Jenis-jenis Tes Depresi dan Pemeriksaan untuk Mendiagnosis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Depresi tidak hanya terjadi pada kalangan atau golongan usia tertentu. Hasil Riskesdas Tahun 2018 menunjukkan penyakit depresi bisa mulai terjadi pada usia remaja, yakni 15-24 tahun dengan prevalensi sebesar 6,2 persen. Pola prevalensi ini akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Nah, untuk mengetahui apakah Anda mengalami depresi atau tidak, Anda bisa mengikuti tes khusus dan pemeriksaan dari dokter. Yuk, cari tahu pada ulasan berikut.

Tes untuk mendiagnosis depresi

Depresi adalah gangguan suasana hati yang membuat seseorang terus merasa sedih dan kehilangan minat pada aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Tidak hanya orang dewasa, penyakit mental ini juga bisa menyerang anak, remaja, hingga orang lanjut usia.

Jika sudah terkena dan tidak mendapatkan perawatan, keselamatan jiwa penderitanya bisa terancam. Mereka mungkin akan terjerumus pada perilaku kompulsif yang menyebabkan kecanduan, usaha untuk melukai diri sendiri hingga percobaan bunuh diri.

Sebagai tindakan deteksi dini dari deperesi, pemerintah telah mengembangkan tes depresi online yang bisa Anda ikuti secara mandiri. Nah, tes yang disediakan pemerintah ini umumnya terbagi menjadi dua bentuk, yakni:

Geriatric Depression Scale 15 (GDS 15)

Geriatric depression scale 15 atau skala depresi geriatrik 15 adalah tes yang berisi kuesioner sebanyak 15 buah pertanyaan sebagai sebuah metode penapisan depresi pada orang dengan usia lanjut.

Anda hanya perlu menjawab “iya” atau “tidak” setiap pertanyaan yang diajukan. Contoh pertanyaanya, seperti “Apakah Anda cukup puas dengan hidup Anda saat ini?” atau “Apakah Anda merasa hidup Anda hampa?”.

Selain untuk mengetahui apakah seseorang berpotensi mengalami depresi atau tidak, tes ini juga digunakan untuk mengevaluasi keparahan penyakit yang diidap.

Pada orang yang kesehatan mentalnya tidak bermasalah, mengisi kuesioner tidak akan memakan waktu lama. Akan tetapi, bagi orang yang memang merasa dirinya mengalami depresi, mengisi kuesioner ini mungkin membutuhkan waktu lama.

Ketentuan dari hasil tes depresi ini adalah:

  • Total nilai 0-4, Anda dinyatakan normal.
  • Total nilai 5-9, Anda dinyatakan mengidap depresi ringan.
  • Kemudian, untuk total nilai 10-15, Anda dinyatakan mengidap depresi parah.

Self Reporting Questionnaire 20

Self-Reporting Questionnaire (SRQ) adalah tes berupa pengisian kuesioner yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO) untuk skrining gangguan mental, salah satunya depresi. Pertanyaan yang diajukan meliputi berbagai keluhan yang mungkin dialami selama 30 hari terakhir.

Selain tes depresi, serangkaian tes diagnosis juga diperlukan

dokter

Mengetahui Anda mengalami depresi atau tidak, tidak hanya mengandalkan hasil tes mandiri saja. Pasalnya, Anda tidak boleh melakukan “self diagnosis” atau mendiagnosis penyakit dengan asumsi diri sendiri setelah melihat hasil tes mandiri.

Anda perlu memastikan diri ke dokter, psikolog, atau psikiater. Lewat pemeriksaan ke ahlinya juga, Anda bisa akan mendapat mempertimbangkan apakah Anda hanya perlu minum obat-obatan untuk mengatasi depresi saja atau sekaligus menjalani psikoterapi.

Berikut ini adalah tes pemeriksaan yang biasanya dokter rekomendasikan untuk menegakkan diagnosis depresi.

1. Pemeriksaan fisik

Dokter Anda mungkin melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan kesehatan Anda. Dalam beberapa kasus, depresi dapat dikaitkan dengan masalah kesehatan fisik atau mungkin sudah menyebabkan masalah kesehatan lain.

Dilansir dari Mayo Clinic, depresi atau stres berat dapat menyebabkan penyakit jantung, obesitas, atau penyakit diabetes. Itulah sebabnya, dokter akan mengukur berat badan, tekanan darah, denyut jantung, dan kadar gula dalam tubuh.

