Banyak orang Indonesia melakukan puasa mutih dalam rangka ritual keagamaan. Berbeda dengan puasa Ramadan, puasa ini pada dasarnya yaitu menghindari makanan tertentu saja. Sebenarnya, apa itu puasa mutih? Adakah manfaat dan efek sampingnya?
Banyak orang Indonesia melakukan puasa mutih dalam rangka ritual keagamaan. Berbeda dengan puasa Ramadan, puasa ini pada dasarnya yaitu menghindari makanan tertentu saja. Sebenarnya, apa itu puasa mutih? Adakah manfaat dan efek sampingnya?

Puasa mutih adalah prinsip pola makan yang hanya memperbolehkan seseorang untuk mengonsumsi nasi putih dan air putih saja, tanpa lauk pauk apa pun.
Setiap orang melakukan puasa ini dalam jangka waktu tertentu dan berbeda-beda. Ada yang 3 hari bahkan ada yang sampai 40 hari, tergantung niat dan tujuan puasa itu sendiri.
Orang-orang Jawa menjalani puasa ini sebagai ritual untuk mendekatkan diri kepada Yang Kuasa atau dengan tujuan agar keinginannya terkabulkan.
Kurang lebih, puasa yang Anda lakukan sama aturannya dengan pola makan tinggi kandungan karbohidrat. Namun, apakah puasa jenis ini baik buat kesehatan tubuh?

Sebenarnya, belum ada penelitian yang benar-benar membuktikan manfaat kesehatan yang bisa Anda dapatkan dari menjalani puasa mutih.
Namun, puasa mutih sama saja dengan mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat.
Asupan tinggi karbohidrat dapat mempercepat proses metabolisme tubuh dan menyediakan sumber utama bahan bakar tubuh.
Sederhananya, puasa mutih dapat menghasilkan energi yang cepat untuk aktivitas fisik dalam jangka waktu yang pendek.
Beberapa ahli diet terkadang merekomendasikan asupan tinggi karbohidrat dan rendah lemak untuk beberapa kasus tertentu.
Efek yang ada pada tubuh sangat bergantung pada jenis karbohidrat yang dikonsumsi.
Ketika melakukan puasa ini, Anda hanya mengonsumsi nasi putih yang termasuk jenis karbohidrat sederhana, alias karbohidrat kosong.
Para peneliti menunjukkan bahwa makan makanan yang mengandung karbohidrat dapat berpotensi dalam menurunkan berat badan pada awal Anda menjalaninya.
Diet tinggi karbohidrat juga rata-rata aman dilakukan dalam kurun waktu yang sebentar.

Jika Anda melakukan pola makan tinggi karbohidrat tanpa pantauan ketat dari ahli gizi, hal ini dapat menyebabkan obesitas dan penyakit kronis, seperti diabetes.
Penelitian oleh tim dari Harvard School of Public Health menunjukkan bahwa makan nasi putih terlalu banyak bisa meningkatkan risiko terhadap penyakit gula darah tipe 2.
Pada penelitian tersebut, peserta yang makan 3 – 4 porsi nasi putih per hari memiliki kemungkinan 1,5 kali lebih banyak untuk menderita penyakit gula darah daripada peserta yang makan nasi lebih sedikit.
Hal ini kemungkinan terjadi karena adanya indeks glikemik yang ada dalam nasi putih. Indeks glikemik mengukur seberapa cepat makanan memengaruhi kadar gula Anda.
Nasi putih memiliki indeks glikemik tinggi. Artinya, nasi dengan cepat oleh menimbulkan peningkatan gula darah.
Belum lagi, karbohidrat sederhana seperti nasi putih yang terpecah dengan cepat bisa membuat Anda lebih cepat lapar.
Ketika tidak makan lauk apa pun selain nasi, Anda akan cenderung makan nasi putih lebih banyak.
Menimbang manfaat dan risiko kesehatan dari pola makan tinggi karbo seperti puasa mutih, ada baiknya Anda untuk tetap mengonsumsi vitamin atau suplemen.
Puasa ini relatif aman untuk dilakukan sesekali, tapi tidak disarankan untuk melakukannya lebih dari satu bulan atau bahkan menjadi gaya hidup yang rutin. Anda cukup melakukannya selama beberapa hari.
Selain Anda bisa kekurangan gizi, tubuh pun akan lebih mudah terserang penyakit yang bersumber dari kelebihan zat karbohidrat dan gula.
Baiknya beberapa waktu setelah “berpuasa”, Anda harus menggantinya dengan mengonsumsi sayuran, buah, kacang, daging rendah lemak, dan biji-bijian.
Dengan demikian, setidaknya kebugaran tubuh Anda tetap terjaga dan terpenuhi juga nutrisinya.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Koga, M., Toyomaki, A., Kiso, Y., & Kusumi, I. (2020). Impact of a Rice-Centered Diet on the Quality of Sleep in Association with Reduced Oxidative Stress: A Randomized, Open, Parallel-Group Clinical Trial. Nutrients, 12(10), 2926. https://doi.org/10.3390/nu12102926
Grim, Klemmer, Luft. (2014). Who and What Drove Walter Kempner? The Rice Diet Revisited. Retrieved 20 June 2023, from https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/HYPERTENSIONAHA.114.03946
Carbohydrates: How Carb Fit Into A Healthy Diet. (2022). Mayo Clinic. Retrieved 20 June 2023, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/carbohydrates/art-20045705
Eating White Rice Regularly May Raise Type 2 Diabetes Risk. (n.d.). Harvard T.H. Chan School of Public Health. Retrieved 20 June 2023, from https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10435117/
What is The Glycemic Index (GI)? (2018). National Health Service. Retrieved 20 June 2023, from https://www.nhs.uk/common-health-questions/food-and-diet/what-is-the-glycaemic-index-gi/
Versi Terbaru
21/06/2023
Ditulis oleh Winona Katyusha
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)