Cara Membedakan Cairan Ketuban dan Air Kencing

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Ketika Anda hamil, cairan ketuban pecah bisa menjadi hal yang membingungkan para ibu. Terkadang, ibu hamil tidak menyadari apakah itu cairan ketuban atau air kecing. Hal ini membuat para ibu panik setiap ada cairan yang keluar dari daerah kemaluannya. Untuk itu, para ibu hamil perlu mengetahui apa saja perbedaan antara cairan ketuban dan urin.

BACA JUGA: Apa yang Menyebabkan Ketuban Pecah Sebelum Waktunya?

Seperti apa saat cairan ketuban pecah?

Cairan ketuban adalah cairan yang mengelilingi bayi Anda di dalam kandungan. Cairan ini dapat melindungi bayi dari benturan fisik dan juga dari berbagai infeksi. Normalnya, cairan ketuban akan pecah pada awal atau selama proses melahirkan. Namun, terkadang cairan ketuban bisa pecah terlebih dahulu sebelum waktunya. Ini dinamakan sebagai Ketuban Pecah Dini (KPD).

Saat cairan ketuban Anda pecah, Anda biasanya akan merasakan sensasi basah di vagina Anda atau di perineum Anda (otot yang menghubungkan antara vagina dan anus). Cairan ketuban yang keluar ini bisa dalam jumlah kecil atau dalam jumlah besar, dalam waktu sementara atau berlangsung lama.

Anda mungkin mengalami kesulitan saat membedakan apakah yang keluar dari kemaluan Anda adalah cairan ketuban atau urin. Hal ini terjadi terutama jika Anda hanya mengalami sensasi basah atau tetesan cairan. Untuk itu, Anda perlu mengetahui perbedaan cairan ketuban dan urin.

Perbedaan cairan ketuban dan air kencing

Kadang, cairan ketuban pecah hanya sedikit dan sementara sehingga Anda hanya menganggap hal ini sebagai urin atau pipis. Namun ternyata saat Anda periksa ke dokter, cairan ketuban Anda sudah berkurang jumlahnya. Ini mungkin harus diwaspadai agar Anda tidak salah langkah.

Saat cairan ketuban Anda pecah, Anda akan merasakan aliran air atau tetesan air dari vagina Anda dan tidak dapat Anda kendalikan. Tidak seperti urin yang bisa Anda kendalikan kapan harus dikeluarkan dan kapan harus berhenti.

BACA JUGA: Apa yang Terjadi Jika Air Ketuban Rusak?

Setelah Anda menyadari hal ini, sebaiknya tempatkan pembalut di daerah vagina Anda. Kemudian, dari pembalut tersebut Anda bisa memeriksa warna dan bau dari cairan yang keluar. Jika cairan yang keluar dari daerah kemaluan Anda berwarna kuning jernih, kuning pucat, atau kuning kehijauan dan berbau manis atau tidak berbau, itu adalah cairan ketuban. Bau yang dikeluarkan oleh cairan ketuban bisa bervariasi tergantung individu, mulai dari berbau manis sampai berbau pahit, tapi yang paling umum adalah berbau manis. Sedangkan, jika yang keluar adalah urin, cairan tersebut mempunyai bau seperti amonia dan mempunyai warna kuning jernih atau lebih gelap.

Selain itu, jika yang keluar adalah cairan ketuban, Anda mungkin dapat menemukan bintik-bintik merah seperti darah dan lendir seperti keputihan dalam cairan tersebut. Jika Anda mengosongkan kandung kemih Anda atau buang air kecil, tetapi setelah itu masih ada cairan yang keluar. Kemungkinan besar itu adalah cairan ketuban Anda yang pecah.

Apa yang harus dilakukan jika cairan ketuban pecah?

Jika Anda menyadari yang keluar adalah cairan ketuban, sebaiknya segera bawa diri Anda ke dokter. Dokter kemudian akan memeriksa kondisi Anda lebih lanjut dan memutuskan apakah kelahiran Anda masih bisa ditunda atau Anda harus melahirkan sekarang juga. Jika cairan ketuban Anda sudah pecah, sebaiknya jaga kebersihan diri Anda dengan baik. Jangan melakukan hal apapun yang memungkinkan bakteri bisa masuk ke vagina Anda, misalnya saja berhubungan seksual. Hal ini dilakukan karena Anda dan bayi Anda lebih rentan terhadap infeksi setelah cairan ketuban Anda pecah.

BACA JUGA: Cairan Ketuban Sedikit, Dapat Mengurangi Pergerakan Janin

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir

Kalkulator ini dapat memperkirakan kapan hari persalinan Anda.

Cek HPL di Sini
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Sindrom Antifosfolipid (APS)

    Sindrom antifosfolipid, atau antiphospholipid syndrome (APS) adalah penyakit autoimun yang membuat darah mudah menggumpal.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Penyakit Kelainan Darah, Kelainan Trombosit 16 November 2020 . Waktu baca 7 menit

    3 Posisi Seks yang Meningkatkan Peluang agar Cepat Hamil

    Katanya, posisi seks tertentu bisa memudahkan jalan sperma untuk membuahi sel telur. Lantas, apa saja posisi seks yang dianjurkan agar cepat hamil?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Kesuburan, Kehamilan 10 November 2020 . Waktu baca 4 menit

    Pilihan Sumber Asam Lemak Omega 3 yang Aman untuk Ibu Hamil

    Asam lemak omega 3 diperlukan untuk perkembangan otak janin. Namun, tidak semua sumber asam lemak omega 3 untuk ibu hamil aman dikonsumsi. Mana yang aman?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 4 November 2020 . Waktu baca 4 menit

    Amankah Minum Antibiotik Saat Hamil? Ini Penjelasannya

    Ada yang bilang minum antibiotik saat hamil berbahaya. Padahal dalam kasus tertentu, ibu hamil boleh kok, minum antibiotik. Tapi perhatikan hal-hal ini, ya.

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 4 November 2020 . Waktu baca 3 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    minum paracetamol saat hamil

    Minum Paracetamol Saat Hamil, Apakah Aman?

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 18 November 2020 . Waktu baca 3 menit
    pemanis buatan saat hamil

    Apakah Pemanis Buatan Aman untuk Ibu Hamil?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 18 November 2020 . Waktu baca 3 menit
    bayi prematur bertahan hidup

    Seberapa Besar Kemungkinan Bayi Prematur Bertahan Hidup?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 17 November 2020 . Waktu baca 3 menit
    Faktor Rhesus digunakan untuk mengelompokkan golongan darah, selain sistem ABO. Faktor Rhesus juga bisa disebut dengan faktor Rh.

    Mengenal Sistem Rhesus dalam Golongan Darah Anda

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fajarina Nurin
    Dipublikasikan tanggal: 17 November 2020 . Waktu baca 5 menit