home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Orang Cerdas Suka Menyendiri dan Memiliki Sedikit Teman, Kenapa?

Orang Cerdas Suka Menyendiri dan Memiliki Sedikit Teman, Kenapa?

Pernahkah Anda melihat di adegan film ketika orang yang memiliki kepintaran tinggi digambarkan penyendiri dan tidak memiliki banyak teman? Sebenarnya, di dunia nyata pun faktanya memang benar seperti itu. Kebanyakan orang cerdas ternyata lebih suka menyendiri ketimbang berada di keramaian. Mengapa tingkat kecerdasan berhubungan dengan sifat penyendiri?

Alasan orang cerdas lebih suka menyendiri

pentingnya kecerdasan emosional

Gambaran orang cerdas yang terlihat lebih suka menyendiri di film-film ternyata terjadi bukan tanpa alasan. Pernyataan tersebut ternyata dibuktikan melalui penelitian di British Journal of Psychology.

Di dalam studi tersebut, para ahli mencoba menjelaskan mengapa orang cerdas memiliki kepuasan hidup yang lebih rendah saat harus bersosialisasi lebih sering dengan temannya.

Para ahli mencoba menerangkan alasan tersebut dengan teori psikologi evolusioner. Psikologi evolusioner merupakan cabang baru dalam psikologi yang mempelajari hubungan faktor genetik dengan perilaku manusia.

Dengan teori tersebut terlihat bahwa anggota kelompok yang pintar lebih efektif menyelesaikan masalah tanpa perlu bantuan dari teman-temannya.

Dari penelitian tersebut juga terbentuk gambaran bahwa orang yang kepintarannya biasa saja lebih senang bergaul dengan orang lain karena membantu mereka memecahkan masalah.

Sedangkan, orang yang lebih cerdas suka menyendiri karena merasa lebih mampu menyelesaikan tantangan yang diberikan. Bagaimana kondisi ini bisa terjadi?

Kesimpulan dari penelitian ini didapat setelah menganalisis survei dari 15.197 peserta yang berusia antara 18-28 tahun. Survei ini bertujuan untuk mengukur kepuasan hidup, kecerdasan, kesehatan mereka.

kecerdasan emosional

Salah satu temuan yang cukup penting dalam penelitian ini adalah kebanyakan orang yang tingkat kecerdasannya di atas rata-rata cenderung tidak bahagia di keramaian.

Akan tetapi, ketika mereka dikelilingi oleh teman atau orang yang disayangi tingkat kebahagiannya meningkat.

Maka itu, mungkin bagi kebanyakan orang bersosialisasi dengan orang lain dapat meningkatkan rasa bahagia. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi beberapa orang cerdas yang lebih suka menyendiri.

Hubungan teori savanna dan orang cerdas suka menyendiri

mencintai diri sendiri

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, penelitian yang dilakukan untuk melihat alasan orang cerdas lebih suka menyendiri menggunakan teori psikologi evolusioner. Teori psikologi evolusioner tersebut ternyata berkaitan erat dengan teori savanna.

Teori savanna merupakan prinsip dalam dunia psikologi yang digunakan oleh Satoshi Kanazawa, seorang psikolog asal Amerika Serikat.

Teori ini mengusungkan bahwa tingkat kepuasan hidup seseorang tidak hanya berdasarkan apa yang terjadi pada masa kini. Akan tetapi, kepuasaan juga dapat didasarkan oleh reaksi nenek moyang yang mungkin terjadi saat ini.

Maksudnya, kebanyakan orang yang tinggal di pemukiman padat penduduk cenderung kurang bahagia dibandingkan ketika berada di pedesaan.

Hal ini merujuk pada kebiasaan leluhur yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit ketimbang saat ini, sehingga tidak menutup kemungkinan berada di keramaian justru tidak menyenangkan.

Dilansir dari The Washington Post, kepadatan penduduk memiliki pengaruh terhadap kepuasan hidup. Hal ini dikarenakan keramaian mempunyai efek dua kali lebih besar pada orang dengan tingkat kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan mereka yang pintar.

manfaat sahabat

Maka itu, kebanyakan orang cerdas kurang puas terhadap kehidupan mereka ketika sering bersosialisasi di tengah keramaian. Mereka lebih senang melakuka hal-hal yang produktif ketimbang bercengkrama dengan teman-temannya sendiri di kedai kopi.

Selain itu, beberapa ahli percaya bahwa kecerdasan seseorang akan berevolusi seiring dengan berkembangkan sifat psikologis mereka ketika menyelesaikan masalah.

Sebagai contoh, orang yang hidup pada zaman dahulu merasa harus bersosialisasi sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup.

Sementara itu, di kehidupan sekarang, orang yang cerdas cenderung bisa menyelesaikan tantangan tanpa membutuhkan bantuan dari orang lain. Akibatnya, mereka mungkin kurang menghargai persahabatan karena merasa bisa sendiri.

Suka di keramaian belum tentu tidak cerdas

olahraga bareng teman

Walaupun hasil temuan menunjukkan kebanyakan orang cerdas lebih senang menyendiri dibandingkan bersama orang lain, ada beberapa di antara mereka justru menyukai kebalikannya.

Temuan dari penelitian tidak serta merta menunjukkan semua orang cerdas suka menyendiri dan tidak senang bersosialisasi.

Apabila Anda menikmati berada di tengah keramaian, tidak berarti tingkat kecerdasan Anda di bawah rata-rata. Hal sebaliknya pun berlaku demikian. Semua penyendiri bukan berarti pintar.

Maka itu, ada beberapa orang cerdas yang mungkin lebih senang menyendiri, tetapi dapat beradaptasi dengan keramaian dan merasa nyaman di segala situasi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ingraham, C. (2016). Why smart people are better off with fewer friends. Washington Post. Retrieved 16 March 2020, from https://www.washingtonpost.com/news/wonk/wp/2016/03/18/why-smart-people-are-better-off-with-fewer-friends/

Kanazawa, S. (2010). The Savanna Principle. Psychology Today. Retrieved 16 March 2020, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-scientific-fundamentalist/201002/the-savanna-principle

Li, N., & Kanazawa, S. (2016). Country roads, take me home… to my friends: How intelligence, population density, and friendship affect modern happiness. British Journal Of Psychology, 107(4), 675-697. doi: 10.1111/bjop.12181. Retrieved 16 March 2020. 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nabila Azmi Diperbarui 03/04/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x