backup og meta
Kategori
Tanya Dokter
Simpan
Cek Kondisi
Konten

Manfaat Laparoskopi untuk Program Hamil dan Prosedurnya

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 2 minggu lalu

Manfaat Laparoskopi untuk Program Hamil dan Prosedurnya

Beberapa pasangan perlu menjalani operasi laparoskopi sebagai langkah awal untuk mengatasi masalah kesuburan dan mewujudkan impian untuk mendapatkan momongan. Apa sebenarnya manfaat operasi laparoskopi untuk program hamil? Bagaimana prosedur ini dilakukan? Simak pembahasan selengkapnya di bawah ini.

Manfaat laparoskopi untuk program hamil

Laparoskopi (laparoscopy) adalah prosedur bedah minimal invasif. Itu artinya, pembedahan ini dilakukan tanpa harus membuat sayatan terbuka dan berukuran besar pada kulit.

Prosedur operasi ini terdiri dari dua jenis, yaitu laparoskopi diagnostik dan laparoskopi operatif.

Berdasarkan jenisnya tersebut, prosedur laparoskopi untuk program hamil alias promil ini memiliki beberapa manfaat kesehatan sebagai berikut.

1. Menegakkan diagnosis

Prosedur laparoskopi diagnostik membantu dokter memperoleh gambaran lebih rinci dari organ dalam wanita, seperti rahim, ovarium, dan tuba falopi.

Ini akan membantu dokter menegakkan diagnosis untuk penyumbatan tuba falopi, fibroid rahim, dan endometriosis, yang mungkin tidak terdeteksi pada pemeriksaan ultrasound (USG).

2. Mengatasi masalah kesuburan

Selain untuk mendukung diagnosis, operasi juga bisa dilakukan untuk mengatasi masalah yang terjadi secara langsung. Prosedur ini disebut sebagai laparoskopi operatif.

Laparoskopi dapat digunakan untuk menghilangkan endometriosis atau memperbaiki kelainan organ reproduksi wanita yang menyulitkan program hamil.

Pertimbangan sebelum laparoskopi untuk promil

Tidak semua wanita yang mengidap gangguan kesuburan membutuhkan operasi laparoskopi.

Meski prosedur ini memiliki manfaat yang jelas, dokter dapat mempertimbangkan laparoskopi untuk program hamil karena beberapa alasan berikut ini.

  • Infertilitas tidak bisa dijelaskan. Laparoskopi bisa membantu dokter mendiagnosis masalah kesehatan yang tidak terungkap oleh tes kesuburan lainnya, seperti tes darah atau USG.
  • Diagnosis kondisi khusus. Prosedur ini mungkin disarankan bila Anda mengalami gejala tertentu yang berisiko memengaruhi kesuburan, misalnya nyeri panggul dan menstruasi yang tidak teratur.
  • Menurunkan risiko efek samping. Dibandingkan dengan operasi terbuka, metode ini hanya menggunakan beberapa sayatan kecil sehingga membantu menurunkan risiko efek samping pascaoperasi.

Prosedur laparoskopi untuk program hamil

laparoskopi

Sebelum melakukan laparoskopi, dokter akan meminta Anda berpuasa selama 8–12 jam. Dokter juga akan memberikan saran terkait penggunaan obat-obatan.

Laparoskopi dilakukan di rumah sakit. Sebelum operasi, dokter akan memberikan anestesi umum agar Anda tertidur dan tidak merasakan sakit selama prosedur berlangsung.

Setelah anestesi bekerja, dokter akan melakukan beberapa tahapan operasi seperti berikut ini.

  1. Dokter bedah membersihkan area dekat pusar dengan bahan antiseptik, lalu membuat beberapa sayatan kecil dengan panjang sekitar 0,5–1,5 cm.
  2. Melalui sayatan tersebut, dokter memasukkan laparoskop, yakni alat berbentuk tabung tipis dengan kamera dan cahaya di ujungnya, ke dalam rongga perut.
  3. Gas karbon dioksida juga akan dimasukkan ke dalam perut supaya perut mengembang dan organ dalam lebih mudah terlihat.
  4. Kamera pada laparoskop mengirimkan gambar ke monitor sehingga dokter dapar melihat organ reproduksi, seperti rahim, ovarium, dan tuba falopi, dengan jelas.
  5. Jika ditemukan masalah yang memerlukan tindakan, seperti endometriosis, alat bedah kecil akan dimasukkan melalui sayatan tambahan.
  6. Setelah prosedur selesai, alat bedah, gas, dan laparoskop akan dikeluarkan dari perut.
  7. Terakhir, sayatan pada perut akan ditutup dengan jahitan, kemudian luka bekas jahitan akan diperban untuk mencegah infeksi.

Kemudian, Anda akan dibawa ke ruang pemulihan untuk dipantau hingga efek anestesi hilang.

Wanita yang menjalani laparoskopi untuk program hamil bisa pulang ke rumah pada hari yang sama atau setelah rawat inap satu malam, tergantung kondisi masing-masing.

Jika ingin mengikuti perawatan kesuburan, seperti bayi tabung (IVF), dokter akan menyarankan Anda untuk menunggu siklus menstruasi berikutnya sebelum mencoba untuk hamil.

Artikel terkait

Apakah bisa hamil setelah operasi laparoskopi?

Banyak wanita dapat hamil setelah laparoskopi, terutama bila prosedur ini berhasil mengatasi kondisi yang mengganggu kesuburan.

Studi dalam International Journal of Reproductive BioMedicine (2018) menemukan sekitar 30% wanita dengan masalah kesuburan berhasil hamil dalam satu tahun setelah laparoskopi.

Penelitian lain juga membahas manfaat prosedur ini untuk endometriosis, yaitu kondisi ketika jaringan dinding rahim (endometrium) tumbuh dan menumpuk di luar rahim.

Studi yang dimuat dalam International Journal of Gynaecology and Obstetrics (2023) menyebutkan bahwa sebanyak 69,9% wanita dengan endometriosis berhasil hamil setelah operasi laparoskopi.

Selain itu, jarak wanita untuk dapat hamil setelah operasi laparoskopi yakni rata-rata sekitar 10 bulan.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai prosedur ini, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan informasi terbaik.

Kesimpulan

  • Laparoskopi adalah prosedur bedah minimal invasif untuk mendiagnosis dan mengatasi masalah kesuburan, seperti endometriosis.
  • Pembuatan sayatan kecil pada perut untuk memasukkan laparoskop memungkinkan dokter untuk melihat dan menangani kelainan pada organ reproduksi wanita secara langsung.
  • Banyak wanita berhasil hamil dalam 10–12 bulan setelah laparoskopi bila prosedur ini telah berhasil mengatasi kondisi yang menyebabkan gangguan kesuburan.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 2 minggu lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan