home

Artikel Bersponsor

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Diabetes Merupakan Efek dari Nonton Drama Korea, Benarkah?

Diabetes Merupakan Efek dari Nonton Drama Korea, Benarkah?

Bagi Anda penikmat drama Korea, saat menonton rasanya pasti sulit beranjak dan ingin menyelesaikan satu episode tanpa interupsi. Bahkan, ada juga yang melakukan binge-watching, istilah populer untuk menonton semua episode di satu serial drama secara berturut-turut.

Nah, bayangkan jika satu episode berdurasi satu jam, dan terdapat 16 episode dalam satu serial drama, maka Anda telah menghabiskan waktu 16 jam sehari untuk menonton. Tanpa disadari, kebiasaan menonton sampai lupa waktu yang mungkin Anda lakukan ini berbahaya untuk kesehatan diri Anda. Salah satu efek kesehatan akibat nonton drama Korea tanpa ingat waktu adalah peningkatan risiko diabetes. Kok bisa? Simak penjelasannya di bawah ini.

Bagaimana keterkaitan menonton drama Korea dengan diabetes?

Menonton merupakan salah satu kegiatan sedenter yang harus dibatasi. Pola hidup sedenter atau minim energi karena kurang aktif bergerak, seperti nonton drama Korea, terbukti dapat menimbulkan efek negatif pada kesehatan, seperti diabetes.

Kaitan antara pola hidup sedenter dan menonton pun telah dibahas di beberapa penelitian ilmiah.

Berdasarkan jurnal yang dipublikasikan di Diabetologia, orang-orang yang sering menghabiskan waktu secara sedenter berisiko terkena diabetes hingga 2,1 kali lipat lebih tinggi. Jurnal ini pun menemukan bahwa kelompok sedenter juga lebih berisiko terkena penyakit jantung hingga 2,4 kali lipat.

Sementara itu, hasil penelitian berjudul Television Viewing and Risk of Type 2 Diabetes, Cardiovascular Disease, and All-Cause Mortality A Meta-analysis, menunjukkan bahwa menonton selama dua jam per hari dapat meningkatkan risiko diabetes sebesar 20%.

Efek negatif dari menonton juga dibahas di studi tahun 2016. Hasilnya, ditemukan bahwa kelompok yang paling sering menonton berisiko terkena diabetes hingga 2,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang paling jarang menonton.

Dari tiga studi tersebut dapat disimpulkan bahwa peningkatan risiko diabetes berkaitan dengan kurangnya aktivitas fisik yang bisa disebabkan oleh terlalu lama nonton drama korea. Pasalnya, saat menonton kita cenderung tak bergerak dan memilih berbaring agar lebih menikmati drama Korea yang ditonton.

Selain itu, masih melansir dari Television Viewing and Risk of Type 2 Diabetes, Cardiovascular Disease, and All-Cause Mortality A Meta-analysis, menonton juga kerap diasosiasikan dengan pola makan yang tidak sehat saat menonton. Tanpa disadari, kita juga lebih sering mengonsumsi makanan tinggi kalori termasuk camilan tidak sehat sambil menonton.

Terlebih lagi, menonton sering membuat kita lupa waktu dan menyebabkan waktu tidur berkurang. Padahal, durasi tidur yang kurang juga merupakan salah satu faktor risiko diabetes.

Apa yang harus dilakukan untuk mengurangi efek diabetes akibat nonton drama Korea?

Cara paling tepat menekan efek tersebut dengan mengurangi waktu nonton drama Korea dan perbanyak bergerak. Anda dapat mengisi waktu luang dengan melakukan kegiatan lain yang mendorong Anda untuk lebih banyak bergerak, seperti berkebun atau berolahraga.

Penelitian membuktikan bahwa rutin berolahraga dapat menurunkan risiko diabetes. Oleh sebab itu, American Heart Association merekomendasikan Anda untuk rutin berolahraga intensitas sedang (berenang, jalan cepat, senam, dan bersepeda) minimal 150 menit per minggu. Sebaiknya, Anda kombinasikan juga dengan latihan beban sebanyak dua kali per minggu.

Sebagai pilihan lain, Anda juga bisa mengurangi efek nonton drama Korea sembari berolahraga. Misalnya, menonton sambil bersepeda statis, berjalan cepat di treadmill, senam, melakukan yoga ringan atau latihan beban.

Bila Anda menonton drama Korea di TV, alih-alih menggunakan remote untuk mengatur volume atau mengganti jenis serial drama korea, cobalah untuk bangun dan mengaturnya secara manual. Anda bisa menekan tombol yang ada di belakang atau samping TV.

Tak kalah penting, selalu perhatikan apa yang Anda makan saat menonton. Hindari camilan tinggi kalori dan tinggi gula yang bisa berdampak negatif terhadap kesehatan Anda, yang bisa tingkatkan risiko diabetes.

Untuk itu, Anda disarankan memilih camilan sehat yang bebas gula dan rendah kalori, tapi tetap nikmat rasanya. Misalnya, camilan cookies yang bebas gula dan berkalori rendah (100 kalori per saji).

Dengan begitu, Anda bisa menonton drama Korea sambil makan camilan dengan bebas tanpa harus merasa khawatir dengan risiko diabetes yang mengintai.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Wilmot, E., Edwardson, C., Achana, F., Davies, M., Gorely, T., & Gray, L. et al. (2012). Sedentary time in adults and the association with diabetes, cardiovascular disease and death: systematic review and meta-analysis. Diabetologia55(11), 2895-2905. https://doi.org/10.1007/s00125-012-2677-z

Grøntved, A. (2011). Television Viewing and Risk of Type 2 Diabetes, Cardiovascular Disease, and All-Cause Mortality. JAMA305(23), 2448. https://doi.org/10.1001/jama.2011.812

Joseph, J., Echouffo-Tcheugui, J., Golden, S., Chen, H., Jenny, N., & Carnethon, M. et al. (2016). Physical activity, sedentary behaviors and the incidence of type 2 diabetes mellitus: the Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA). BMJ Open Diabetes Research & Care4(1), e000185. https://doi.org/10.1136/bmjdrc-2015-000185

BLASS, E., ANDERSON, D., KIRKORIAN, H., PEMPEK, T., PRICE, I., & KOLEINI, M. (2006). On the road to obesity: Television viewing increases intake of high-density foods. Physiology & Behavior88(4-5), 597-604. https://doi.org/10.1016/j.physbeh.2006.05.035

Rudnicka, A., Nightingale, C., Donin, A., Sattar, N., Cook, D., Whincup, P., & Owen, C. (2017). Sleep Duration and Risk of Type 2 Diabetes. Pediatrics140(3), e20170338. https://doi.org/10.1542/peds.2017-0338

Piercy, K., & Troiano, R. (2018). Physical Activity Guidelines for Americans From the US Department of Health and Human Services. Circulation: Cardiovascular Quality And Outcomes11(11). https://doi.org/10.1161/circoutcomes.118.005263

Health Risks of an Inactive Lifestyle: MedlinePlus. Medlineplus.gov. (2017). Retrieved 24 June 2021, from https://medlineplus.gov/healthrisksofaninactivelifestyle.html.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nadhila Erin Diperbarui 06/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto
x