backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

3 Cara Mengenali Tanda-Tanda Anemia pada Anak

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Fatin Nur Jauhara · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

3 Cara Mengenali Tanda-Tanda Anemia pada Anak

Anak-anak merupakan salah satu kelompok usia yang rentan alami anemia. Melansir dari Kementerian Kesehatan RI, 1 dari 3 anak usia di bawah lima tahun mengalami anemia. Kondisi anemia yang dibiarkan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan pada si Kecil. Oleh sebab itu, Bunda perlu mewaspadai tanda-tanda anemia pada si Kecil dan melakukan pencegahannya sedini mungkin.

Apa itu anemia dan dampaknya pada si Kecil?

Hemoglobin merupakan bagian penting dalam sel darah merah. Hemoglobin mengandung zat besi dan berfungsi untuk mengangkut oksigen dalam darah serta menyalurkannya dari paru-paru ke seluruh tubuh.

Saat tubuh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin, maka kondisi anemia terjadi. Anemia dapat terjadi karena beberapa hal, seperti:

  • pembentukan sel darah merah yang tidak mencukupi,
  • banyak sel darah merah yang mengalami penghancuran atau rusak, dan
  • perdarahan.

Meski demikian, kekurangan zat besi menjadi penyebab anemia yang paling sering terjadi.

Zat besi memiliki peran penting dalam pertumbuhan anak, tidak hanya untuk memproduksi hemoglobin, tetapi juga berperan dalam metabolisme energi, pertumbuhan, perkembangan dan fungsi syaraf.

Oleh sebab itu, mengutip dari Mayo Clinic, risiko gangguan tumbuh kembang akan meningkat saat anak alami anemia kekurangan zat besi.

Berdasarkan sebuah studi yang dimuat dalam Indian Journal of Endocrinology and Metabolism, kekurangan zat besi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan tinggi badan dan perkembangan kognitif. 

Dalam studi yang sama dijelaskan bahwa kekurangan oksigen di dalam sel tubuh dapat menghambat hormon pertumbuhan yang disebut IGF-1 (insulin like growth factor-I). Hal ini dapat menyebabkan tinggi badan si Kecil yang lebih rendah dari anak seusianya.

Selain itu, kekurangan zat besi juga dapat menyebabkan penurunan oksigen pada otak sehingga menghambat pertumbuhan cabang sel otak. Kondisi ini bisa berdampak pada melemahnya daya tangkap dan terlewatnya tonggak tumbuh kembang anak.

Tahukah Anda?

Melansir dari Kementerian Kesehatan RI, anemia kekurangan zat besi juga berpotensi mengganggu sistem kekebalan tubuh si Kecil sehingga meningkatkan risiko terjadinya infeksi.

Anemia kekurangan zat besi pada anak paling sering terjadi karena asupan zat besi yang tidak cukup dari makanannya. Pasalnya, Anak-anak membutuhkan lebih banyak zat besi pada masa pertumbuhannya.

Pada dasarnya, si Kecil memiliki simpanan zat besi saat lahir. Namun, proses pertumbuhan yang cepat menyebabkan Ia perlu menyerap zat besi lebih banyak setiap harinya. Kondisi anemia kekurangan zat besi ini umumnya terjadi pada bayi usia sembilan sampai 24 bulan.

Nah, untuk memenuhi kebutuhan zat besi yang meningkat sejak usia 6 bulan, Bunda perlu memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang kaya akan zat besi mulai dari si Kecil usia 6 bulan.

Mengenali tanda-tanda anemia pada anak

Kondisi anemia kekurangan zat besi seringkali tidak disadari oleh orang tua karena tanda-tandanya sulit dikenali. Padahal, anemia kekurangan zat besi perlu ditangani dengan segera dan tepat agar dampaknya bisa dihindari.

Untuk memastikan kondisi anemia, anak perlu melakukan tes invasif atau pengambilan darah di laboratorium. 

Melansir dari Medscape, anak usia enam bulan hingga enam tahun dengan kadar hemoglobin di bawah 11 g/dl, termasuk kedalam kondisi anemia.

Di samping tes invasif, untuk mempermudah Bunda dalam mencegah anemia kekurangan zat besi, Bunda bisa mengamati tanda-tanda anemia kekurangan zat besi berikut. 

1. Memeriksa telapak tangan dan warna dasar alas kuku

periksa telapak tangan

Tanda-tanda anemia yang pertama dapat dilihat dari warna telapak tangan dan warna dasar alas  kuku.

Umumnya, anak yang memiliki kadar hemoglobin normal akan memiliki telapak tangan dan dasar alas  kuku berwarna merah muda sampai kemerahan. 

Namun, anak dengan anemia kekurangan zat besi akan memiliki telapak tangan dan dasar alas kuku berwarna  pucat.

Warna pucat pada telapak tangan dan dasar alas kuku dapat terjadi karena kurangnya kadar protein di sel darah merah untuk mengangkut oksigen alias hemoglobin (Hb).

Untuk memastikannya, Bunda bisa bandingkan derajat kemerahan telapak tangan dan warna dasar alas  kuku sendiri dengan si Kecil.

2. Memeriksa warna bagian dalam kelopak bawah mata

Tanda-tanda anemia selanjutnya dapat diketahui dari warna kelopak bawah mata anak. Normalnya, bawah kelopak mata akan berwarna merah cerah.

Namun, pada anak dengan anemia kekurangan darah, bawah kelopak mata dapat berwarna pucat atau bahkan kekuningan.

Untuk memeriksanya, Bunda bisa meminta si Kecil untuk melihat ke arah atas kemudian perlahan tarik bagian kantung mata sehingga kelopak bawah mata terlihat.

3. Memeriksa warna lidah

Tanda-tanda anemia terakhir dapat diperiksa dari warna di permukaan lidah. Umumnya, warna permukaan lidah yang sehat adalah merah muda dengan sedikit corak berbeda, . Namun, pada anak dengan anemia, permukaan lidah dapat cenderung berwarna lebih pucat .

Memeriksa warna lidah terkadang dapat menjadi tantangan tersendiri karena sulit membedakan warna lidah yang sehat dan anemia.

Oleh sebab itu, Bunda bisa membandingkan warna lidah si Kecil dengan sendok yang cerminkan warna lidah ideal, yaitu sendok lidah CERELAC.

Sendok lidah CERELAC dibuat berdasarkan riset dari ratusan warna lidah anak Indonesia (kadar hb normal) sehingga dapat menjadi pembanding warna ideal lidah dan tanda zat besi si Kecil terpenuhi.

Sendok ini aman digunakan setiap hari karena terbuat dari bahan food grade dan telah melalui proses pengujian yang ketat.

Untuk itu, gunakan sendok lidah CERELAC ketika menyuapi si Kecil makan kemudian bandingkan warna pada sendok dengan lidah si Kecil. 

Bila terdapat perbedaan warna yang signifikan apalagi diikuti dengan gejala anemia kekurangan zat besi, seperti rewel, tidak nafsu makan, nafas pendek, dan selalu terlihat lemah/lesu, kurang aktif segera periksakan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. 

Namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan ya Bun, misalnya jika sendok terkena makanan lain sehingga warnya nya terpengaruh, atau si Kecil habis mengkonsumsi makanan yang mempengaruhi warna lidahnya.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Fatin Nur Jauhara · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan