home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Lika-liku 9 Tahun Upaya Memiliki Momongan Karena Azoospermia

Lika-liku 9 Tahun Upaya Memiliki Momongan Karena Azoospermia

Sempat menunda 2 tahun untuk memiliki buah hati, kami tak pernah mengira bahwa ada masalah kesuburan dalam diri kami. Pengalaman azoospermia membuat kami harus menunggu dan jatuh bangun merencanakan program kehamilan selama 9 tahun lamanya. Inilah upaya kami mencoba berbagai pengobatan dan tindakan medis selama bertahun-tahun untuk mengatasi azoospermia.

Masalah kesuburan hingga mencoba pengobatan alternatif

Pengalaman Azoospermia, 9 tahun tak kunjung dikaruniai anak

Kami menikah di tahun 2009. Saat itu belum ada niatan sama sekali untuk segera memiliki anak. Selama 2 tahun setelah menikah, kami masih menikmati masa-masa pacaran berdua.

Meski begitu saya tidak memasang KB atau pengaman lainnya sama sekali. Untuk mengantisipasi kehamilan, kami hanya menandai kalender masa subur saja. Kebetulan jadwal menstruasi saya cukup teratur jadi cukup mudah untuk menghitung masa subur.

Dua tahun berlalu begitu cepat. Kami pun mulai merencanakan kehamilan. Saat itu kami merasa telah sama-sama siap untuk memiliki anak. Namun sebulan, dua bulan, hingga setahun usaha kami tak membuahkan hasil. Saya tidak kunjung hamil.

Rasa cemas mulai menyelinap pelan-pelan. Saya sadar di kondisi tersebut mungkin sudah waktunya kami memeriksakan kesuburan. Namun pernyataan itu tak kunjung terlontar baik dari mulut saya maupun suami.

Tak ada cukup keberanian untuk membahas perihal kesuburan. Mungkin juga kami masih sama-sama menyangkal adanya potensi masalah tersebut. Sebab, kami berdua merasa selama ini kami sehat-sehat saja. Di luar itu semua, jika ada salah satu dari kami yang diketahui mandul mungkin akan membuat kami saling menyalahkan atau kecewa. Saya takut itu menjadi kerikil di rumah tangga kami.

Tanpa membicarakan soal potensi kemandulan, kami mulai mencoba pengobatan alternatif. Setiap kali ada teman atau keluarga memberi saran untuk program kehamilan, segera kami ikuti. Pengobatan dengan cara pijat hingga jamu aneka ramuan pun kami coba.

Jelang tiga tahun pernikahan, akhirnya kami memberanikan diri mengunjungi dokter spesialis kandungan dan kebidanan (obgyn). Karena saya dan suami sama-sama bekerja, maka kami harus meminta izin pulang cepat terlebih dulu dari kantor. Setelah itu kami pergi ke salah satu rumah sakit di Depok.

Di sana, dokter tak berkata banyak. Ia hanya menyarankan untuk melakukan hubungan seks di masa subur. Tidak ada USG ataupun cek laboratorium. Kami merasa tak puas dengan hasil konsultasi tersebut.

Selang beberapa bulan, kami mencoba kembali konsultasi ke obgyn berbeda di salah satu rumah sakit di Jakarta Selatan. Dokter tak menyarankan saya agar cek sel telur karena berdasar hasil cek darah dan hormon, kondisi saya normal. Akhirnya pemeriksaan pun difokuskan ke suami saya.

Setelah dianalisis, dokter langsung menyarankan agar suami melakukan cek sperma. Di pemeriksaan tersebut kemudian diketahui bahwa sperm count (jumlah sperma) dalam air maninya hampir tidak ada. Air mani suami saya dinyatakan kosong, tidak mengandung sperma.

Berdasar kondisi tersebut, dokter berkata bahwa peluang hamil secara normal hampir pasti tak ada. Sedangkan untuk melaksanakan IVF (bayi tabung) juga terbilang sulit karena hampir tak ditemukan sperma dalam air mani suami saya.

Vonis itu membuat dokter memberi saran agar kami mengadopsi anak saja. “Saudara saya ada yang tidak bisa punya anak, akhirnya adopsi. Lebih baik coba adopsi saja,” begitu kira-kira ucapan obgyn yang menangani kami saat itu.

Berharap menemukan jawaban dan cara lain, kami melanjutkan pemeriksaan ke dokter spesialis urologi. Kami berniatnya mencari tahu apa penyebab air mani suami saya tak mengandung sperma.

Hasil sperma analisis (SA) menunjukkan hasil yang sama. Kondisi sperma suami saya disebut mengalami Oligo Astheno Teratozoospermia (OAT) yakni kondisi sperma yang sedikit, bentuknya jelek, dan geraknya lambat.

Solusinya, menurut dokter, hanya bisa lewat operasi.

Cemas berganti sedih. Kami hanya bisa menunduk, menekuri diri, tak menyangka mengalami masalah seperti ini. Sedikit banyak saya berharap ada pengobatan alternatif yang bisa membantu kami mengatasi masalah kesuburan suami.

Kondisi azoospermia yang dialami suami

Pengalaman Azoospermia, 9 tahun tak kunjung dikaruniai anak

Selama hampir 2 tahun kami mencoba berbagai pengobatan alternatif, namun tak kunjung membuahkan hasil. Akhirnya suami memberanikan diri untuk berkonsultasi kembali ke dokter spesialis urologi pada 2015. Ia memantapkan hati untuk melakukan operasi.

Berbeda dengan pemeriksaan sebelumnya yang menyatakan ketiadaan sperma sama sekali pada air mani suami saya, pemeriksaan kali menunjukkan suami saya mengalami azoospermia. Azoospermia merupakan kondisi ketika sperma berjumlah sangat sedikit. Ada, tapi jumlahnya sedikit sekali.

Berdasarkan hasil USG, kondisi azoospermia tersebut disebabkan oleh varikokel bilateral, masalah pada pembuluh darah vena di bagian kantung testis atau skrotum. Kondisi ini membuat aliran darah ke testis tidak lancar dan menjadi panas. Testis yang terlalu panas ini membuatnya tidak dapat memproduksi sperma sehat.

Kali ini dokter urologi tersebut memvonis bahwa operasi tak bisa membuat jumlah sperma kembali normal. Kami tentu saja tak puas dengan jawaban tersebut.

Akhirnya kami juga mencoba periksa ke androlog, yakni dokter khusus yang menangani masalah kesuburan pria terutama masalah infertilitas. Suami juga menjalani pemeriksaan kromosom Y dan menunjukkan hasil yang baik. Penyebab utamanya memang varikokel bilateral.

Kali ketiga konsultasi ke spesialis urologi

Pengalaman Azoospermia, 9 tahun tak kunjung dikaruniai anak

Di tahun 2016, kami kembali memberanikan diri periksa ke dokter spesialis urologi untuk meminta saran terapi yang tepat dan kemungkinan program hamil yang bisa dilakukan.

Kami menemui dr. Sigit Solichin, SpU. Ia menyarankan kami untuk melakukan prosedur PESA/TESE (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration). Metode ini dilakukan untuk mengambil sperma langsung dari testis menggunakan jarum halus.

Rencananya, sperma sehat yang diambil langsung dari ‘pabriknya’ ini akan dibekukan untuk proses bayi tabung. Kami mengiyakan saran tersebut dan merasa ada secercah harapan yang selama ini kami cari ke sana kemari.

Tapi sayangnya dari hasil prosedur tersebut hanya ditemukan 1 sperma, itu pun non motile alias tidak bergerak atau bisa disebut mati. Padahal normalnya laki-laki bisa punya puluhan juta sperma, tapi ini cuma satu dan tidak mampu membuahi sel telur.

Dari sekian panjang perjalanan mengunjungi satu klinik ke klinik lainnya, dari pengobatan medis hingga pengobatan alternatif lainnya, kegagalan prosedur ini paling mengguncang mental kami. Rasanya dunia benar-benar runtuh, semua jalan seolah sudah tertutup. Buntu.

Sebab, bayi tabung pun tak bisa kami coba lakukan.

Operasi testis untuk mengobati varikokel bilateral

Pengalaman Azoospermia, 9 tahun tak kunjung dikaruniai anak

Tahun-tahun berlalu, kami kembali mencoba memunguti reruntuhan harapan yang tersisa sedikit demi sedikit. Kalau memang harapan untuk punya anak memang sudah tertutup, paling tidak kami ingin membawa harapan untuk kesehatan suami.

Menurut penjelasan dokter, penyakit varikokel ini bisa menimbulkan beberapa gejala berat di kemudian hari. Sebagai contoh, testis bisa membesar atau mengecil dan berpotensi mengarah pada kanker testis.

Kami kembali mendatangi dr. Sigit Solichin dan melakukan operasi varikokel. Operasi ini bertujuan mengangkat varikokel atau pembuluh vena yang membesar pada skrotum. Puji syukur operasi tersebut berjalan dengan lancar. Suami disarankan untuk menjalani gaya hidup sehat, makan buah, sayur, dan minum suplemen tambahan.

Setelah operasi varikokel, kondisi spermanya membaik. Dalam pemeriksaan, diketahui ia memiliki 11 juta sel sperma, namun yang benar-benar bagus kondisinya hanya sekitar 20%. Hasil itu sudah merupakan mukjizat bagi kami, mengingat kondisi awal yang kosong. Pengalaman azoospermia ini sungguh tak pernah kami sangka.

Saat itu saya ingin sekali rasanya untuk langsung melakukan program bayi tabung. Tapi kondisi keuangan belum siap. Selain itu, kondisi kesehatan kami berdua harus dimaksimalkan.

Akhirnya di awal tahun 2018, kami melakukan program bayi tabung pertama kali di RS Abdi Waluyo dengan metode mini stimulation karena biayanya lebih terjangkau. Tapi sayangnya tidak berhasil.

Tiga bulan kemudian kami mencoba program bayi tabung untuk kedua kalinya di BIC Morula dengan metode stimulasi obat suntik.

Sel telur saya langsung responsif di percobaan pertama. Total ada 3 embrio dengan kualitas bagus dan 1 embrio ditanam di rahim saya. Puji Tuhan, 1 embrio yang ditanam ini berhasil tumbuh dan berkembang dengan baik di kandungan saya.

Saat ini putri kami Kana Anantari Nugroho sudah berusia 2 tahun. Sisa 2 embrio lagi masih dibekukan karena kami masih menyimpan harapan untuk punya anak kedua ketika saya sudah siap untuk perjuangan kehamilan selanjutnya.

Kurnia bercerita untuk pembaca Hello Sehat.

Memiliki kisah atau pengalaman kehamilan yang menarik dan inspiratif? Mari berbagi cerita bersama para orang tua lain di sini.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 3 minggu lalu
x