8 Dampak Buruk yang Bisa Terjadi Akibat Multitasking

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 November 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Saat kita sedang sibuk, rasanya waktu 24 jam sehari itu tidaklah cukup. Ada saja pekerjaaan atau tugas yang tidak terselesaikan. Ingin sekali kita membelah diri, agar semua kegiatan dan tujuan berjalan dengan lancar. Saking padatnya, kita pun dituntut untuk melakukan multitasking. Membalas pesan di ponsel sambil berjalan, karena membalasnya sambil diam sejenak akan membuang waktu beberapa menit. Chatting saat Anda memasak, menelpon saat menyetir, dan lain-lain. Mungkin, Anda melakukannya tanpa benar-benar sadar. Tuntutan pekerjaan, sekolah, teman, bahkan keluarga membuat kita semua jadi terbiasa melakukan multitasking. Menjadi sebuah kemewahan ketika kita bisa melakukan satu kegiatan saja pada satu waktu, seperti makan tanpa mengobrol, tanpa melihat internet, atau televisi.

BACA JUGA: Berbagai Trik untuk Tetap Fokus Setiap Saat

Tapi tahukah Anda bahwa sebenarnya multitasking justru lama-lama akan mengganggu kinerja otak kita? Penelitian dari University of London yang dikutip situs Inc, menunjukkan subjek penelitian yang melakukan multitasking ternyata malah mengalami penurunan IQ ketika diberikan tugas yang berkaitan dengan kognitif. Seperti apa dampak multitasking lainnya?

Apa saja dampak negatif dari melakukan multitasking?

Otak kita tidak didesain untuk menampung beberapa tugas berat dalam waktu bersamaan. Mungkin kita tidak merasa bahwa tugas tersebut berat, namun melakukan bolak-balik pergantian tugas dalam waktu yang cepat dan bersamaan adalah hal yang berat dilakukan oleh otak. Ada lagi alasan mengapa melakukan multitasking tidak baik untuk otak, seperti:

1. Mengurangi produktivitas

Menurut Guy Winch, PhD, penulis Emotional First Aid: Practical Strategies for Treating Failure, Rejection, Guilt and Other Everyday Psychological Injuries, yang dikutip oleh situs Health, ketika suatu hal memerlukan perhatian dan produktivitas, maka kinerja otak pun terbatas. Satu hal saja memerlukan fokus lebih, coba bayangkan ketika Anda melakukan lebih dari dua hal sekaligus?

BACA JUGA: 8 Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Merusak Otak

Mungkin kita semua akan membela diri dengan mengatakan bahwa multitasking membuat pekerjaan menjadi cepat beres. Faktanya, ketika Anda bolak-balik mengerjakan beberapa tugas dalam waktu yang sama, ini tidak membuat Anda lebih produktif. Menurut Winch, perhatian Anda terfokus pada ‘pergantian’ tugas tersebut, bukan pada tugasnya. Misalnya Anda harus menelpon seseorang, tapi Anda juga harus membalas email. Kemungkinan ketika Anda sedang menelpon sambil membalas email, yang Anda fokuskan adalah peringatan ‘membalas email’ di otak Anda, bukan pada isi dari email tersebut.

2. Membuat kinerja Anda melambat

Alasan kita melakukan multitasking adalah agar semua kegiatan dapat berjalan tepat waktu. Faktanya, multitasking tidak selalu menyelamatkan waktu Anda. Dua tugas dikerjakan secara bergantian pada waktu yang sama tidak membuat Anda cepat menyelesaikannya, otak Anda akan kebingungan sendiri. Sebuah penelitian dari University of Utah pada tahun 2008 yang dikutip situs Health, menunjukkan beberapa pengemudi lebih lama untuk sampai pada tujuan ketika mereka menyetir sambil chatting lewat telponnya.

4. Membuat kesalahan

Para ahli setuju bahwa melakukan multitasking dapat menyebabkan kehilangan produktivitas sekitar 40%. Anda juga tidak terbebas dari kesalahan. Ilmuwan dari Institut National de la Santé et de la Recherche Médicale (INSERM) di Paris, yang dikutip dari situs Brain Facts, meneliti suatu grup yang diminta untuk melakukan dua tugas secara bersamaan, salah satu tugas tersebut akan ditawarkan penghargaan jika hasilnya baik.

Hasilnya, ilmuwan menemukan adanya aktivitas sel saraf hanya di satu sisi bagian korteks prefrontal  – bagian yang mengatur fungsi neuropsikiatri (perencanaan, pengaturan, penyelesaian masalah, kepribadian).  Ketika penghargaan ditawarkan lebih besar untuk tugas lainnya, maka sisi korteks yang lain pun mulai aktif. Tapi, saat ilmuwan meminta partisipan untuk menyelesaikan tugas lainnya, kesalahan dalam pengerjaan pun mulai terlihat. Hal ini disebabkan karena otak kita hanya siap untuk melakukan dua fokus secara bersamaan saja.

BACA JUGA: Tidur Tidak Nyenyak Bisa Mengganggu Fungsi Otak

5. Membuat Anda lebih stres

Peneliti dari University of California Irvine mengukur denyut jantung karyawan yang bekerja dengan atau tanpa akses konstan pada email kantor. Mereka yang konstan mendapat email menunjukkan denyut jantung yang meningkat. Sedangkan, mereka yang tidak secara konstan mengakses email, lebih sedikit melakukan multitasking, dan tingkat stresnya pun lebih rendah. Contoh lainnya, ketika ujian tiba, kita harus belajar. Namun, saat itu ada pertandingan olahraga yang kita sukai, tidak jarang, kita memutuskan belajar sambil menonton televisi. Alhasil, tindakan tersebut akan semakin membuat Anda tertekan, sebab harus melakukan dua tugas bersamaan.

6. Kehilangan momen kehidupan

Ketika Anda melakukan dua hal secara bersamaan tentu sudah menarik seluruh perhatian Anda pada dua hal tersebut. Anda mungkin jadi sering melewatkan peristiwa-peristiwa sederhana yang terjadi di depan Anda. Misalnya, ketika dalam perjalanan ke kampus atau kantor, Anda lebih sering berjalan sambil memerhatikan ponsel, tidak menyadari kehadiran teman lama yang berada beberapa meter saja. Tidak memerhatikan sekitar, terkadang bisa mengundang bahaya, seperti tidak memperhatikan lubang galian di pinggir jalan saat berjalan kaki, sehingga akhirnya Anda terjerembab.

BACA JUGA: 5 Kebiasaan Buruk Saat Menggunakan Gadget yang Sering Anda Lakukan

7. Kehilangan detil penting

Membaca buku sambil menonton televisi bukan ide yang bagus, Anda akan melupakan beberapa detil penting dari buku atau acara televisi tersebut. Interupsi pada satu tugas dapat menyebabkan gangguan pada memori jangka pendek Anda. Apalagi kemampuan kita untuk mengingat pun akan melemah, seiring dengan bertambahnya usia. Jika Anda menambahnya dengan multitasking, memori kita pun akan terganggu.

8. Merusak hubungan Anda dan pasangan

Sering kali kita jumpai sepasang kekasih atau suami-istri duduk bersama dalam satu meja, namun tak ada satu pun yang memulai pembicaraan, keduanya aktif melihat ponsel masing-masing. Entah apa yang mereka lakukan dengan ponselnya. Tentu saja, hal itu akan mengganggu kualitas waktu bersama, komunikasi pun perlahan akan renggang. Apalagi, saat salah satu diantara pasangan tidak menyukai tindakan ‘melihat ponsel’ saat mengobrol atau makan. Hal tersebut akan menjadi permasalahan yang serius.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bagaimana Cara Mengendalikan Ego yang Tinggi?

Ego adalah bagian dari kepribadian manusia yang seringkali dicap negatif. Memang, apa itu ego, dan bagaimana mengendalikan ego yang tinggi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Mental Illness (Gangguan Mental)

Mental illness adalah gangguan mental yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku,suasana hati, atau kombinasi diantaranya. Berikut informasi lengkapnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental 17 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

5 Langkah Mengatasi Kesepian, Agar Hidup Lebih Semangat

Jangan membiarkan kesepian terlalu lama menggerogoti Anda. Cari tahu cara mengatasi kesepian agar hidup Anda jauh lebih bahagia.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Mengenal Perbedaan Panic Attack dan Anxiety Attack

Jika Anda sering panik mendadak tanpa sebab, mungkin Anda mengalami panic attack. Apa itu panic attack dan apa bedanya dengan anxiety?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kesehatan Mental, Gangguan Kecemasan 15 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

putus kenapa cinta memudar

4 Alasan Psikologis Cinta Bisa Memudar

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
cara menghilangkan rasa cemas

8 Cara Jitu untuk Menghilangkan Rasa Cemas Berlebihan

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
sedih

11 Cara Jitu Mengusir Rasa Sedih dan Galau Dalam Hati

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
pacar posesif

Anda Sering Disebut Pacar Posesif? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit