Perkembangan Kemampuan Sensorik Anak Balita Usia 2-5 Tahun

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 September 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Kemampuan sensorik anak balita merupakan salah satu kemampuan dalam perkembangan anak yang harus dimiliki dan diasah sebagai bekal untuk dewasa nanti. Kemampuan ini sering menjadi bahan diskusi banyak pihak karena sangat penting untuk perkembangan anak. Sebenarnya, apa itu sensorik dan seberapa penting untuk tumbuh kembang anak? Berikut penjelasan tentang sensorik anak balita secara rinci.

Apa itu kemampuan sensorik anak balita?

Therapysolutionforkids menjelaskan bahwa sensorik adalah proses yang mengacu pada kemampuan otak untuk menerima, menafsirkan, dan menggunakan informasi secara efektif yang disalurkan melalui panca indera, yaitu:

  • Penglihatan
  • Pendengaran
  • Penciuman
  • Rasa
  • Sentuhan
  • Gerakan

Kemampuan sensorik anak balita berpengaruh pada keterampilan bahasa, sosial, kosakata, pemecahan masalah, dan koordinasi. Bila ada masalah dengan kemampuan sensorik anak, maka keterampilan si kecil akan ikut terganggu.

Bagaimana kemampuan sensorik anak balita?

Hal yang perlu Anda perhatikan yaitu setiap anak memiliki kemampuan sensorik yang berbeda dan tidak bisa disamakan antara anak satu dan lainnya. Membandingkan kemampuan si kecil dengan temannya bukan hal baik karena bisa membuat anak tertekan bahkan sampai stres.

Maka, untuk mengetahui perkembangan kemampuan sensorik anak balita sesuai usia, berikut beberapa hal yang bisa menjadi panduan.

Kemampuan sensorik anak balita 2-3 tahun

Dalam situs Childdevelopment dijelaskan bahwa kemampuan sensorik anak usia 2-3 tahun meliputi:

  • Mampu fokus selama 3 menit.
  • Duduk sendiri sambil mengamati buku anak yang dilihatnya.
  • Bisa memakai toilet dengan arahan dari orang lain.
  • Menunjuk dan mengucapkan bagian tubuh boneka yang Anda tanyakan.
  • Mencocokan bentuk benda yang sama.

Kemampuan sensorik anak balita 3-4 tahun

Pada dasarnya, kemampuan sensorik anak berbeda-beda setiap anak, tapi umumnya balita usia 3-4 tahun mampu melakukan beberapa hal ini:

  • Mencocokan gambar.
  • Mengerti konsep bergantian dan bergiliran.
  • Mengekspresikan emosi yang ada di dalam dirinya.
  • Mampu memakai pakaian sendiri, termasuk kancing dan ritsleting.
  • Bisa makan sendiri tanpa bantuan orang lain dan tidak merasa kesulitan.
  • Bermain bersama teman-teman.

Kemampuan sensorik anak balita 4-5 tahun

Kemampuan sensorik anak balita berhubungan dengan panca indera yang ada dalam tubuh manusia. Demikian juga, antara kemampuan sensorik dan emosional anak juga memiliki hubungan erat. Untuk kemampuan sensorik anak balita usia 4 tahun, umumnya sudah mampu melakukan beberapa hal:

  • Menghitung 1-10.
  • Mengetahui bentuk (seperti lingkaran, balok, segitiga, kotak).
  • Sudah bisa menjalin pertemanan dengan anak seusianya.
  • Sudah mengerti dan mampu mengikuti aturan dalam permainan.

Bagaimana cara melatih kemampuan sensorik anak balita?

Ada banyak cara untuk melatih kemampuan sensorik anak balita. Permainan menjadi sarana terbaik agar anak tidak bosan dan antusias saat sedang berlatih. Berikut beberapa permainan yang bisa Anda lakukan bersama si kecil untuk melatih sensoriknya, sesuai dengan usia anak:

Cara melatih kemampuan sensorik anak balita 2-3 tahun

Permainan yang dapat Anda lakukan bersama si kecil, seperti:

Bermain cat air

Saat Anda membuat permainan untuk melatih sensorik anak balita, otomatis rumah akan lebih berantakan, salah satunya permainan cap tangan. Di usia perkembangan anak 24 bulan atau 2 tahun, anak sedang menyukai sesuatu yang berwarna cerah dan mencuri perhatian. Anda bisa membuat permainan anak yang seru dari sini.

Melansir dari Rasmussen, siapkan pewarna makanan atau cat air dengan warna mencolok seperti merah, kuning, biru, hijau, dan kertas atau karton sebagai sarana anak mencetak jarinya. Biarkan indera penglihatan anak dan sentuhan anak merasakan cat air melalui jarinya yang mungil. Ini bisa menjadi karya seni yang disimpan untuk kenang-kenangan ketika ia dewasa nanti.

Cara melatih kemampuan sensorik anak balita 3-4 tahun

Beberapa permainan yang dapat dicoba untuk melatih kemampuan sensorik anak, yaitu:

Bermain pasir

Di usia  perkembangan anak 36 bulan atau 3 tahun, anak sudah tidak lagi memasukkan benda asing ke dalam mulut. Ini saat yang tepat untuk bermain pasir untuk melatih kemampuan sensorik anak balita. Dilansir dari Parentcircle, pasir salah satu sarana terbaik untuk mengasah sensorik anak yang bisa dibuat menjadi berbagai macam bentuk. 

Saat ini ada banyak pasir mainan yang dijual di pasaran yang bisa dijadikan alat permainan si kecil untuk mengasah kemampuan sensorik anak balita. Ketika anak bermain pasir, ia belajar mengenal tekstur lewat telapak tangan dan kakinya. Tidak perlu takut kotor, karena pasir mainan ini sifatnya mudah dibersihkan dan beberapa aman bila dipakai si kecil.

Cara yang dapat Anda lakukan yaitu memasukkan pasir pantai ke dalam kotak kecil. Kemudian, biarkan anak Anda bermain di sana bersama imajinasi anak dan menjelajahi tekstur pasir. Buat permainan menjadi lebih seru dengan bermain harta karun. Sembunyikan benda kecil di balik pasir, misalnya action figure atau jam tangan, lalu minta anak Anda menemukan benda yang Anda sembunyikan.

Saat sedang bermain, anak menggunakan indera penglihatan dan sentuhan untuk menemukan objek yang Anda sembunyikan. Belajar mengasah kemampuan sensorik anak balita sambil bermain tidak akan terasa membosankan.

Bermain memasang kancing

Untuk mendukung permainan ini, bahan-bahan yang diperlukan adalah kancing berukuran besar dengan warna cerah dan tali yang cukup tebal untuk dimasukkan ke lubang kancing. Selain mengasah sensorik anak balita, permainan ini juga melatih fokus anak. Ia akan berpikir bagaimana cara memasukkan tali ke dalam lubang kancing yang kecil.

Kalau anak terlihat bosan, Anda bisa mencoba bermain mencocokkan warna kancing. Minta si kecil untuk mengelompokkan kancing sesuai warna, misalnya kuning dengan kuning, hijau, dan merah. Ini membantu anak untuk mengoordinasikan sesuatu sesuai warna yang sudah ia ketahui dan melatih kemampuan sensorik anak balita.

Cara melatih kemampuan sensorik anak balita 4-5 tahun

Setidaknya ada tiga jenis permainan yang dapat Anda lakukan untuk melatih kemampuan sensorik anak balita usia 4-5 tahun, yaitu:

Bermain tebak-tebakan bentuk

Bila anak bosan dengan permainan sudah terlalu sering dimainkan, Anda bisa mencoba bermain tebak-tebakan dengan ‘kotak ajaib’ bersama si kecil. Alat yang dibutuhkan hanya benda atau buah-buahan yang bisa dipegang dan kotak tertutup yang memiliki lubang seukuran tangan. 

Minta anak untuk memasukkan tangannya ke dalam kotak, lalu sentuh benda yang ada di dalamnya. Biarkan anak menebak benda tersebut dengan memakai indera sentuhan tangan. Kalau kesulitan mencari kotak, Anda bisa menutup mata si kecil dan membiarkan anak mencium aroma dari benda yang dipegangnya. Ini salah satu permainan yang bisa melatih kemampuan sensorik anak balita usia 4-5 tahun.

Bermain balok

Permainan ini bisa mengasah kemampuan sensorik anak balita karena si kecil belajar untuk menggenggam balok, menyusunnya, dan membuat bentuk lain. Tidak hanya itu, warna balok yang beragam mengasah rangsangan kognitif dan panca indera anak.

Hal ini juga bisa membuat si kecil bisa mulai belajar membedakan warna yang ada di depannya. Tentu, ini akan meningkatkan sensorik anak balita.

Belajar memakai sepatu sendiri

Anak usia 4-5 tahun sudah ingin mandiri dengan melakukan beberapa hal sendiri, misalnya makan, minum, menyimpan pakaian, atau memakai pakaian. Anda bisa melatih sensorik anak balita dengan mengajaknya belajar memakai sepatu sendiri, tanpa posisi terbalik.

Tidak jarang, ketika si kecil memakai sepatu atau sandal, posisinya terbalik, yang di kiri jadi di kanan. Kegiatan ini merangsang sensorik anak balita untuk mengenal tekstur lain yang ada di sepatu dan melatih kerangka berpikir si kecil.

Perhatikan perkembangan kemampuan sensorik anak balita Anda sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas. Jika Anda melihat ada beberapa kemampuan yang belum dicapai si kecil atau Anda merasa khawatir, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Agar Tidak Bingung, Berikut Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

Sebagai orangtua baru, tak perlu takut saat memandikan bayi, Berikut panduan atau cara memandikan bayi baru lahir untuk Anda praktikkan.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 25 Juni 2020 . Waktu baca 9 menit

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Membentak anak dapat memberikan dampak yang buruk. Apa akibat dari anak terlalu sering dibentak dan apa yang harus dilakukan orangtua?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Parenting, Tips Parenting 22 Juni 2020 . Waktu baca 8 menit

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Vitamin Terbaik untuk Sistem Pencernaan Anak

Vitamin merupakan salah satu nutrisi yang penting untuk kesehatan sistem pencernaan anak. Lantas, jenis vitamin mana yang paling baik? Lihat di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Parenting, Nutrisi Anak 23 April 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

perkembangan anak 16 tahun

Perkembangan Anak Usia 16 Tahun, Bagaimana Tahapan yang Sesuai?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 27 September 2020 . Waktu baca 6 menit
syok anafilaksis adalah

Syok Anafilaksis, Reaksi Alergi Parah yang Membahayakan Nyawa

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 28 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit
kepala bayi terbentur

Yang Harus Dilakukan Saat Kepala Bayi Terbentur

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit
kejang demam pada anak

Kejang Dengan Demam (Kejang Febrile)

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 21 Juli 2020 . Waktu baca 6 menit