Jika lewat pemeriksaan, terdeteksi masalah kesehatan lain, Anda harus menjalani pengobatan kombinasi. Ini dilakukan agar salah satu penyakit tidak bertambah parah dan kualitas hidup pasien tetap membaik.

2. Evaluasi psikiatri

Pada tes depresi ini, dokter ahli kejiwaan akan mengenai gejala, pikiran, perasaan, dan pola perilaku Anda. Anda juga mungkin akan diminta untuk mengisi kuesioner. Beberapa gejala depresi yang mungkin ditunjukkan dan perlu Anda laporkan pada dokter, di antaranya:

  • Terus merasakan sedih, menangis tanpa sebab, merasa hampa atau putus asa.
  • Mudah marah dan tersinggung, bahkan karena hal-hal kecil.
  • Hilang minat atau kesenangan dalam sebagian besar atau semua aktivitas normal, seperti seks, hobi, atau olahraga.
  • Timbul gangguan tidur, termasuk insomnia atau terlalu banyak tidur.
  • Sering merasa kelelahan dan kekurangan energi, sehingga tugas-tugas kecil membutuhkan usaha ekstra.
  • Depresi membuat berat badan menurun atau sebaliknya meningkat karena nafsu makan berubah.
  • Kecemasan, agitasi atau kegelisahan.
  • Kemampuan berpikir, berbicara atau gerakan tubuh jadi melambat.
  • Terpaku pada kegagalan masa lalu atau menyalahkan diri sendiri dan merasa tidak berharga.
  • Kesulitan berpikir, berkonsentrasi, mebuat keputusan, dan mengingat sesuatu
  • Sering memikirkan kematian secara berulang, melukai diri sendiri dan ada pikiran untuk bunuh diri.
  • Berbagai masalah fisik yang tidak dapat dijelaskan, seperti sakit punggung atau sakit kepala.

Lewat tes depresi ini, dokter dapat menentukan keparahan penyakit sekaligus pengobatan yang tepat.

3. Tes laboratorium

Beberapa gejala yang disebutkan di atas, tidak hanya mengarah pada penyakit depresi saja. Gangguan pada suasana hati juga kerap kali menyerang orang dengan masalah tiroid. Oleh karena itu, untuk menyingkirkan masalah kesehatan ini dengan melakukan tes laboratorium, yakni tes darah.

Tes ini akan menghitung jumlah darah atau menguji tiroid Anda untuk memastikannya berfungsi dengan baik.

4. Pengamatan gejala dengan PPDGJ

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental/DSM) adalah pegangan yang digunakan oleh para profesional perawatan kesehatan di Amerika Serikat dan sebagian besar dunia sebagai panduan untuk mendiagnosis penyakit mental.

DSM berisi deskripsi, gejala, dan kriteria lain untuk mendiagnosis gangguan kejiwaan. Indonesia sendiri memiliki Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) yang digunakan sebagai buku panduan dalam mendiagnosis gangguan kejiwaan.

Dokter akan mengevaluasi lebih dalam kondisi pasien dengan panduan ini untuk membantu menentukan masalah mental mana yang diidap pasien.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Ada Perbedaan Kesepian yang Wajar dengan Kesepian Akibat Depresi?

Hampir semua orang pernah merasa kesepian. Namun, buat sebagian orang kesepian bisa jadi tanda depresi. Lalu apa perbedaan dua jenis kesepian ini?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD adalah kondisi serangan panik yang dipicu oleh trauma pengalaman masa lalu. Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Gangguan Mental Lainnya 14 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Borderline Personality Disorder (Gangguan Kepribadian Ambang)

Borderline personality disorder (BPD) adalah penyakit mental serius yang bisa menyerang siapa saja. Cari tahu selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 14 Februari 2021 . Waktu baca 9 menit

10 Langkah Efektif untuk Mengendalikan Amarah

Amarah yang tak terkontrol bisa merusak hubungan pribadi dan sosial, tapi berdampak pada fisik. Ketahui cara mengendalikan amarah berikut.

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 11 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

terapi cahaya cara mengatasi depresi menghilangkan depresi

Memanfaatkan Cahaya, Terapi yang Dapat Membantu Mengatasi Depresi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
gangguan bipolar adalah

Gangguan Bipolar (Bipolar Disorder)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 21 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit
perfeksionis

Menjadi Seorang Perfeksionis itu Baik atau Buruk, ya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 18 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit
mental illness atau gangguan mental

Mental Illness (Gangguan Mental)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit