home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Galau dan Merasa Kesepian Berdampak Buruk bagi Kesehatan

Galau dan Merasa Kesepian Berdampak Buruk bagi Kesehatan

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi yang baik dengan orang lain untuk bertahan hidup. Jika kebutuhan untuk berinteraksi tidak terpenuhi, kita cenderung terisolasi dari lingkungan sosial yang ditandai dengan merasa kesepian. Fenomena ini dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang, dan secara tidak langsung juga mempengaruhi kesehatan fisik.

Dampak merasa kesepian terhadap kesehatan mental

Merasa kesepian dapat memperburuk kondisi emosi seseorang sehingga memicu stress. Tidak seperti stress pada umumnya, stress yang disebabkan kesepian cenderung bertahan lama dan selalu terjadi berulang saat seseorang sedang mengalami suatu masalah. Stress kronis akibat merasa kesepian dapat menyebabkan kondisi depresi dan fobia sosial, bahkan meningkatkan kecenderungan seseorang untuk bunuh diri.

Seiring dengan pertambahan usia, seseorang orang yang mengalami kesepian akan lebih cepat mengalami penurunan fungsi kognitif. Hal ini dikarenakan interaksi sosial juga berpengaruh terhadap cara kerja otak dan kekuatan memori, sehingga orang mengalami kesepian lebih berisiko mengalami penurunan fungsi pada sistem saraf pusat. Suatu penelitian juga menunjukkan bahwa merasa kesepian meningkatkan risiko dementia sebesar 64% pada usia lanjut.

Seseorang yang merasa kesepian cenderung memiliki gaya hidup yang tidak sehat

Salah satu dampak dari merasa kesepian adalah menurunnya kemampuan untuk mengendalikan pikiran dan emosi, sehingga memicu perubahan perilaku. Pada umumnya, individu yang mengalami kesepian akan sulit untuk mempertahankan gaya hidup yang sehat.

Penyalahgunaan substansi adiktif seperti obat-obatan, alkohol atau rokok adalah salah satu perubahan gaya hidup yang sering terjadi pada seseorang yang mengalami kesepian. Penyebab utamanya adalah kurangnya dukungan sosial yang dibutuhkan seseorang saat menghadapi suatu permasalahan. Kondisi ini juga saling berkaitan saat seseorang mengalami stress, dan berpendapat mengonsumsi substansi adiktif tersebut adalah cara terbaik untuk menghindari permasalahan yang mereka hadapi.

Menurunkan rutinitas aktivitas fisik sering dilakukan saat seseorang mengalami gangguan emosi, termasuk saat mengalami kesepian. Dalam suatu penelitian, seseorang yang mengalami kesepian cenderung menurunkan frekuensi aktivitas fisik dan mengalami perubahan intensitas aktivitas fisik, hingga tidak melakukan aktivitas fisik sama sekali. Kurang aktivitas fisik itu sendiri dapat menurunkan ketahanan tubuh, menyebabkan obesitas, dan perkembangan berbagai penyakit degeneratif.

Stress dari merasa kesepian juga berdampak terhadap kondisi fisik

Menurunnya kesehatan fisik merupakan efek samping dari merasa kesepian. Terdapat beberapa mekanisme tubuh yang merupakan suatu respon dari dampak kesehatan mental dan perubahan perilaku pada individu yang merasa kesepian. Berikut beberapa beberapa dampak kesepian terhadap kondisi fisik:

1. Gangguan tidur

Waktu tidur sangat diperlukan untuk tubuh beregenerasi secara optimal. Kurangnya waktu tidur dapat menurunkan kualitas tidur, kelelahan pada siang hari, dan perubahan pola tidur. Salah satu penyebab gangguan tidur adalah gangguan emosi yang disebabkan oleh kesepian. Hubungan antara kesepian dengan gangguan tidur memiliki pola seperti siklus. Rasa kesepian pada malam hari menyebabkan kesulitan untuk relaksasi dan menyebabkan terbangun di tengah-tengah waktu tidur. Selanjutnya, hal tersebut menyebabkan kurangnya waktur yang berkualitas dapat meningkatkan efek stress akibat kesepian.

2. Menurunkan ketahanan tubuh

Pada kenyataannya, sistem imunitas tidak hanya bereaksi terhadap ancaman pathogen, namun kondisi emosi pada seseorang yang mengalami kesepian dapat mempengaruhi kinerja sistem imun. Saat sedang stress kronis karena kesepian, otak merespon lingkungan sekitar sebagai ancaman, dan hal ini juga berpengaruh terhadap ketahanan tubuh. Oleh karena itu, sistem imun tidak dapat bekerja optimal melawan pathogen yang bersamaan dengan kondisi stress.

3. Memicu perkembangan penyakit jantung dan pembuluh darah

Di samping gangguan psikologis, merasa kesepian memicu reaksi abnormal yang berdampak pada sistem kardiovaskuler. Para peneliti dari Harvard (seperti dilansir oleh Telegraph) mengatakan bahwa tubuh juga merespon stress akibat kesepian dengan memproduksi protein fibrinoge,n yang biasanya diproduksi saat tubuh mengalami luka. Selain itu, kondisi stress kronis juga memicu peningkatan hormon kortisol yang mempengaruhi kinerja jantung dalam memompa darah. Mekanisme abnormal tersebut menyebabkan gangguan aliran, sehingga memicu kondisi arterosklerosis dan hipertensi. Suatu penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa individu yang memiliki interaksi sosial yang buruk memiliki risiko terkena penyakit jantung koroner dan stroke lebih tinggi yaitu sebesar 29% dan 32%.

Hingga saat ini, berbagai penelitian menunjukkan merasa kesepian adalah suatu penyebab penurunan kualitas kesehatan fisik seseorang. Pada dasarnya kesepian itu sendiri bukanlah fakta, melainkan suatu persepsi atau keadaan emosi terhadap hubungan sosial seseorang, dan hal ini bukan disebabkan oleh kesendirian. Oleh karena itu, cara paling mudah dalam mengatasi kesepian adalah dengan mengalihkan perhatian sejenak dan melakukan interaksi sosial.

BACA JUGA:

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Asatryan, K., 2015. 4 Disorders That May Thrive on Loneliness. [Online] Available at: https://www.psychologytoday.com/blog/the-art-closeness/201507/4-disorders-may-thrive-loneliness [Accessed 8 Sep 2016].

Gammon, K., 2012. Why Loneliness Can Be Deadly. [Online] Available at: http://www.livescience.com/18800-loneliness-health-problems.html [Accessed 8 Sep 2016].

Hawkley, L.C. & Cacioppo, J.T., 2010. Loneliness Matters: A Theoretical and Empirical Review of Consequences and Mechanisms. Annals of Behavioral Medicine, 40(2).

Knapton, S., 2016. Having no friends could be as deadly as smoking, Harvard University finds. [Online] Available at: http://www.telegraph.co.uk/science/2016/08/24/having-no-friends-could-be-as-deadly-as-smoking-harvard-universi/ [Accessed 8 Sep 2016].

MayoClinic, 2016. Chronic stress puts your health at risk. [Online] Available at: Loneliness and Cortisol: Momentary, Day-to-day, and Trait Associations [Accessed 8 Sep 2016].

Mushtag, et al., 2014. Relationship Between Loneliness, Psychiatric Disorders and Physical Health ? A Review on the Psychological Aspects of Loneliness. Journal of Clinical Diagnostic Research, 8(9), pp.1-4.

Pappas, S., 2013. Loneliness Is Bad for Your Health, Study Suggests. [Online] Available at: http://www.livescience.com/26431-loneliness-harms-health-immune-system.html [Accessed 8 Sep 2016].

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Kemal Al Fajar Diperbarui 10/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x