Anda sedang hamil? Ayo ikut komunitas Ibu Hamil kami sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Bolehkah Ibu Hamil Makan Jengkol? Ini Penjelasan dari Sisi Medis

Bolehkah Ibu Hamil Makan Jengkol? Ini Penjelasan dari Sisi Medis

Bolehkah ibu hamil makan jengkol? Bagi ibu hamil penyuka makanan menyengat ini, mungkin penasaran dan bertanya-tanya. Ada kekhawatiran makan jengkol saat hamil berdampak pada kondisi janin karena aromanya yang menyengat. Selain itu mungkin khawatir makanan ini memicu kontraksi atau masalah kehamilan lainnya. Untuk meluruskan, berikut penjelasan seputar jengkol untuk ibu hamil dari sisi kesehatan.

Bolehkah ibu hamil makan jengkol?

Secara umum, manfaat jengkol bisa ibu rasakan bila mengonsumsinya dalam jumlah tidak terlalu banyak.

Keterangan dari Data Komposisi Pangan Indonesia, satu buah jengkol utuh, 95 persen bagian buahnya bisa ibu konsumsi dan olah menjadi berbagai jenis makanan.

Dari 100 gram jengkol, memiliki kandungan gizi sebagai berikut:

  • energi: 192 kkal
  • protein: 5,4 gram
  • serat: 1,5 gram
  • kalsium: 4 mg
  • fosfor: 150 mg
  • kalium: 241 mg.

Namun, masih banyak masyarakat menganggap jengkol sebagai makanan tabu untuk ibu hamil.

Berdasarkan Jurnal Ekologi Kesehatan, masyarakat percaya bahwa makan jengkol saat hamil bisa membuat darah menjadi bau dan perut sulit mengecil setelah melahirkan.

Padahal, bila ibu lihat dari kandungan gizi, jengkol mengandung tinggi protein, kalsium, fosfor, dan energi. Semua kandungan tersebut bermanfaat untuk kesehatan ibu hamil juga janin.

1. Membantu pembentukan tulang

Lalu, bolehkah ibu hamil makan jengkol? Jawabannya, boleh asal tidak terlalu banyak, cukup tidak lebih dari 100 gram. Bila ibu lihat dari daftar di atas, kandungan fosfor dan kalsium dalam 100 gram jengkol cukup tinggi.

Mengutip dari Merrion Fetal Health, fosfor dan kalsium berperan penting dalam pembentukan tulang pada ibu dan janin. Pasalnya, 85 persen fosfor dalam tubuh terkumpul pada tulang dan gigi manusia. Sementara itu, sisanya tersebar di berbagai sel dan jaringan tubuh.

2. Mengurangi sembelit

Ada berbagai keluhan saat hamil yang ibu rasakan, salah satunya sembelit terutama ketika masuk trimester tiga. Sembelit saat hamil bisa terjadi karena ukuran rahim yang semakin membesar, mengikuti perkembangan janin.

Pasalnya, rahim yang membesar memberi tekanan pada usus dan rektum sehingga mengganggu proses pengeluaran sisa makanan. Makan jengkol yang tinggi serat bisa mengurangi risiko masalah ibu hamil yang satu ini.

Jenis serat tidak larut air mendukung sistem pencernaan dan meningkatkan massa feses. Ini membuat serat di dalam jengkol bermanfaat untuk mengatasi sembelit.

Kebutuhan serat ibu hamil usia 19-29 tahun adalah 35 gram selama trimester pertama dan 36 gram saat trimester dua juga ketiga. Sementara itu, bila ibu hamil usia 30-49 tahun, kebutuhan seratnya adalah 33 gram pada trimester pertama dan 34 gram pada trimester berikutnya.

[embed-community-8]

Efek samping makan jengkol saat hamil terlalu banyak

Jengkol memang memiliki manfaat untuk kesehatan ibu dan janin. Namun, ibu tetap harus hati-hati bila mengonsumsi makanan beraroma menyengat ini dalam jumlah banyak. Berikut beberapa efek samping bila ibu hamil terlalu banyak makan jengkol.

1. Bayi sulit lahir

Meski ibu hamil boleh makan jengkol, tetap perhatikan jumlahnya. Menurut penelitian dari Global Health Action, ibu hamil yang makan jengkol terlalu banyak, bisa menyebabkan masalah pada proses kelahiran.

Aroma menyengat dan rasanya yang pahit bisa mengganggu perkembangan janin bahkan menyulitkan proses kelahiran bayi.

health-tool-icon

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir-Hello Sehat

Gunakan kalkulator ini untuk menghitung hari perkiraan lahir (HPL) Anda. Ini hanyalah prediksi, bukan sebuah jaminan pasti. Pada umumnya, hari melahirkan sebenarnya akan maju atau mundur seminggu dari HPL.

Durasi siklus haid

28 days

2. Cedera pada ginjal

Dalam dunia kesehatan, ada istilah jengkolisme, ini adalah kondisi langka yang membuat cedera akut pada ginjal. International Medical Case Reports Journal melaporkan bahwa jengkolisme terjadi karena konsumsi jengkol berlebih dan sering terjadi di negara Asia Tenggara.

Kondisi ini bisa menimbulkan beberapa gejala, seperti:

  • nyeri perut,
  • urine keluar sedikit (oliguria),
  • kencing berdarah (hematuria), dan
  • anyang-anyangan (disuria).

Jengkolisme juga termasuk kondisi keracunan karena mengonsumsi jengkol berlebihan. Kalau ibu hamil memang sangat menyukai jengkol, kurangi porsi makan dan jumlahnya.

Sebaiknya, tidak lebih dari 100 gram dan jangka waktunya tidak terlalu sering. Ambil contoh, hanya satu bulan sekali atau bahkan dua bulan.

Punya cerita soal kehamilan?

Ayo gabung dengan komunitas Ibu Hamil Hello Sehat dan temukan berbagai cerita menarik seputar kehamilan.


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hashmi, A., Paw, M., Nosten, S., Darakamon, M., Gilder, M., & Charunwatthana, P. et al. (2018). ‘Because the baby asks for it’: a mixed-methods study on local perceptions toward nutrition during pregnancy among marginalised migrant women along the Myanmar–Thailand border. Global Health Action, 11(1), 1473104. doi: 10.1080/16549716.2018.1473104

Wang, N., Bunawan, N., Rastegar, A., & White, K. (2014). Djenkolism: case report and literature review. International Medical Case Reports Journal, 79. doi: 10.2147/imcrj.s58379

Tobing, V., Afiyanti, Y., & Rachmawati, I. (2019). Food Choices During Pregnancy Periods In Pulau Godang Kari. Jurnal Kesehatan Komunitas, 5(2), 96-100. doi: 10.25311/keskom.vol5.iss2.361

Chahyanto, B., & Wulansari, A. (2018). ASPEK GIZI DAN MAKNA SIMBOLIS TABU MAKANAN IBU HAMIL DI INDONESIA. JURNAL EKOLOGI KESEHATAN, 17(1), 52-63. doi: 10.22435/jek.17.1.140.52-63

Phosphorus in pregnancy | Why you need phosphorus & where you can find phosphorus. (2017). Retrieved 25 April 2021, from https://www.merrionfetalhealth.ie/phosphorus-in-pregnancy/

Data Komposisi Pangan Indonesia – Beranda . (2021). Retrieved 25 April 2021, from https://panganku.org/id-ID/view

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita