan rasa yang lebih natural.

Namun, susu plain tetap tidak boleh diberikan berlebihan. Susu adalah pelengkap asupan, bukan pengganti makanan utama. Anak tetap membutuhkan makanan pokok, lauk berprotein, sayur, buah, sumber lemak sehat, dan air putih.

Apakah minuman berlabel rendah gula pasti sehat?

Tidak selalu. Minuman rendah gula dapat membantu mengurangi asupan gula, tetapi orang tua tetap perlu melihat keseluruhan kandungan produk.

Beberapa produk rendah gula mungkin menggunakan pemanis non-gula. Produk seperti ini tidak perlu menjadi pilihan utama harian anak hanya karena rendah kalori.

Selain itu, produk rendah gula belum tentu tinggi zat gizi. Minuman yang baik untuk anak tetap perlu dilihat dari kesesuaian usia, kandungan gizi, takaran saji, dan perannya dalam pola makan anak.

Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk hidrasi. Susu atau minuman bernutrisi lain dapat menjadi pelengkap bila sesuai kebutuhan.

Bagaimana dengan pemanis non-gula?

Pemanis non-gula adalah pemanis yang memberikan rasa manis dengan kalori rendah atau tanpa kalori. Contohnya aspartam, sukralosa, sakarin, stevia, dan pemanis lain.

Meski beberapa pemanis non-gula diizinkan penggunaannya dalam batas tertentu, minuman dengan pemanis non-gula tidak perlu dijadikan pilihan rutin untuk anak.

Alasannya, anak berpotensi menjadi terbiasa dengan rasa yang sangat manis. Kebiasaan ini bisa membuat anak sulit menerima air putih atau minuman dengan rasa alami.

Untuk anak, pendekatan yang lebih baik adalah membiasakan air putih, membatasi minuman manis, dan memilih minuman bernutrisi yang sesuai usia.

Bila anak memiliki kondisi medis tertentu seperti diabetes, obesitas, atau kebutuhan diet khusus, pilihan pemanis sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.

Cara mengurangi gula tambahan pada minuman anak

Mengurangi gula tambahan tidak harus dilakukan secara drastis. Perubahan bertahap sering kali lebih mudah diterima anak.

1. Biasakan air putih sebagai minuman utama

Sediakan air putih di rumah, dalam tas sekolah, dan saat bepergian. Gunakan botol minum yang disukai anak agar ia lebih tertarik minum.

Orang tua juga perlu memberi contoh dengan minum air putih secara rutin.

2. Kurangi minuman manis secara bertahap

Jika anak sudah terbiasa minum manis setiap hari, kurangi frekuensinya pelan-pelan. Contohnya, dari setiap hari menjadi beberapa kali seminggu, lalu menjadi satu kali seminggu, dan seterusnya.

Pengurangan secara bertahap dapat membantu anak beradaptasi tanpa merasa terlalu dibatasi.

3. Pilih porsi yang lebih kecil

Jika anak ingin mengonsumsi minuman manis, pilih ukuran gelas yang lebih kecil dan jangan menjadikannya kebiasaan harian.

Ajarkan anak bahwa minuman manis bukan minuman utama, melainkan minuman yang hanya boleh dikonsumsi sesekali demi kesehatannya.

4. Pilih susu atau minuman tanpa gula tambahan

Untuk minuman berbasis susu, orang tua dapat mempertimbangkan varian plain atau tanpa gula tambahan bila sesuai usia dan kebutuhan anak.

Namun, tetap baca label karena produk tanpa gula tambahan masih dapat mengandung gula alami seperti laktosa.

5. Batasi jus dan pilih buah utuh

Buah utuh lebih dianjurkan dibanding jus karena mengandung serat dan membuat anak lebih kenyang.

Jika Anda memberikan jus buah kepada anak, berikan dalam porsi kecil, tanpa tambahan gula, dan tidak menggantikan buah utuh maupun air putih.

6. Hindari menyimpan banyak minuman manis di rumah

Anak lebih mudah meminta minuman manis bila selalu tersedia. Batasi stok minuman manis dan sediakan pilihan lain seperti air putih, buah, atau susu plain sesuai kebutuhan.

7. Jangan menjadikan minuman manis sebagai hadiah utama

Jika minuman manis selalu dijadikan hadiah, anak dapat menganggapnya sebagai sesuatu yang lebih istimewa dibanding pilihan lain.

Sebagai gantinya, berikan apresiasi dalam bentuk pujian, waktu bermain bersama, atau aktivitas yang disukai anak.

8. Libatkan anak saat membaca label

Jika anak sudah lebih besar, orang tua dapat mengajaknya membaca label kemasan makanan bersama.

Misalnya, tunjukkan jumlah gula per kemasan dan jelaskan bahwa gula tambahan perlu dibatasi agar tubuh tetap sehat. Cara ini membantu anak belajar membuat pilihan dengan lebih cermat.

Minuman apa yang sebaiknya menjadi pilihan anak?

Untuk anak, pilihan minuman sebaiknya disusun berdasarkan kebutuhan dan frekuensi.

  • Pilihan utama: air putih menjadi pilihan utama dan dapat diberikan setiap saat.
  • Pilihan pelengkap: susu anak dapat diberikan sesuai usia dan kebutuhan anak dalam porsi yang wajar.
  • Pilihan terbatas: jus buah 100% sebaiknya diberikan secara terbatas. Utamakan konsumsi buah utuh.
  • Perlu dibatasi: minuman berpemanis tambahan, soda, minuman kemasan, minuman berperisa, minuman boba, minuman berenergi, dan minuman berkafein sebaiknya tidak menjadi pilihan konsumsi harian anak.

Contoh cara mengatur minuman anak dalam sehari

Berikut contoh sederhana yang dapat disesuaikan dengan usia, aktivitas, dan kebiasaan anak.

  • Pagi hari: air putih setelah bangun tidur. Susu plain atau minuman bernutrisi sesuai kebutuhan dapat diberikan sebagai pelengkap sarapan.
  • Di sekolah: air putih dalam botol minum sebagai pilihan utama. Bila membawa minuman kemasan, pilih yang sesuai usia, aman, dan tidak tinggi gula tambahan.
  • Setelah bermain: air putih untuk mengganti cairan yang hilang. Jika anak membutuhkan camilan, padukan dengan buah atau makanan ringan bergizi.
  • Sore hari: bila anak ingin minuman lain, pilih susu atau minuman bernutrisi dalam porsi wajar. Hindari minuman manis terlalu dekat dengan waktu makan malam.
  • Malam hari: air putih secukupnya. Hindari minuman manis dan berkafein menjelang tidur karena dapat mengganggu kebiasaan tidur dan kesehatan gigi.

Tanda anak mungkin terlalu sering mengonsumsi minuman manis

anak minum soda

Orang tua dapat mengevaluasi kebiasaan minum anak bila muncul pola berikut.

  • Anak lebih sering memilih minuman manis dibanding air putih.
  • Anak menolak air putih karena dianggap tidak enak.
  • Anak hampir setiap hari mengonsumsi teh manis, minuman rasa buah, soda, atau minuman kemasan manis.
  • Anak sering meminta makanan atau minuman manis sebagai hadiah.
  • Anak sering minum manis di antara waktu makan dan menjadi tidak lapar saat makan utama.
  • Anak mengalami karies gigi berulang.
  • Berat badan anak naik berlebihan atau tidak sesuai kurva pertumbuhan.

Tanda-tanda tersebut tidak selalu disebabkan oleh gula saja, tetapi dapat menjadi alasan untuk memperbaiki kebiasaan minum dan pola makan anak.

Kapan orang tua perlu berkonsultasi dengan dokter?

Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter bila anak memiliki berat badan berlebih, berat badan sulit naik, sering mengalami karies gigi, sangat sulit mengurangi minuman manis, atau hanya mau minum minuman tertentu.

Konsultasi juga diperlukan bila anak mengalami gejala setelah minum susu atau minuman tertentu, seperti diare, kembung, nyeri perut, muntah, ruam, gatal, batuk berulang, atau sesak.

Jika anak memiliki diabetes, obesitas, gangguan ginjal, alergi susu sapi, intoleransi laktosa, atau kondisi medis lain, pilihan minuman sebaiknya disesuaikan dengan anjuran dokter atau ahli gizi.

Dokter dapat melakukan anamnesis pola makan, pemeriksaan fisik, penilaian status gizi, evaluasi kurva pertumbuhan, pemeriksaan gigi bila diperlukan, dan pemeriksaan penunjang sesuai kondisi anak.

Cara terbaik untuk mengatur asupan gula anak adalah membaca label, memperhatikan takaran saji, memahami komposisi, membatasi minuman manis, memilih air putih sebagai minuman utama, dan memberikan minuman bernutrisi sesuai usia dalam porsi wajar.

Bila anak memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sulit mengurangi minuman manis, konsultasikan dengan dokter agar pola minum dan asupan gizinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

medical
Hello Sehat Medical Review Team
Ditinjau secara medis oleh
Kesehatan · None
Ditulis oleh Hello Sehat Medical Review Team · Tanggal diperbarui 11 jam lalu