8 Efek Samping Diet Ketat untuk Kesehatan

    8 Efek Samping Diet Ketat untuk Kesehatan

    Banyak orang berkeinginan untuk memiliki berat badan ideal hingga memaksakan diri menjalani diet ketat. Diet ketat mungkin bisa saja mengurangi berat badan secara signifikan, tetapi ada sejumlah bahaya kesehatan di baliknya.

    Beragam bahaya diet ketat bagi kesehatan tubuh

    Di bawah ini adalah beberapa efek samping menjalani diet ketat bagi kesehatan.

    1. Metabolisme melambat

    Diet ketat biasanya dilakukan dengan mengurangi asupan kalori secara drastis.

    Sebagai contoh, asupan kalori harian yang semula 3.000 kalori per hari dibatasi hingga 1.500 kalori.

    Jika Anda langsung mengurangi jumlah asupan harian, tubuh mengenali kondisi ini sebagai tanda kekurangan kalori.

    Tubuh memasuki mode kelaparan sehingga metabolisme akan melambat untuk membantu menghemat energi.

    Melambatnya metabolisme justru menyebabkan berat badan bertambah dibandingkan sebelumnya.

    2. Kehilangan massa otot

    ikan tilapia bantu turunkan berat badan

    Saat Anda mengurangi asupan kalori secara drastis, tidak hanya lemak yang Anda hilangkan, Anda juga kehilangan massa otot.

    Padahal, lebih sulit untuk menurunkan berat badan ketika Anda tidak memiliki massa otot yang cukup, lantaran otot membantu membakar lebih banyak kalori.

    Selain itu, kehilangan massa otot memperlambat metabolisme yang mengakibatkan tubuh mudah lemas, kelelahan, dan berat badan bertambah.

    The American journal of clinical nutrition (2015) mencatat pola diet ketat mengakibatkan penurunan massa otot berlebih. Jumlah massa otot yang hilang bisa mencapai 5% dari massa otot secara keseluruhan.

    Penting Anda ketahui

    Konsumsi makanan kaya protein saat diet membantu menjaga massa otot sehingga laju metabolisme tetap normal.

    3. Gangguan makan

    Diet ketat yang dilakukan tanpa perencanaan yang matang bisa menimbulkan efek samping berupa gangguan makan.

    Sulitnya menjalani diet ketat bisa membuat Anda mudah menyalahkan diri sendiri, cemas, stres, sulit berkonsentrasi, serta mudah marah.

    Ketika berat badan ideal tidak kunjung terwujud, Anda pun mulai merasa tidak percaya diri pada penampilan tubuh.

    Jika terus berlanjut, Anda semakin terobsesi mengurangi asupan makan dan memiliki bentuk tubuh langsing. Akibatnya, Anda bisa mengalami anoreksia atau bulimia.

    4. Lebih gampang lapar

    Bahaya lain ketika menjalani diet ketat rendah kalori adalah hormon leptin yang mengontrol rasa lapar dan kenyang akan menjadi tidak stabil.

    Hormon leptin memberikan sinyal pada otak bahwa tubuh sudah mendapatkan cukup makanan.

    Penelitian dalam Physiological research menemukan kadar leptin yang tidak seimbang bisa mendorong obsesi pada makanan.

    Anda mungkin menjadi lebih rakus, lapar, dan cenderung makan berlebihan ketika menjalani diet ketat.

    5. Gampang dehidrasi

    Saat menjalani diet ketat, Anda mungkin mendapati berat badan menurun sedikit lebih cepat dalam dua minggu pertama.

    Sebenarnya, berat badan yang hilang ini adalah berat air dalam tubuh. Hal ini normal terjadi ketika Anda menjalani diet ketogenik (rendah karbohidrat).

    Masalahnya, kehilangan air terlalu cepat dapat menyebabkan dehidrasi dan sejumlah efek samping kesehatan, misalnya sembelit, sakit kepala, kram otot, dan kekurangan energi.

    6. Malnutrisi

    Diet ketat umumnya dilakukan dengan membatasi atau berhenti mengonsumsi jenis makanan tertentu, yang mengandung zat gizi penting.

    Hal tersebut bisa menyebabkan Anda kekurangan zat gizi, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan, bahkan memicu kondisi malnutrisi.

    Menjalani diet rendah kalori yang ketat bisa membuat Anda kekurangan asupan kalsium, vitamin D, vitamin B-12, folat, dan zat besi.

    7. Rambut rontok

    efek samping lapatinib rambut rontok

    Sebagai akibat kekurangan zat gizi tertentu, rambut bisa menjadi rapuh dan gampang rontok.

    Penelitian dari dalam Dermatology practical & conceptual (2015) menjelaskan bahwa kekurangan protein dan asam amino bisa menyebabkan rambut menipis dan mudah rontok.

    Selain itu, ketika kadar vitamin B12 yang rendah akan membuat folikel rambut Anda tidak dapat menumbuhkan rambut baru.

    Kekurangan vitamin B12 juga dapat menyebabkan gejala anemia yang dipicu oleh kadar zat besi rendah. Ini mengakibatkan penipisan rambut dan kerontokan rambut.

    8. Sistem imun menurun

    Setiap harinya, Anda perlu memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) seperti yang disarankan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

    Saat tubuh kekurangan nutrisi tertentu, baik vitamin dan mineral, sistem imun tubuh tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya.

    Tubuh lebih mudah terinfeksi penyakit saat kekurangan protein. Kurang asupan protein juga menyebabkan infeksi penyakit dapat berlangsung lebih lama dari biasanya.

    Pada dasarnya, sebelum Anda menjalani diet apa pun perlu untuk berkonsultasi dengan dokter atau dokter gizi terlebih dahulu.

    Hal tersebut supaya Anda mengetahui metode diet yang tepat dengan kondisi dan kebutuhan tubuh.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Anderlová, K., Kremen, J., Dolezalová, R., Housová, J., Haluzíková, D., Kunesová, M., & Haluzík, M. (2006). The influence of very-low-calorie-diet on serum leptin, soluble leptin receptor, adiponectin and resistin levels in obese women. Physiological research55(3), 277–283. https://doi.org/10.33549/physiolres.930779

    Bosomworth N. J. (2012).The downside of weight loss: realistic intervention in body-weight trajectoryCanadian family physician Medecin de famille canadien58(5), 517–523.

    Fothergill, E., Guo, J., Howard, L., Kerns, J. C., Knuth, N. D., Brychta, R., Chen, K. Y., Skarulis, M. C., Walter, M., Walter, P. J., & Hall, K. D. (2016). Persistent metabolic adaptation 6 years after “The Biggest Loser” competition. Obesity (Silver Spring, Md.)24(8), 1612–1619. https://doi.org/10.1002/oby.21538

    Guo, E. L., & Katta, R. (2017). Diet and hair loss: effects of nutrient deficiency and supplement use. Dermatology practical & conceptual7(1), 1–10. https://doi.org/10.5826/dpc.0701a01

    Müller, M. J., Enderle, J., Pourhassan, M., Braun, W., Eggeling, B., Lagerpusch, M., Glüer, C. C., Kehayias, J. J., Kiosz, D., & Bosy-Westphal, A. (2015). Metabolic adaptation to caloric restriction and subsequent refeeding: the Minnesota Starvation Experiment revisited. The American journal of clinical nutrition102(4), 807–819. https://doi.org/10.3945/ajcn.115.109173

    Mozaffarian, D., Hao, T., Rimm, E. B., Willett, W. C., & Hu, F. B. (2011). Changes in diet and lifestyle and long-term weight gain in women and men. The New England journal of medicine364(25), 2392–2404. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1014296

    Rytter, M. J., Kolte, L., Briend, A., Friis, H., & Christensen, V. B. (2014). The immune system in children with malnutrition–a systematic review. PloS one9(8), e105017. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0105017

    Dangers of Dieting: Why Dieting Can Be Harmful. (2021). Lindner Center of HOPE. Retrieved November 02, 2022 from https://lindnercenterofhope.org/blog/why-dieting-can-be-harmful/

    Is It Bad to Lose Weight Too Quickly?. (2021). Cleveland Clinic. Retrieved November 02, 2022 from https://health.clevelandclinic.org/risks-of-losing-weight-too-fast/

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Ilham Fariq Maulana Diperbarui 7 days ago
    Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan