home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bolehkah Kita Berolahraga Tanpa Pemanasan Atau Pendinginan?

Bolehkah Kita Berolahraga Tanpa Pemanasan Atau Pendinginan?

Pemanasan sebelum olahraga bermanfaat untuk meningkatkan suhu tubuh dan aliran darah menuju otot. Sementara itu, pendinginan setelah olahraga membantu menstabilkan detak jantung dan tekanan darah yang terpacu selama berolahraga. Lalu, adakah efek buruk jika berolahraga tanpa pemanasan ataupun pendinginan?

Dampak berolahraga tanpa pemanasan

kompres es setelah cedera

Anda mungkin tidak sabar ingin memulai hari dengan berolahraga, tapi jangan lupa melakukan pemanasan. Fungsi utama gerakan ini adalah meningkatkan aliran darah kaya oksigen menuju seluruh tubuh, terutama otot-otot yang bekerja saat berolahraga.

Saat melakukan pemanasan, denyut jantung dan pernapasan turut meningkat sehingga otot memperoleh pasokan oksigen yang cukup. Tidak hanya itu, gerakan khusus seperti jumping jacks dan lunges juga bisa menambah kelenturan tubuh dan mengurangi risiko cedera.

Tanpa pemanasan atau pendinginan, otot tubuh terlalu kaku untuk melakukan berbagai gerakan inti olahraga. Ini disebabkan karena otot masih berada dalam kondisi istirahat. Gerakan inti olahraga justru bisa meningkatkan risiko cedera karena otot belum cukup lentur untuk melakukannya.

Selain itu, olahraga tanpa pemanasan juga membuat otot tubuh cepat lelah dan mudah mengalami nyeri. Pada studi dalam Journal of Science and Medicine in Sport, pelari yang melakukan pemanasan memiliki performa lebih baik dibandingkan mereka yang tidak melakukannya.

Secara umum, gerakan pemanasan tidak sekadar memacu otot dan membuat Anda berkeringat. Pemanasan mempersiapkan tubuh dan pikiran Anda sebelum melakukan aktivitas yang lebih berat. Dengan demikian, tubuh dapat mengantisipasi berbagai tantangan selama berolahraga.

Dampak berolahraga tanpa pendinginan

penyebab pusing setelah olahraga

Bukan hanya pemanasan, olahraga tanpa pendinginan pun tidak disarankan karena berefek negatif terhadap tubuh Anda. Pasalnya, seluruh sistem pada tubuh masih bekerja dengan keras ketika Anda berhenti berolahraga secara tiba-tiba.

Dampak pertama yang mungkin terjadi adalah berkumpulnya darah pada otot. Saat tubuh yang tadinya banyak bergerak tiba-tiba melambat, akan lebih sulit bagi otot untuk mengalirkan darah yang mengandung karbondioksida kembali menuju jantung.

Darah dapat terjebak pada otot atau pada katup dalam pembuluh balik. Kondisi ini bisa mengakibatkan pusing, kepala berkunang-kunang, hingga pingsan. Risikonya lebih besar pada lansia dan bagi Anda yang memiliki riwayat penyakit jantung.

Seperti halnya pemanasan, olahraga tanpa pendinginan juga dapat memicu cedera. Olahraga membuat serat otot memanjang, dan otot memerlukan waktu untuk kembali ke bentuk semula. Tanpa pendinginan, otot yang belum pulih rentan mengalami cedera sekalipun Anda sudah tidak berolahraga.

Pada kasus lainnya, olahraga tanpa pendinginan bisa memperparah kondisi yang disebut delayed onset muscle soreness (DOMS). DOMS adalah nyeri yang muncul pada 24-48 jam setelah berolahraga akibat adanya robekan kecil pada otot.

Darah yang terjebak pada otot, risiko cedera, serta DOMS merupakan tiga faktor yang akan memperlambat pemulihan otot setelah berolahraga. Guna mencegahnya, pastikan Anda meluangkan waktu untuk melakukan pendinginan.

Berapa lama idealnya melakukan pemanasan dan pendinginan?

olahraga saat cedera

Olahraga merupakan kegiatan yang bermanfaat bagi kesehatan. Akan tetapi, rutinitas olahraga tanpa pemanasan atau pendinginan justru dapat menimbulkan efek negatif bagi tubuh Anda.

Berikan waktu setidaknya 10-15 menit untuk melakukan gerakan pemanasan ringan agar otot tubuh Anda siap melakukan gerakan olahraga inti.

Setelah seluruh gerakan inti dilakukan, luangkan kembali waktu yang sama untuk memulihkan tubuh lewat gerakan pendinginan.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Barnes, K., Hopkins, W., McGuigan, M. and Kilding, A. (2015). Warm-up with a weighted vest improves running performance via leg stiffness and running economy. Journal of Science and Medicine in Sport, 18(1), pp.103-108.

Aerobic exercise: How to warm up and cool down. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/fitness/in-depth/exercise/art-20045517 Diakses pada 31 Oktober 2019.

Exercise 101: Don’t skip the warm-up or cool-down. https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/exercise-101-dont-skip-the-warm-up-or-cool-down Diakses pada 31 Oktober 2019.

Don’t Warm Up? You’re Going to Get Injured. https://www.mensjournal.com/health-fitness/dont-warm-up-youre-going-to-get-injured-w490179/ Diakses pada 31 Oktober 2019.

Five Reasons You Shouldn’t Skip Your Cool-down After Exercise. https://www.acefitness.org/education-and-resources/lifestyle/blog/3683/five-reasons-you-shouldn-t-skip-your-cool-down-after-exercise Diakses pada 31 Oktober 2019.

Why Does the Body Have to Cool Down After Exercise? https://www.livestrong.com/article/414362-why-does-the-body-have-to-cool-down-after-exercise/ Diakses pada 31 Oktober 2019.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x