Sindrom Potter: Saat Wajah Bayi Cacat Akibat Kurangnya Cairan Ketuban

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 01/12/2017
Bagikan sekarang

Cairan ketuban memegang peranan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi selama di dalam kandungan. Apabila cairan ketuban mengalami gangguan, ini akan berdampak langsung pada kesehatan bayi Anda secara keseluruhan. Cairan ketuban yang kurang bisa menyebabkan sindrom Potter pada bayi.

Apa itu sindrom Potter?

Sindrom Potter adalah kondisi langka yang mengacu pada kelainan fisik akibat terlalu sedikitnya cairan ketuban (oligohidramnion) dan gagal ginjal bawaan yang berkembang saat bayi tumbuh dalam rahim.

Cairan ketuban sendiri merupakan salah satu pendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi selama di dalam kandungan. Cairan ketuban muncul 12 hari setelah pembuahan terjadi. Kemudian, pada usia kehamilan sekitar 20 minggu, jumlah cairan ketuban akan bergantung pada seberapa banyak urine (air kencing) yang dihasilkan oleh bayi saat dalam kandungan. Pada perkembangan normal, bayi akan menelan cairan ketuban yang kemudian diproses oleh ginjal dan dikeluarkan dalam bentuk urine.

Namun, ketika ginjal dan saluran kemih janin tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, ini akan menimbulkan masalah yang membuat bayi lebih sedikit menghasilkan urine. Akibatnya, jumlah cairan ketuban yang dihasilkan cenderung berkurang.

Berkurangnya cairan ketuban membuat bayi jadi tidak mempunyai bantalan di dalam rahim. Hal ini membuat bayi mengalami tekanan pada dinding rahim, menyebabkan gambaran wajah yang khas dan bentuk tubuh yang tidak biasa. Nah, kondisi inilah yang disebut dengan sindrom Potter.

Yang terjadi apabila bayi mengalami sindrom Potter

Bayi yang mengalami sindrom ini mempunyai ciri-ciri telinga yang lebih ke bawah dari bayi normal, dagu kecil dan tertarik ke belakang, lipatan kulit yang menutupi sudut mata (lipatan epicanthal), serta pangkal hidung melebar.

Kondisi ini juga bisa menyebabkan anggota badan yang lainnya tidak normal. Selain itu, kekurangan cairan ketuban selama kehamilan juga bisa menghambat perkembangan paru-paru bayi, sehingga paru-paru bayi tidak bisa berfungsi dengan baik (hipoplasia paru). Kelainan ini juga bisa menyebabkan bayi mengalami cacat jantung bawaan.

Diagnosis sindrom Potter

Sindrom Potter biasanya sudah mulai terdiagnosis pada masa kehamilan lewat tes ultrasound (USG). Meskipun dalam beberapa kasus, kondisi ini juga baru diketahui setelah bayi lahir.

Tanda-tanda yang bisa dikenali ketika tes USG meliputi kelainan ginjal, kadar cairan ketuban dalam rahim, kelainan paru, dan ciri khas sindrom Potter pada wajah bayi. Sedangkan dalam kasus sindrom potter yang baru diketahui setelah bayi lahir, gejalanya meliputi jumlah produksi urine yang sedikit atau adanya gangguan pernapasan yang menyebabkan bayi kesulitan bernapas (distres pernapasan).

Jika dari hasil diagnosis dokter mencurigai adanya tanda dan gejala sindrom Potter, dokter biasanya akan melakukan tes lanjutan. Hal ini dilakukan untuk menentukan penyebab atau mencari tahu tentang tingkat keparahannya. Beberapa tes lanjutan yang akan dilakukan dokter biasanya meliputi tes genetik, tes urine, X-ray, CT scan, dan tes darah.

Pilihan pengobatan yang bisa dilakukan terkait kondisi ini

Pilihan pengobatan sindrom Potter sebenarnya bergantung pada penyebab kondisinya. Beberapa pilihan pengobatan yang biasanya dokter rekomendasikan bagi bayi yang lahir dengan sindrom Potter di antaranya:

  • Bayi dengan sindrom Potter mungkin memerlukan alat bantu napas. Ini mungkin termasuk resusitasi saat bayi lahir dan ventilasi untuk membantu agar bayi bisa bernapas dengan normal.
  • Beberapa bayi juga mungkin memerlukan tabung makanan untuk memastikan mereka mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.
  • Operasi saluran kemih untuk mengatasi penyumbatan saluran kemih.
  • Jika ada masalah dengan ginjal bayi, cuci darah atau dialisis mungkin dianjurkan sampai pengobatan lain tersedia, misalnya transplantasi ginjal.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Tak heran jika kale kini naik daun di kalangan para pecinta kesehatan. Sayuran hijau ini mengandung segudang manfaat, termasuk untuk kanker payudara.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat 28/05/2020

Cara Diet Turun Berat Badan yang Aman Tanpa Bahayakan Kesehatan

Mau punya berat badan ideal? Diet sehat jawabannya. Namun, agar diet yang Anda lakukan tidak sia-sia, simak dulu panduan lengkap berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Stres dan depresi tidak sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Maka jika penanganannya keliru, depresi bisa berakibat fatal. Cari tahu, yuk!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri

5 Penyebab Mulut Anda Terasa Pahit Saat Puasa

Penyebab mulut terasa pahit saat puasa biasanya tidak berbahaya. Bisa jadi, mulut terasa pahit karena Anda lalai melakukan hal yang satu ini! Apa ya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan 19/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

warna rambut

Warna Rambut Sesuai Karakteristik Diri, yang Manakah Anda?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020
gerimis bikin sakit

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020

Mengapa Perlu Matikan Lampu Saat Tidur?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
resep membuat bakwan

4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020