Mencegah Obesitas Sarcopenia di Usia Paruh Baya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Sarcopenia adalah suatu fenomena hilangnya massa dan kekuatan otot seiring dengan pertambahan usia, dan ini merupakan bagian dari proses penuaan. Meskipun sarcopenia terjadi dengan sendirinya, namun kondisi obesitas dapat memperburuk kondisi sarcopenia dan menyebabkan kematian dini akibat penyakit kardiovaskuler.

Obesitas sarcopenia merupakan suatu siklus

Obesitas sarcopenia sendiri didefinisikan sebagai adanya kondisi sarcopenia dan obesitas pada seseorang. Namun secara lebih spesifik hal ini terjadi saat seseorang mengalami penurunan massa otot dan kenaikan jaringan lemak dalam tubuh. Obesitas sarcopenia didiagnosis dengan rendahnya massa dan kekuatan otot seseorang saat ia mengalami obesitas, berdasarkan indeks massa tubuh maupun lingkar perut.

Siklus perkembangan obesitas sarcopenia dimulai saat terjadi proses penuaan, yang menyebabkan perubahan gaya hidup dan mengakibatkan penurunan massa otot, sekaligus meningkatkan lapisan lemak tubuh. Kondisi tersebut dapat memicu obesitas sehingga membatasi aktivitas fisik yang akhirnya berdampak pada penurunan msasa otot. Selanjutnya, penurunan massa otot atau kondisi sarcopenia juga akan mengurangi aktivitas fisik dan memperburuk kondisi obesitas.

Komplikasi akibat obesitas sarcopenia

Penurunan massa dan kekuatan otot menyebabkan kesulitan untuk bergerak, terlebih lagi kondisi obesitas dapat menyebabkan seseorang mudah terjatuh dan mengalami patah tulang. Mengalami kegemukan ataupun obesitas pada usia dewasa juga memperburuk kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta meningkatkan risiko mengalami diabetes mellitus saat lansia. Komplikasi tersebut tidak hanya dapat menurunkan kualitas kesehatan, namun juga membatasi lansia untuk beraktivitas fisik sehingga akan memperburuk kondisi obesitas sarcopenia dan meningkatkan risiko kematian dini.

Bagaimana obesitas dapat memicu hilangnya massa otot?

Sarcopenia pada umumnya terjadi pada lansia, namun terdapat beberapa mekanisme dari lemak berlebih yang dapat menurunkan masa otot dan mempercepat proses sarcopenia:

  1. Perubahan komposisi tubuh saat usia dewasa. Memasuki usia 30 tahun biasanya terjadi penurunan massa otot karena perubahan hormon dan aktivitas fisik, namun hal ini juga dapat diperburuk dengan pertambahan lapisan lemak. Ketidakseimbangan proporsi lemak dengan otot dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot, sedangkan lemak berlebih sejak usia muda maupun dewasa menyebabkan otak kesulitan mempertahankan massa otot hingga usia lanjut.
  2. Adanya peradangan yang dipicu lapisan lemak. Lapisan lemak tubuh adalah jaringan aktif yang memproduksi protein, salah satunya pro-inflammatory cytokines, yang memiliki efek negatif dalam mempertahankan massa otot dan meningkatkan jaringan lemak lebih banyak. Protein tersebut kemungkinan menjadi pemicu utama dalam siklus obesitas sarcopenia.
  3. Memicu resistensi insulin. Protein yang dihasilkan dari jaringan lemak dapat mengganggu kerja insulin hingga menyebabkan efek resistensi. Kondisi resistensi insulin selanjutnya akan memberikan efek katabolisme atau penguraian pada otot sehingga terjadi penurunan massa dan kekuatan otot.
  4. Menghambat hormon testosteron. Salah satu fungsi hormon testosteron adalah mempertahankan dan membantu pertumbuhan otot. Tetapi biasanya kadar hormon testosteron akan mengalami penurunan pada orang yang mengalami obesitas akibat terlalu banyak asam lemak yang dihasilkan oleh jaringan lemak.

Yang perlu dilakukan untuk mengatasi obesitas sarcopenia

Baik obesitas maupun sarcopenia sangat mungkin terjadi seiring dengan pertambahan usia, namun keduanya tetap perlu dicegah sebelum menyebabkan komplikasi. Berikut beberapa upaya yang menjadi fokus dalam mengatasi obesitas sarcopenia.

  • Menurunkan berat badan – merupakan upaya utama untuk mengatasi permasalahan sarcopenia dan obesitas, dan diperlukan untuk mencegah terjadinya komplikasi, Menurunkan berat badan sekitar 20% saja dapat membantu mengurangi beban tulang menahan lemak dan menurunkan resistensi insulin.
  • Beraktivitas fisik – perkembangan obesitas sarcopenia sangat dipengaruhi tingkat aktivitas fisik karena aktif bergerak dapat memperkuat otot dan mencegah terjadinya obesitas. Orang dewasa membutuhkan aktivitas fisik yang dapat mempertahankan massa otot, seperti latihan ketahanan dan membakar lemak secara efektif dengan olahraga aerobik.
  • Perbaikan pola makan – proses penuaan sering kali diikuti dengan hilangnya massa otot dan perubahan pola makan, sehingga tubuh kekurangan asam amino esensial dari protein. Maka diperlukan peningkatan asupan protein untuk mengganti berbagai sel yang rusak, setara dengan 25-30 gram protein setiap waktu makan dalam sehari. Selain itu, diet rendah karbohidrat juga diperlukan terutama pada lansia karena dapat menyebabkan efek negatif dalam penyerapan protein.

BACA JUGA:

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Langkah Mengatasi Kesepian, Agar Hidup Lebih Semangat

Jangan membiarkan kesepian terlalu lama menggerogoti Anda. Cari tahu cara mengatasi kesepian agar hidup Anda jauh lebih bahagia.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Tiba-tiba Sakit Kepala Setelah Keramas, Apa Penyebabnya?

Kalau muncul migrain atau sakit kepala setelah keramas, Anda mungkin bertanya-tanya apa artinya. Nah, ini dia berbagai penyebabnya. Simak baik-baik, ya!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Waspada Brazilian Blowout, Teknik Meluruskan Rambut dengan Formalin

Smoothing sudah menjadi cara lama untuk meluruskan rambut. Sekarang ada tren Brazilian blowout dengan metode baru. Benarkah lebih aman dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Perawatan Rambut & Kulit Kepala, Kesehatan Kulit 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Mengatasi Mimisan dengan Cepat, Mulai dari Bahan Alami hingga Obat Medis

Mimisan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, tapi Anda tak perlu panik. Berikut adalah berbagai obat mimisan alami yang ampuh hentikan perdarahan.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan THT, Gangguan Hidung 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

manfaat kayu secang

Sering Dijadikan Wedang, Jangan Lewatkan 4 Manfaat Hebat Kayu Secang

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
cara menghilangkan hitam di leher

Leher Hitam? Atasi dengan Cara Mudah Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
cara merangsang istri

Untuk Para Suami, Ini 10 Trik Memanjakan Istri Agar Lebih Bergairah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
telat datang bulan

Berapa Lama Telat Datang Bulan Dapat Menjadi Pertanda Kehamilan?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit