Masalah Psikologis Transgender: Depresi hingga Penyalahgunaan Obat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Siapa pun dapat mengalami masalah psikologis, tapi para transgender memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan orang pada umumnya. Isu terkait kesehatan, pengucilan di lingkungan sekitar, dan perundungan (bully) hanyalah satu dari banyak faktor yang menjadi penyebabnya.

Transgender sendiri bukanlah masalah kejiwaan, apalagi penyakit seperti yang dahulu dikira oleh banyak orang. Para transgender adalah individu yang merasa tidak berada di dalam tubuh yang tepat, tapi masih harus menghadapi diskriminasi berkepanjangan. Semua ini lantas berdampak buruk bagi kesehatan jiwa mereka.

Masalah psikologis yang kerap dialami oleh transgender

Maprotiline

Orang-orang transgender mengalami kondisi yang disebut gender dysphoria. Kondisi ini membuat seseorang mengalami rasa tidak nyaman atau tertekan karena merasa jenis kelamin biologisnya tidak cocok dengan identitas gender yang mereka yakini.

Konflik gender menimbulkan dampak beragam bagi setiap orang yang mengalaminya. Seseorang mungkin ingin mengekspresikan dirinya dengan mengenakan pakaian lawan jenis, ada yang ingin mengubah sebutan dirinya, dan ada pula yang mengambil langkah lebih lanjut dengan menjalani operasi ganti kelamin.

Namun, tidak semua orang dengan gender dysphoria melewati jalan yang mulus dalam mengenali jati dirinya. Melansir laman University of Rochester Medical Center, banyak LGBTQ+ yang kesulitan dalam menentukan seksualitas mereka dan menyampaikannya kepada orang-orang terdekat.

Transgender dan gender dysphoria bukanlah penyakit kejiwaan, tetapi kesulitan yang mereka hadapilah yang lantas memicu berbagai masalah psikologis tersebut. Berikut beberapa masalah psikologis yang rentan mereka alami:

1. Gangguan kecemasan

Hampir setengah dari populasi transgender di Amerika Serikat mengalami gangguan kecemasan. Bahkan, sebuah penelitian dalam International Journal of Transgenderism menyebutkan bahwa risiko gangguan kecemasan pada transgender tiga kali lipat lebih besar dibandingkan orang-orang pada umumnya.

Gangguan ini biasanya muncul akibat penolakan selama transisi menuju gender yang baru. Menurut Simran Shaikh, aktivis HAM sekaligus anggota Aliansi HIV/AIDS di India, transgender kerap menghadapi penolakan kuat dari orang-orang yang paling dekat dengannya.

Penolakan tersebut membuat mereka tidak bisa mengekspresikan diri seutuhnya, atau bahkan sekadar mengungkapkan perasaannya. Akibatnya, mereka rentan mengalami gangguan kecemasan yang semakin tumbuh seiring waktu.

2. Depresi

kerusakan otak akibat depresi

Peneliti dari Boston University dan beberapa universitas lainnya mengadakan survei ke 71 kampus di Amerika Serikat. Survei ini bertujuan untuk mengetahui jumlah penderita masalah psikologis pada mahasiswa dengan gender minoritas, termasuk transgender.

Hasilnya, sekitar 78% peserta dari kelompok gender minoritas memenuhi kriteria satu masalah psikologis atau lebih. Sebanyak 60% peserta yang merasa tidak cocok dengan jenis kelaminnya memenuhi kriteria depresi, jauh lebih tinggi dibandingkan peserta yang merasa cocok dengan jenis kelaminnya.

Depresi biasanya timbul akibat pengucilan dan stigma negatif dari orang-orang sekitar. Perilaku yang mereka terima lambat laun memicu stres berkepanjangan, menurunkan kepercayaan diri, serta menghambat kemampuan mereka dalam melakukan kegiatan sehari-hari dan bersosialisasi.

3. Self-harm dan pikiran untuk bunuh diri

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Boston University juga melihat angka pelaku self-harm dan mereka yang pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri. Menurut penelitian tersebut, sebanyak 40% transgender mengaku pernah melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya.

Mengacu Mental Health Commission of Canada, berikut beberapa faktor yang membuat transgender rentan melakukan percobaan bunuh diri:

  • Mengalami diskriminasi serta kekerasan fisik, verbal, dan seksual.
  • Kurangnya dukungan dari orangtua dan kerabat.
  • Adanya kebijakan di tempat tertentu yang menimbulkan rasa tidak aman.
  • Stres dan rasa takut akibat proses transisi gender.
  • Perubahan besar-besaran dalam pola hidup setelah transisi gender.

4. Masalah psikologis pada transgender terkait penyalahgunaan zat

narkoba dalam urin

Masalah psikologis lain yang kerap terjadi pada transgender adalah penyalahgunaan zat seperti alkohol, rokok, dan narkotika. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena mereka kesulitan menempatkan diri dalam masyarakat yang bersikap diskriminatif.

Menurut The Center for American Progress, sekitar 20-30% gay dan transgender telah melakukan penyalahgunaan zat. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah penyalahguna zat pada populasi umum yang hanya sebesar 9 persen.

Penyalahgunaan zat dapat menimbulkan masalah baru seperti kecanduan, terlebih lagi apabila orang yang mengalaminya juga memiliki trauma dan dikucilkan. Padahal, angka tersebut mungkin saja dapat dikurangi dengan menghindari perilaku diskriminasi.

Transgender dan setiap orang yang merupakan bagian dari LGBTQ+ adalah kelompok yang rentan mengalami masalah psikologis. Penyebabnya sangat beragam, mulai dari kesulitan dalam menerima jati diri hingga perilaku diskriminatif dari lingkungan.

Selain itu, orang-orang LGBTQ+ yang mengalami masalah psikologis juga cenderung mendapatkan stigma negatif ganda. Seksualitas mereka dianggap sebagai penyakit kejiwaan, dan pada saat yang sama juga dinilai sebagai penyebab masalah psikologis lain.

Masalah psikologis yang menimpa transgender sebenarnya dapat dikurangi risikonya. Salah satunya dengan menghilangkan peraturan diskriminatif di tempat umum sehingga setiap orang memiliki hak yang sama dalam beraktivitas. Selain itu, edukasi tentang seksualitas juga penting untuk mengurangi perilaku pengucilan terhadap transgender.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Crab Mentality, Sindrom Psikologis yang Menghambat Orang Lain untuk Sukses

Crab mentality adalah sindrom yang menginginkan orang lain tidak mencapai kesuksesan yang lebih besar dari diri sendiri. Ini penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 22 November 2020 . Waktu baca 6 menit

Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

Setiap orang pernah mengalami stres. Tapi tidak semua orang mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Lalu, apa bedanya stres dan depresi serta kecemasan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 9 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit

Bahaya Pasung pada Orang dengan Gangguan Jiwa

Dengan belenggu pasung berarti orang dengan gangguan jiwa dibiarkan tanpa penanganan yang baik, semakin lama tidak ditangani maka kondisinya akan memburuk.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 9 April 2020 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Wanita Straight Berubah Orientasi Seksual Menjadi Lesbian?

Sains menemukan bahwa wanita yang berorientasi heteroseksual alias straight ternyata juga dapat ‘berubah’ menjadi lesbian. Bagaimana bisa?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kesehatan Seksual, Tips Seks 25 Januari 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

depresi adalah

Depresi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
borderline personality disorder

Seperti Apa Rasanya Punya Borderline Personality Disorder?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
gay bisa disembuhkan

Bisakah Gay dan Lesbian Disembuhkan?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 26 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
apa itu biseksual

Apa Itu Biseksual? Mengapa Seseorang Bisa Jadi Biseksual?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 6 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit