Tak Perlu Ngoceh Panjang, Disiplinkan Si Kecil Dengan Metode Time Out

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 24 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Metode time out adalah cara mendisiplinkan anak dengan memberi waktu bagi anak untuk merenungkan kesalahannya. Cara ini menarik banyak perhatian orang tua karena jauh dari “main tangan” alias kekerasan fisik atau mengomel panjang lebar. Sebenarnya, seperti apa metode time out itu? Yuk, ikuti panduaannya berikut saat memberikan hukuman bagi anak.

Mendisiplinkan anak dengan metode time out

Anak-anak sering kali melakukan kesalahan dan membuat Anda mengelus dada. Agar jera, Anda tentu perlu strategi dalam mendisiplinkan anak, salah satunya dengan metode time out.

Tujuan time out bukan menyiksa anak dengan mengurungnya di suatu tempat, tapi melatih anak untuk belajar menenangkan diri, sekaligus melepaskan kemarahan dan kekesalannya.

Metode ini biasanya diterapkan orangtua saat si kecil memasuki usia 2 tahun ke atas. Pada usia tersebut, buah hati Anda sudah mampu mengontrol diri jauh lebih baik dan sudah memahami apa saja konsekuensinya jika ia melakukan kesalahan. Ini bisa membuat metode time out jadi cara ampuh untuk mendisiplinkan anak.

Jangan khawatir, supaya metode time out berhasil, Anda perlu perhatikan beberapa aturannya berikut ini.

 1. Pilih waktu dan tempat yang sesuai

penyakit saraf pada anak

Saat Anda menerapkan metode time out, langkah pertama yang Anda lakukan adalah memilih tempat yang sesuai. Pastikan anak jauh dari lalu lalang orang rumah, suara televisi, mainan, atau pun bentuk gangguan lainnya. Tempat yang tenang tersebut pasti membuat anak bosan dan mau tidak mau merenungkan kesalahannya.

Walaupun Anda memerintahkan anak untuk “menyendiri”, bukan berarti Anda meninggalkan anak tanpa pengawasan begitu saja. Anda tetap harus pasang mata, tapi tidak secara langsung mondar-mandir di sekitar. Cukup sesekali mengintip, tapi jangan sampai terjadi tatap mata antara Anda dengan anak.

Setelah Anda memutuskan area time out, tentukan berapa lama anak harus merenungkan keselahannya. Dilansir dari laman Parents, aturan waktu yang paling aman adalah satu menit per tahun dari usia anak. Bila si kecil berusia 2 tahun, maka ia harus merenungkan keselahannya sendiri selama dua menit. Jika Anda merasa waktu tersebut tidak cukup, Anda bisa menambah durasi sebanyak dua menit lagi.

Cara mudah untuk mempraktikkannya adalah pilih sudut kamar kosong, sediakan kursi, dan hadapkan anak menghadap tembok, memunggungi keluarga.

2. Pakai metode ini pada momen yang tepat

anak tantrum manfaat

Meskipun metode ini bisa berhasil, terlalu sering menerapkannya bisa membuat anak jadi kebal. Itu artinya metode time out tidak lagi ampuh dan Anda harus mencari cara lain untuk mendisiplinkan sikapnya. Anda mungkin harus menegaskan bahwa metode ini hanya dilakukan jika anak mulai tantrum, memukul atau menggigit temannya, atau melempar barang.

Jika kesalahannya karena main lupa waktu, lupa mengerjakan tugas harian rumah, atau buang sampah sembarang, sebaiknya terapkan hukuman lain yang lebih cocok. Anda bisa menghukum anak dengan mengurangi jam mainnya untuk membantu Anda bersih-bersih rumah, menyiram tanaman, atau menyuruhnya belajar.

3. Patuhi aturan mainnya

anak menggigit

Agar metode mendisiplinkan anak ini efektif, Anda perlu mengikuti beberapa aturannya, seperti:

  • Beri anak peringatan lebih dulu. Saat anak mulai menunjukkan tanda-tanda tantrum, berikan anak peringatan lebih dulu, misalnya “Kakak jangan lempar-lempar mainan, nanti mainannya rusak. Kalo nggak mau nurut, Mama suruh ke kamar, ya.”
  • Berikan anak penjelasan kenapa ia harus berdiam diri. Jika anak mengabaikan peringatan Anda, minta anak untuk pergi ke area time out. Kemudian, jelaskan apa saja alasan ia harus dibiarkan duduk merenung sendiri.
  • Setel pengatur waktu. Durasi time out haruslah Anda atur. Jangan sampai terlalu cepat atau pun terlalu lama. Selama waktu-waktu tersebut, pastikan Anda meninggalkan anak sendiri, tidak mengajaknya bicara, atau menanggapi rengekannya.
  • Ajari anak untuk mengakui kesalahan dan minta maaf. Setelah waktu time out habis, segera tanyakan pada anak apa saja kesalahannya. Minta anak untuk meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
  • Maafkan, beri pelukan, dan lupakan. Setelah anak mengucapkan maaf dan menunjukkan penyesalan, jangan lupa mengajari dan beri contoh anak untuk memaafkan kesalahan orang lain. Kemudian, peluk dan tunjukkan kembali kasih sayang Anda. Hukuman dan mendisiplinkan anak cukup sampai di situ saja, Anda tidak perlu lagi mengoceh panjang lebar. Biarkan anak kembali beraktivitas seperti biasanya dan suasana jadi hangat kembali.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Cara Mengatasi Kebiasaan Anak Mengemut Makanan

Kebiasaan anak mengemut makanan dalam waktu lama tanpa menelan, tentu sangat mengganggu. Anda perlu mencoba cara berikut ini untuk mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Anak 1-5 Tahun, Gizi Balita, Parenting 16 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Bebaskan Si Kecil Berjalan “Nyeker” untuk Memperkuat Tulang Kakinya

Melihat si kecil yang sibuk kesana kemari berjalan tanpa alas kaki sering membuat orangtua khawatir. Padahal, jalan nyeker bagus untuk kesehatan anak, lho!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 11 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Berapa Lama Waktu Bermain Video Game yang Pas untuk Anak?

Video game dapat memberi manfaat. Namun tanpa batasan waktu, bermain video game bisa berakibat buruk pada anak. Berapa lama waktu ideal bermain video game?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Orangtua Wajib Rutin Berkomunikasi Dengan Anak?

Komunikasi dengan anak bukan hanya berbasa-basi dan berbicara, tetapi juga mendengarkan keluh kesah anak. Ini adalah kunci penting kualitas hubungan Anda.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Memahami Tumbuh Kembang Gigi dan Rahang Anak

7 Trik Membujuk Anak Agar Tak Takut ke Dokter Gigi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
menonton tv terlalu dekat

Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
bayi pakai empeng isap jempol

Empeng Versus Isap Jempol, Mana yang Lebih Baik untuk Si Kecil?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
memberikan hadiah ke anak

Aturan Memberikan Hadiah ke Anak Agar Tak Berdampak Negatif

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit