Sindrom Potter: Saat Wajah Bayi Cacat Akibat Kurangnya Cairan Ketuban

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Cairan ketuban memegang peranan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi selama di dalam kandungan. Apabila cairan ketuban mengalami gangguan, ini akan berdampak langsung pada kesehatan bayi Anda secara keseluruhan. Cairan ketuban yang kurang bisa menyebabkan sindrom Potter pada bayi.

Apa itu sindrom Potter?

Sindrom Potter adalah kondisi langka yang mengacu pada kelainan fisik akibat terlalu sedikitnya cairan ketuban (oligohidramnion) dan gagal ginjal bawaan yang berkembang saat bayi tumbuh dalam rahim.

Cairan ketuban sendiri merupakan salah satu pendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi selama di dalam kandungan. Cairan ketuban muncul 12 hari setelah pembuahan terjadi. Kemudian, pada usia kehamilan sekitar 20 minggu, jumlah cairan ketuban akan bergantung pada seberapa banyak urine (air kencing) yang dihasilkan oleh bayi saat dalam kandungan. Pada perkembangan normal, bayi akan menelan cairan ketuban yang kemudian diproses oleh ginjal dan dikeluarkan dalam bentuk urine.

Namun, ketika ginjal dan saluran kemih janin tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, ini akan menimbulkan masalah yang membuat bayi lebih sedikit menghasilkan urine. Akibatnya, jumlah cairan ketuban yang dihasilkan cenderung berkurang.

Berkurangnya cairan ketuban membuat bayi jadi tidak mempunyai bantalan di dalam rahim. Hal ini membuat bayi mengalami tekanan pada dinding rahim, menyebabkan gambaran wajah yang khas dan bentuk tubuh yang tidak biasa. Nah, kondisi inilah yang disebut dengan sindrom Potter.

Yang terjadi apabila bayi mengalami sindrom Potter

Bayi yang mengalami sindrom ini mempunyai ciri-ciri telinga yang lebih ke bawah dari bayi normal, dagu kecil dan tertarik ke belakang, lipatan kulit yang menutupi sudut mata (lipatan epicanthal), serta pangkal hidung melebar.

Kondisi ini juga bisa menyebabkan anggota badan yang lainnya tidak normal. Selain itu, kekurangan cairan ketuban selama kehamilan juga bisa menghambat perkembangan paru-paru bayi, sehingga paru-paru bayi tidak bisa berfungsi dengan baik (hipoplasia paru). Kelainan ini juga bisa menyebabkan bayi mengalami cacat jantung bawaan.

Diagnosis sindrom Potter

Sindrom Potter biasanya sudah mulai terdiagnosis pada masa kehamilan lewat tes ultrasound (USG). Meskipun dalam beberapa kasus, kondisi ini juga baru diketahui setelah bayi lahir.

Tanda-tanda yang bisa dikenali ketika tes USG meliputi kelainan ginjal, kadar cairan ketuban dalam rahim, kelainan paru, dan ciri khas sindrom Potter pada wajah bayi. Sedangkan dalam kasus sindrom potter yang baru diketahui setelah bayi lahir, gejalanya meliputi jumlah produksi urine yang sedikit atau adanya gangguan pernapasan yang menyebabkan bayi kesulitan bernapas (distres pernapasan).

Jika dari hasil diagnosis dokter mencurigai adanya tanda dan gejala sindrom Potter, dokter biasanya akan melakukan tes lanjutan. Hal ini dilakukan untuk menentukan penyebab atau mencari tahu tentang tingkat keparahannya. Beberapa tes lanjutan yang akan dilakukan dokter biasanya meliputi tes genetik, tes urine, X-ray, CT scan, dan tes darah.

Pilihan pengobatan yang bisa dilakukan terkait kondisi ini

Pilihan pengobatan sindrom Potter sebenarnya bergantung pada penyebab kondisinya. Beberapa pilihan pengobatan yang biasanya dokter rekomendasikan bagi bayi yang lahir dengan sindrom Potter di antaranya:

  • Bayi dengan sindrom Potter mungkin memerlukan alat bantu napas. Ini mungkin termasuk resusitasi saat bayi lahir dan ventilasi untuk membantu agar bayi bisa bernapas dengan normal.
  • Beberapa bayi juga mungkin memerlukan tabung makanan untuk memastikan mereka mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.
  • Operasi saluran kemih untuk mengatasi penyumbatan saluran kemih.
  • Jika ada masalah dengan ginjal bayi, cuci darah atau dialisis mungkin dianjurkan sampai pengobatan lain tersedia, misalnya transplantasi ginjal.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Perawatan Paliatif Sebagai Pengobatan Penyakit Kanker

Perawatan paliatif adalah perawatan suportif yang umumnya dijalani pasien kanker. Namun, seperti apa sih perawatan ini? Pelajari selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker 18 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Berbagai Cara untuk Mengurangi Mata Minus (Rabun Jauh)

Bagi Anda yang memiliki mata minus, pasti ingin lepas dari ketergantunga kacamata atau lensa. Lalu apakah mungkin mengurangi mata minus? Bagaimana caranya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 17 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Kapan Boleh Mencoba Hamil Lagi Setelah Keguguran?

Mungkin Anda bingung harus kapan memulai lagi untuk mencoba hamil lagi setelah keguguran. Namun, itu semua tergantung pada kondisi Anda.

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 16 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Mengapa Ada Orang yang Nyetrum Ketika Disentuh?

Pernah merasa seperti tersengat listrik saat bersentuhan dengan orang lain? Ini dia penjelasan kenapa orang tertentu nyetrum ketika disentuh.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ciri-ciri dan gejala alergi dingin

Gejala Alergi Dingin Ringan Hingga Berat yang Wajib Anda Kenali

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit
mencium spidol

Meski “Wangi”, Hobi Menghirup Aroma Spidol Bisa Membahayakan Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit
multivitamin gummy dewasa

Multivitamin Gummy untuk Dewasa, Benarkah Lebih Sehat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 4 menit
yang harus diketahui sebelum melakukan pemeriksaan MRI

Yang Harus Anda Tahu Sebelum Menjalani Pemeriksaan MRI

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 3 menit