Cancel Culture dan Dampaknya yang Perlu Diwaspadai

Cancel Culture dan Dampaknya yang Perlu Diwaspadai

Cancel culture adalah fenomena yang sudah banyak terjadi di Indonesia, terutama semenjak kemunculan media sosial. Dampak dari fenomena ini sangat beragam, bisa positif, tetapi tak jarang juga berefek buruk bagi kesehatan mental korban. Simak ulasan berikut untuk mengetahui lebih jauh tentang apa itu cancel culture.

Apa itu cancel culture?

Cancel culture adalah tindakan memboikot atau tidak lagi memberikan dukungan kepada orang yang dianggap melakukan hal buruk, baik secara perilaku maupun ucapan.

Korban dari fenomena ini umumnya merupakan public figure, seperti selebritas dan politisi, yang melakukan pelecehan seksual, tindakan rasisme, hingga merendahkan gender tertentu.

Beberapa orang melakukan aksi boikot ini secara pribadi, tetapi tak jarang juga yang mengajak orang lain untuk ikut berpartisipasi. Tujuannya untuk memberi efek jera yang lebih parah kepada para public figure tersebut.

Sejumlah contoh cancel culture di Indonesia adalah sebagai berikut.

  • Gofar Hilman harus kehilangan sejumlah pekerjaan karena diduga melakukan tindakan pelecehan seksual kepada beberapa perempuan.
  • Ayu Ting Ting sempat diboikot agar tidak tampil di televisi karena tindakannya menendang salah satu kru pada tayangan langsung di sebuah acara TV.
  • Atlet eSport Listy Chan dan youtuber Ericko Lim kehilangan banyak subscriber di YouTube setelah diduga terlibat skandal perselingkuhan.

Selain di Indonesia, beberapa kasus cancel culture di luar negeri juga tidak kalah ramai menjadi bahan perbincangan dunia. Berikut di antaranya.

  • JK Rowling dianggap transfobik karena komentar negatifnya terhadap komunitas transgender,
  • Johnny Depp pernah terkena dampak cancel culture setelah diduga melakukan kekerasan pada Amber Heard walaupun fakta yang terjadi merupakan sebaliknya.
  • Artis Korea Selatan, Kim Seon Ho, kehilangan sejumlah kontrak dan kerja sama karena diduga meminta mantan kekasihnya yang sedang hamil untuk melakukan aborsi.

Dampak cancel culture

cancel culture dapat membuat korban merasa terisolasi

Meski dapat memberikan efek jera, cancel culture juga memiliki dampak negatif bagi banyak pihak. Berikut beberapa contohnya.

1. Peningkatan risiko depresi

Tujuan cancel culture yang utama adalah memberikan efek jera pada seseorang sebagai bentuk pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Meski terlihat baik, tak jarang fenomena ini berujung pada aksi bullying secara massal.

Tindakan bullying dapat membuat orang yang terdampak cancel culture merasa sendiri dan terisolasi.

Menurut studi yang dirilis di BMC Psychiatry pada 2017, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, hingga bunuh diri.

2. Mengembalikan trauma korban dari orang yang terkena cancel culture

Ada beberapa orang yang tidak masalah membuka luka lama untuk memperjuangkan kebenaran. Namun, tidak sedikit juga yang memilih untuk menguburnya karena ingin menghilangkan trauma.

Ketika fenomena ini terjadi secara luas, trauma korban dari orang yang terkena cancel culture dapat kembali lagi.

Apalagi jika orang tersebut dipaksa untuk membuka kembali traumanya di depan publik.

3. Hilangnya kebebasan berpendapat

Risiko bullying dan efeknya terhadap kesehatan mental dapat membuat orang-orang ketakutan menyampaikan pendapat berbeda.

Ketika memiliki pendapat yang berseberangan, mereka khawatir akan menjadi korban cancel culture.

Akibatnya, banyak orang yang kemudian memilih diam. Hal tersebut tentunya membuat komunikasi hanya berjalan satu arah tanpa adanya perspektif yang berbeda.

Apa <em>cancel culture</em> itu baik?

Cancel culture memang dapat mendorong seseorang untuk melakukan introspeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Namun, tindakan ini juga dapat meningkatkan risiko depresi, kembalinya trauma lama, hingga hilangnya kebebasan berpendapat.

Cara menghentikan cancel culture

menghargai pendapat yang berbeda menghentikan cancel culture

Melihat dampak yang mungkin dapat ditimbulkan, tentu saja cancel culture adalah tindakan yang tidak sepenuhnya baik untuk dilakukan.

Sebagai alternatif, beberapa tindakan bisa Anda lakukan untuk terhindar dari budaya ini.

1. Tidak menilai dari satu sudut pandang saja

Melihat segala sesuatunya tidak dari satu sudut pandang saja dapat menghindarkan Anda dari cancel culture.

Dengan begitu, Anda dapat memberikan penilaian secara lebih netral karena orang yang tertuduh belum tentu melakukan kesalahan.

2. Menghargai pendapat yang berbeda

Setiap orang memiliki hak untuk berpendapat, maka dari itu Anda perlu menghargainya. Tidak jadi masalah bagi Anda memiliki pendapat berbeda, tetapi jangan sampai memaksakannya pada orang lain.

3. Hindari asumsi

Asumsi sering kali menimbulkan kesalahpahaman dan membuat cancel culture salah sasaran. Hindari menyimpulkan segala sesuatunya atas penilaian sendiri sebelum mendapatkan fakta yang sebenarnya.

4. Meminta klarifikasi

Agar tidak berasumsi, Anda bisa bertanya atau meminta klarifikasi pada orang yang dianggap bersalah. Hal tersebut dapat membantu Anda bersikap lebih netral dan tidak melihat segala sesuatunya dari satu arah saja.

Apabila Anda merupakan salah satu pelaku cancel culture, tidak ada salahnya untuk menghentikan budaya ini mulai dari sekarang.

Jika Anda merupakan korban, berkonsultasilah dengan psikolog atau psikiater ketika perlakuan yang diterima mulai berpengaruh terhadap kesehatan mental dan fisik.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Should Cancel Culture Be Canceled?. (2022). Retrieved 22 August 2022, from https://go.roberts.edu/leadingedge/cancel-culture

Is Cancel Culture Effective? How Public Shaming Has Changed. (2022). Retrieved 22 August 2022, from https://www.ucf.edu/pegasus/is-cancel-culture-effective/

How Does Cancel Culture Impact Students? | KQED Education. (2022). Retrieved 22 August 2022, from https://www.kqed.org/education/535745/how-does-cancel-culture-impact-students

The Effects of Cancel Culture: Examining The Public’s Response to Apologies and its Lasting Impact on Reputation Recovery. Northern Kentucky University. (2021). Retrieved from https://dspace.nku.edu/handle/11216/4220

Beutel, M., Klein, E., Brähler, E., Reiner, I., Jünger, C., & Michal, M. et al. (2017). Loneliness in the general population: prevalence, determinants and relations to mental health. BMC Psychiatry, 17(1). doi: 10.1186/s12888-017-1262-x

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Bayu Galih Permana Diperbarui Aug 30
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa