Bahaya dan Komplikasi yang Mengintai dari Penyakit Glaukoma

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Penyakit glaukoma merupakan sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya, glaukoma menyebabkan kerusakan pada saraf-saraf optik di mata sehingga bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan segera. Apa saja komplikasi dan bahaya yang ditimbulkan dari penyakit glaukoma? Ikuti terus penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Komplikasi utama dari penyakit glaukoma

mata malas menyebabkan kebutaan

Ketika seseorang memiliki glaukoma, hal pertama yang biasanya dikhawatirkan adalah kondisi penglihatannya seiring dengan perkembangan penyakit.

Ya, sudah bukan rahasia lagi kalau komplikasi utama dari glaukoma adalah terganggunya penglihatan, yang bisa berujung pada kebutaan total.

Pada mata manusia, saraf-saraf optik terdiri dari sel-sel ganglion retina. Sel-sel tersebut berperan penting dalam proses penglihatan manusia. Terdapat sekitar 1 juta sel ganglion retina di setiap mata kita.

Glaukoma adalah penyakit yang menyerang sel-sel ganglion retina, sehingga sel-sel tersebut mati dan saraf-saraf optik mengalami kerusakan. Biasanya, kerusakan akan memengaruhi penglihatan periferal terlebih dahulu. Penglihatan periferal adalah apa yang mata manusia tangkap di bagian terluar atau pinggir mata.

Oleh karena itu, kebanyakan pengidap glaukoma tidak menyadari komplikasi ini karena penurunan penglihatan terjadi di bagian terluar mata lebih dulu. Kondisi menurunnya penglihatan periferal ini biasanya terjadi pada glaukoma tingkat ringan dan sedang.

Akan tetapi, pada tingkat penyakit yang lebih lanjut, kerusakan pasa penglihatan periferal akan semakin parah. Pasien mungkin mulai mengalami kesulitan dalam kegiatan yang memerlukan penglihatan periferal, seperti menyetir atau menyeberang jalan. Lambat laun, glaukoma akan menyebabkan tunnel vision, kondisi ketika pasien seperti melihat dari dalam terowongan yang gelap.

Seberapa cepat kebutaan akan terjadi?

Seberapa cepat pasien kehilangan seluruh penglihatannya akan tergantung pada jenis glaukoma yang dialami, waktu ditemukannya penyakit, serta pengobatan yang dijalani.

Pada pasien dengan glaukoma sudut terbuka, kebanyakan kasus rusaknya saraf optik terjadi dalam jangka waktu yang lebih lama. Munculnya gejala-gejala glaukoma dan perkembangan penyakit pun cenderung lebih lambat.

Ditambah lagi, jika pasien terdiagnosis glaukoma pada tahap awal, kemungkinan ia masih akan memiliki kemampuan penglihatan yang normal dalam waktu yang lebih lama. Bahkan, tidak menutup kemungkinan pasien tidak akan mengalami komplikasi kebutaan seumur hidupnya, selama mendapatkan pengobatan glaukoma yang tepat.

Namun, apabila glaukoma ditemukan dokter pada tahap yang sudah cukup parah, peluang pasien untuk mengalami gangguan pada penglihatannya semakin besar. Bila tidak diatasi dengan penanganan medis yang tepat, kebutaan pun mungkin saja terjadi dengan cepat dari waktu ditemukannya.

Menurut sebuah artikel dari Middle East African Journal of Ophthalmology, situasi ketika pasien sudah mengalami kebutaan total dan tingginya tekanan bola mata tidak terkendali lagi disebut dengan glaukoma absolut. Kebutaan yang disebabkan oleh glaukoma ini bersifat permanen dan tak bisa dikembalikan oleh terapi atau pengobatan apa pun.

Namun, Anda mungkin akan tetap mendapatkan pengobatan dari dokter untuk mengurangi rasa sakit akibat tekanan bola mata yang tinggi. Selain itu, Anda mungkin juga akan mendapatkan terapi psikologis sebagai bentuk dukungan pada pasien yang kehilangan penglihatan.

Komplikasi lainnya akibat operasi glaukoma

Operasi katarak merupakan pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi katarak.

Untuk mengatasi glaukoma, operasi juga kerap kali menjadi pilihan jika pengobatan lain tak membuahkan hasil. Meski begitu, operasi glaukoma juga bukan berarti tanpa risiko dan bebas efek samping.

Berikut adalah beberapa komplikasi yang dapat timbul, baik sebelum, selama, maupun sesudah operasi glaukoma:

1. Hipotoni

Hipotoni, atau rendahnya tekanan bola mata, merupakan salah satu masalah yang berisiko terjadi pada operasi glaukoma. Tekanan bola mata yang terlalu rendah dapat terjadi karena adanya pembuangan cairan mata yang berlebihan, atau luka operasi yang tidak diatasi dengan baik.

Jika hipotoni tidak segera ditangani, pasien berisiko mengalami masalah lainnya, seperti penumpukan cairan pada kornea, katarak, perdarahan, hingga kebutaan.

2. Hifema

Hifema juga termasuk dalam komplikasi yang cukup umum ditemukan pada operasi glaukoma. Hifema adalah darah yang menumpuk di bagian depan mata, tepatnya di antara iris dan kornea mata. Kondisi ini biasanya terjadi pada 2-3 hari pertama setelah operasi.

Hifema biasanya terjadi karena adanya trauma pada saat operasi, sehingga timbul luka atau robek pada iris mata. Jika penumpukan darah akibat hifema cukup banyak, dokter akan melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan darah tersebut.

3. Perdarahan suprakoroid

Perdarahan suprakoroid adalah komplikasi yang sangat langka, tapi berpotensi terjadi akibat prosedur operasi glaukoma. Perdarahan terjadi  ketika pembuluh darah pada mata mengisi bilik atau celah yang ada di dekat sklera (bagian putih mata).

Selain langka, perdarahan suprakoroid dapat mengakibatkan masalah yang fatal. Apabila terjadi selama proses operasi, pasien berisiko mengalami kebutaan. Namun, perdarahan yang timbul beberapa hari setelah operasi dapat ditangani dengan pengobatan steroid atau operasi pembedahan sklera mata.

Itulah tadi berbagai komplikasi dari penyakit glaukoma. Agar terhindar dari komplikasi-komplikasi di atas, jagalah selalu kesehatan mata Anda dengan melakukan pencegahan glaukoma yang tepat, seperti rutin memeriksakan mata secara berkala.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Gerakan Olahraga yang Manjur Mengecilkan Perut

Punya perut buncit bukan cuma ganggu penampilan tapi juga bahaya bagi kesehatan. Yuk, ikuti senam mengecilkan perut yang bisa Anda coba rutin di rumah!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Latihan Kekuatan Otot, Kebugaran 14 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Berapa Banyak Dosis Aman Minum Obat Pereda Nyeri?

Obat pereda nyeri memang efektif, tapi juga memiliki sederet efek samping. Lalu, berapa banyak dosis aman minum obat pereda nyeri?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Obat A-Z, Obat-obatan & Suplemen A-Z 14 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Tak Sengaja Kena Air Panas? Cepat Obati Lukanya dengan 4 Langkah Ini

Kulit melepuh karena tersiram air panas? Segera lakukan pertolongan pertama dengan cara mengobati luka akibat kena air panas berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Pertolongan Pertama, Hidup Sehat 14 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

5 Cara Alami Terbaik untuk Mengatasi Mulut Pahit

Mulut pahit bikin minder dan malas makan. Namun jangan khawatir. Ketahui berbagai cara alami untuk mengatasinya di artikel ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit Gusi dan Mulut, Gigi dan Mulut 14 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

setelah seks

4 Hal yang Harus Langsung Dilakukan Wanita Setelah Seks

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
obat mimisan alami

Cara Mengatasi Mimisan dengan Cepat, Mulai dari Bahan Alami hingga Obat Medis

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
lendir tenggorokan penyebab

Dahak di Tenggorokan Tidak Hilang-Hilang? Begini Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
5 Kesalahan Minum Pil KB yang Sering Dilakukan

4 Kesalahan Minum Pil KB yang Sering Dilakukan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit