home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bunyi 'Krek' Saat Meregangkan Sendi, Apa Artinya?

Bunyi 'Krek' Saat Meregangkan Sendi, Apa Artinya?

Anda pasti pernah mendengar sendi mengeluarkan bunyi saat melakukan peregangan. Bahkan, Anda mungkin menjadi ketagihan mendengar bunyi “krek” setiap meregangkan sendi yang terasa pegal linu dan kaku. Namun, apakah sendi bunyi adalah suatu hal yang wajar dan tidak berbahaya? Nah, temukan jawabannya di bawah ini.

Mengapa sendi bisa mengeluarkan bunyi?

bahu kaku

Sendi adalah sambungan dari beberapa tulang. Nah, terdapat dua jenis sendi, yaitu sendi mati dan sendi gerak. Jenis sendi yang bisa mengeluarkan bunyi adalah sendi gerak, seperti buku-buku jari, punggung, leher, lutut, pergelangan kaki, dan siku.

Ada beberapa alasan mengapa sendi bisa berbunyi “krek”, seperti:

1. Terjadi pengeluaran udara dari cairan

Cairan sinovial yang terdapat pada sendi berfungsi sebagai pelumas. Nah, cairan ini mengandung oksigen, nitrogen, dan karbon dioksida. Saat sengaja ingin membuat suara “krek” dari persendian, Anda meregangkan kapsul sendi.

Pada saat itu, terjadi pelepasan gas yang terkandung dalam cairan dan berlangsung sangat cepat hingga membentuk gelembung. Jika ingin mengulang bunyi yang sama lagi, Anda perlu menunggu beberapa saat hingga gas kembali ke dalam cairan sinovial.

2. Pergerakan sendi, tendon, dan ligamen

Saat sendi bergerak, posisi tendon pun bergeser sedikit keluar dari posisi awal. Nah, saat tendon kembali ke posisi semula, Anda mungkin akan mendengar bunyi “krek”.

Pada waktu yang bersamaan, ligamen akan semakin menegang. Hal ini sering terjadi pada sendi lutut atau pergelangan kaki dan bisa menimbulkan bunyi “krek” yang sama.

3. Permukaan sendi yang kasar

Bagi penderita arthritis, sendi dalam tubuhnya akan lebih sering mengeluarkan bunyi “krek”. Hal ini terjadi karena hilangnya tulang lunak yang halus dan permukaan sendi yang menjadi kasar.

Apakah sendi berbunyi memiliki dampak buruk?

gerakan peregangan untuk nyeri leher

Pada dasarnya, sendi yang mengeluarkan bunyi saat melakukan peregangan tidak akan menyebabkan masalah serius pada sistem gerak tubuh. Jadi, sekali dua kali melakukannya mungkin tak akan memberi dampak yang besar.

Namun, meski rasa pegal linu hilang setelah membuat sendi berbunyi “krek”, ternyata itu hanya bersifat sementara. Belum lagi, jika hal ini menjadi kebiasaan, tentu akan melenceng dari aturan sendi yang sebenarnya.

Apalagi, tulang rawan memiliki sifat elastis dan lentur. Alhasil, terlalu sering mengeluarkan bunyi saat melakukan peregangan berpotensi menghancurkan bagian-bagian yang terdapat di dalamnya.

Ya, terlalu sering membuat sendi gerak mengeluarkan bunyi dapat membuat sendi membesar dan membuat persendian pada bagian tubuh tersebut melemah.

Sebagai contoh, jika Anda sering melakukannya pada buku-buku jari, tangan akan semakin melemah dan kekuatan genggaman hanya tersisa seperempat dari kemampuan awal.

Sementara itu, apabila sering membuat sendi pada area leher mengeluarkan bunyi, hal ini akan meningkatkan risiko terkena stroke karena kebiasaan ini dapat memicu kerusakan arteri dan pembuluh nadi.

Bahkan, bila gerakan tersebut dilakukan pada area leher dan mengalami saraf terjepit, dampaknya bisa menghambat komando otak ke organ anggota gerak pada tubuh.

Oleh sebab itu, akan lebih baik untuk tidak melakukan kebiasaan menghasilkan bunyi dari sendi saat melakukan peregangan demi menghindari hal-hal yang tidak Anda inginkan.

Selain itu, menurut laman John Hopkins Medicine, jika setelah membuat sendi menghasilkan bunyi Anda merasa sakit hingga terjadi pembengkakan, segera periksakan kondisi ke dokter. Hal tersebut menandakan Anda mengalami cedera dan membutuhkan penanganan segera.

Tak hanya itu, Anda juga perlu waspada dengan bunyi “krek” yang terdengar kasar dan kencang saat sedang melakukan peregangan sendi. Pasalnya, hal ini bisa menjadi salah satu gejala dari osteoarthritis yang perlu Anda waspadai.

Osteoarthritis adalah kelainan tulang rawan sendi yang dapat menyebabkan nyeri sendi hingga terasa kaku. Gejala ini dikenal dengan sebutan krepitasi.

Bagaimana mengatasi pegal tanpa membunyikan sendi?

Daripada sengaja menghasilkan bunyi “krek” saat melakukan peregangan, lebih baik untuk memperbanyak aktivitas fisik setiap kali merasakan pegal dan linu.

Namun, jika membunyikan sendi sudah menjadi kebiasaan Anda, jangan terlalu sering melakukannya. Tak hanya itu, bila terpaksa melakukannya, sebaiknya lakukan dengan lembut.

Selain itu, jangan pula berlebihan saat melakukannya, seperti terlalu menghentak hingga memutar atau menekuk. Hal tersebut dapat memberikan beban ekstra pada persendian dan meningkatkan risiko terkena radang sendi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Snap, Crackle, Pop: What You Need to Know About Joint Noises. Retrieved 28 April 2021, from https://health.clevelandclinic.org/snap-crackle-pop-need-know-joint-noises/

What causes the noise when you crack a joint? Retrieved 28 April 2021, from https://www.loc.gov/everyday-mysteries/biology-and-human-anatomy/item/what-causes-the-noise-when-you-crack-a-joint/

Joint Popping and Cracking. Retrieved 28 April 2021, from https://www.hopkinsmedicine.org/orthopaedic-surgery/specialty-areas/sports-medicine/conditions-we-treat/joint-popping-cracking.html

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 3 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x