Diet Susu Dinilai Dapat Menurunkan Risiko Diabetes dan Hipertensi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Risiko diabetes dan hipertensi dapat mengintai siapa saja yang tidak menjaga kesehatan dan pola makannya. Cara efektif untuk menurunkan risiko kedua penyakit tersebut adalah menjalani gaya hidup sehat dan salah satunya bisa dicapai dengan melakukan diet tinggi susu.

Benarkah diet tinggi susu, terutama susu yang tidak ditambahi pemanis tambahan, dapat menurunkan risiko diabetes dan hipertensi? 

Diet susu bisa menurunkan risiko diabetes dan hipertensi

lansia susah makan / lansia minum susu

Susu dan produk susu merupakan makanan sehat yang menawarkan nutrisi karena berperan sebagai sumber kalsium dan vitamin D. Selain itu, susu juga dapat menjadi pelengkap untuk memenuhi kebutuhan protein dan zat gizi lainnya, seperti fosfor, kalium, dan vitamin A. 

Manfaat dari mengonsumsi susu dan produknya pun banyak. Mulai dari baik untuk pertumbuhan tulang dan gigi hingga mencegah kenaikan berat badan berlebih ditawarkan oleh susu. 

Terlebih lagi, menurut penelitian dari BMJ Open Diabetes Research and Care, diet susu bisa menurunkan risiko diabetes dan hipertensi. Penelitian yang dilakukan dalam skala besar ini menemukan bahwa konsumsi setidaknya dua produk susu setiap hari dikaitkan dengan risiko diabetes dan hipertensi yang rendah. 

Selain kedua penyakit tersebut, diet tinggi susu penuh lemak ini juga dihubungkan dengan beberapa faktor yang menjadi pemicu penyakit jantung. 

susu ensure

Di dalam penelitian ini para ahli mencoba menganalisis temuan tersebut dengan mengikutsertakan lebih banyak negara. Peserta yang mengikuti studi ini berusia antara 35-70 tahun dan berasal dari 21 negara, yaitu Argentina, Bangladesh, Brazil, Arab Saudi, Malaysia, hingga Swedia. 

Para peserta diminta untuk mengisi kuesioner tentang apa saja makanan yang biasa mereka makan selama 12 bulan terakhir. 

Konsumsi makanan tersebut termasuk produk olahan susu seperti susu, yogurt, minuman yogurt, keju, dan hidangan produk susu lainnya. Lalu, produk susu tersebut akan dibagi menjadi dua kategori, yaitu lemak penuh (full fat) dan rendah lemak (1-2%). 

Namun, untuk produk susu seperti mentega dan krim dianalisis secara terpisah karena terdapat negara yang tidak biasa mengonsumsi produk ini. 

Konsumsi susu dibandingkan dengan data komponen metabolik

risiko sindrom metabolik

Para peserta pun juga mengisi tentang informasi tentang riwayat penyakit, penggunaan obat, merokok, berat badan, hingga tekanan darah dan glukosa darah. Kemudian, data tersebut akan dibandingkan dengan kelima komponen metabolik yang tersedia untuk hampir 113.000 orang. 

  • tekanan darah di atas 130/85 mmHg
  • lingkar pinggang di atas 80 cm
  • kolesterol kepadatan tinggi (kurang dari 1-1,3 mmol/l)
  • lemak darah (trigliserida) lebih dari 1,7 mmol 
  • glukosa darah 5.5 mmol/l atau lebih

Hasilnya, sekitar 46.667 peserta mengalami sindrom metabolik yang diartikan dengan memiliki 3 dari 5 komponen di atas. Sindrom metabolik adalah gabungan kondisi yang terjadi di saat yang bersamaan. Misalnya, peningkatan tekanan darah, gula darah, kelebihan lemak hingga kenaikan kadar kolesterol. 

Para peneliti kemudian menyimpulkan bahwa diet tinggi susu kemungkinan besar dapat menurunkan risiko diabetes dan hipertensi. Setidaknya dengan 2 porsi produk susu dalam sehari dari total susu dapat dikaitkan dengan risiko sindrom metabolik 24 persen lebih rendah. 

susu dingin

Sementara itu, bagi mereka yang hanya minum susu penuh lemak angka tersebut meningkat hingga 28 persen dibandingkan dengan yang tidak mengonsumsi susu harian. 

Penelitian ini dilakukan selama sembilan tahun dan selama itu terdapat 13.640 peserta yang mengembangkan risiko tekanan darah tinggi dan 5.351 lainnya berpotensi terkena diabetes

Temuan dari penelitian ini menyimpulkan bahwa dua porsi susu dalam sehari dapat menurunkan risiko kedua penyakit tersebut hingga 11-12 persen. Kemudian, presentasenya juga dapat meningkat hingga 13-14 persen lebih rendah untuk tiga porsi dalam sehari. 

Walaupun demikian, penelitian ini belum menemukan apa yang menyebabkan diet tinggi susu menurunkan risiko diabetes dan hipertensi. Selain itu, perubahan sindrom metabolik juga tidak diukur dari waktu ke waktu, sehingga sangat mungkin memengaruhi temuan ini. 

Pilihan produk susu yang baik untuk kesehatan

minum susu saat sahur

Temuan di atas memang menunjukkan diet tinggi susu penuh lemak menurunkan risiko diabetes dan hipertensi. Namun, para ahli masih merekomendasikan agar orang dewasa lebih banyak mengonsumsi produk susu rendah hingga bebas lemak.

Penting untuk diingat pula bahwa susu yang baik dikonsumsi tidak mengandung pemanis tambahan, seperti gula pasir. 

Dilansir dari Harvard Health Publishing, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jenis susu tertentu justru dapat mencegah penyakit jantung. Hal ini dibuktikan melalui penelitian dari British Journal of Nutrition yang menemukan bahwa konsumsi produk susu yang sudah difermentasi mengurangi risiko penyakit arteri koroner. 

Penelitian tersebut juga mendukung temuan sebelumnya yang memperlihatkan adanya efek positif dari yogurt dan keju terhadap profil lipid darah dibandingkan produk susu lainnya. 

Manfaat dari diet susu memang disebut dapat menurunkan risiko diabetes dan hipertensi. Namun, jangan lupa untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui berapa batas konsumsi susu harian Anda agar tidak berlebihan dalam satu hari.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Seberapa Penting Minum Susu Hamil? (Plus Cara Memilih yang Tepat)

Minum susu hamil bisa jadi asupan pelengkap bagi ibu. Namun, seberapa penting manfaatnya dan saat usia kandungan berapa bulan meminumnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 28 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

7 Jenis Makanan yang Aman untuk Penderita Batu Empedu

Orang dengan batu empedu perlu memperhatikan asupan agar tetap sehat. Apa saja makanan yang aman untuk penderita batu empedu?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Empedu 25 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Minum Susu, Lebih Baik Sebelum Atau Sesudah Makan?

Kebanyakan orang lebih memilih minum susu di pagi hari atau sebelum tidur. Lalu kapan waktu terbaik minum susu siang-siang: sebelum atau setelah makan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Tips Makan Sehat, Nutrisi 6 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Mana yang Lebih Sehat, Minum Susu Kambing Atau Susu Sapi?

Baik susu kambing dan susu sapi diyakini sama-sama memiliki banyak manfaat kesehatan. Lantas, mana yang lebih baik: susu sapi atau susu kambing?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Fakta Gizi, Nutrisi 2 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit


Direkomendasikan untuk Anda

minum susu saat pilek

Benarkah Tidak Boleh Minum Susu Saat Pilek Atau Batuk?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
cara meningkatkan leukosit lewat makanan penambah sel darah putih

Daftar Makanan untuk Atasi Kekurangan Sel Darah Putih

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
susu penambah berat badan

Apakah Susu Penambah Berat Badan Betulan Ampuh Bikin Berisi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 7 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
susu yang cocok untuk penderita asam lambung

Jenis Susu yang Cocok untuk Penderita Maag dan Asam Lambung

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 29 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit