home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bolehkah Olahraga di Tengah Dinginnya Ruangan Ber-AC?

Bolehkah Olahraga di Tengah Dinginnya Ruangan Ber-AC?

Saat berolahraga, tubuh biasanya terasa panas dan gerah hingga mengeluarkan banyak keringat. Hal ini membuat berolahraga di ruangan dingin atau ber-AC kerap jadi pilihan. Namun sebenarnya, bolehkah olahraga di ruangan ber-AC? Simak jawabannya melalui ulasan di bawah ini.

Apa boleh olahraga di ruangan ber-AC?

olahraga dengan gym ball

Kebanyakan tempat fitness atau gym sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan. Hal ini dilakukan untuk mencegah ruangan terlalu panas sehingga para penggunanya tetap nyaman saat berolahraga.

Namun, ketika tujuan berolahraga itu mengeluarkan keringat, bolehkah melakukannya di ruangan ber-AC?

Menurut sebuah penelitian dari jurnal Nutrients, olahraga di ruangan ber-AC atau tempat yang dingin justru dapat memproduksi energi lebih banyak dibandingkan berada di tempat yang panas.

Ini karena tubuh cenderung lebih lama untuk berkeringat. Dengan begitu, durasi olahraga yang dilakukan bisa lebih lama.

Pasalnya, saat tubuh mulai berkeringat, Anda cenderung mudah lelah. Jika sudah mulai lelah, berhenti berolahraga jadi pilihannya.

Selain itu, banyaknya keringat yang keluar juga kerap menjadi acuan bahwa Anda sudah cukup berolahraga hingga akhirnya menyudahinya.

Padahal sebenarnya, banyaknya keringat yang keluar tidak sama dengan intensitas olahraga yang dilakukan.

Oleh itulah, berolahraga di ruangan AC boleh-boleh saja dan tidak membahayakan tubuh.

Namun memang masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apa efek samping dari terlalu sering berolahraga di ruangan ber-AC.

Perlu diketahui juga bahwa berolahraga di tempat yang terlalu panas bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dan membuat Anda berkeringat lebih banyak.

Akibatnya, tubuh kehilangan cairan lebih cepat dan bisa membuat Anda dehidrasi.

Sementara itu, di tengah-tengah sesi olahraga, Anda juga tidak disarankan untuk terlalu sering minum karena bisa meningkatkan risiko kram.

Untuk itu, berolahraga di ruangan ber-AC bisa membuat olahraga jadi lebih nyaman dan mengurangi risiko dehidrasi.

Namun, olahraga di ruangan ber-AC terlalu sering juga tidak baik

aplikasi olahraga di smartphone anda

Bagi sebagian orang, berolahraga di ruangan AC terlalu sering tidak dianjurkan.

Menurut sebuah penelitian dari jurnal Indoor air, gejala asma, alergi jamur, dan alergi debu cenderung lebih cepat muncul ketika beraktivitas dalam ruangan ber-AC.

Terlebih lagi, jika pendingin ruangan tersebut jarang dibersihkan yang membuat bakteri dan kuman menjadi lebih cepat menyebar di udara.

Selain itu, seperti yang dilansir dari laman CDC, penyebaran infeksi bakteri Legionella juga lebih cepat dalam ruangan ber-AC.

Infeksi bakteri Legionella dapat menyebabkan penyakit Legionnaire yang dapat menginfeksi paru-paru Anda.

Ini karena selain di air, bakteri ini juga bisa menyebarkan infeksinya melalui pendingin ruangan. Hal tersebut dikarenakan AC mempunyai struktur yang mengandung air dan kipas angin.

Oleh karena itu, hindari terlalu sering berolahraga di ruangan AC terlebih jika Anda punya penyakit asma, alergi, dan penyakit pernapasan lainnya.

Suhu ideal olahraga di ruangan ber-AC

efek seharian di ruangan ber AC

Ketika Anda berolahraga di ruangan ber-AC, sebaiknya atur suhu menjadi 20-22°C atau sesuai batas kemampuan tubuh menahan dingin.

Jika Anda khawatir pendingin ruangan akan menghambat tubuh mengeluarkan keringat, mungkin Anda bisa menggunakan kipas angin.

Intinya, pastikan suhu ruangan tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Terlalu dingin bisa menghambat keringat untuk keluar sedangkan terlalu panas bisa berujung pada dehidrasi.

Keuntungan berolahraga di dalam ruangan

Berolahraga di dalam ruangan termasuk ruangan ber-AC punya manfaat tersendiri.

Seperti yang dilansir dari laman MedClique, ada beberapa keuntungan yang bisa Anda peroleh dengan melakukan aktivitas fisik di dalam ruangan, seperti:

  • Lebih nyaman, karena Anda dapat menggunakan peralatan fitness yang ada dan memiliki ruangan khusus untuk berolahraga.
  • Tidak tergantung oleh cuaca dan risiko terkena polusi udara lebih sedikit.

Olahraga di ruangan ber AC memang tidak dilarang dan bisa jadi pilihan. Walaupun demikian,berolahraga pada pagi atau sore hari di luar ruangan saat cuaca tidak terlalu panas juga bisa dicoba.

Sumber Foto: Men’s Journal

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Charlot, Keyne et al. “Influence of Hot and Cold Environments on the Regulation of Energy Balance Following a Single Exercise Session: A Mini-Review.” Nutrients vol. 9,6 592. 10 Jun. 2017, doi:10.3390/nu9060592 accessed Oct 9 2019. 

Full Velocity Fitness (2016). Should You Turn The A.C On While Working Out? Accessed Oct 9 2019.

Livestrong.  Is it better to workout in the cold or hot? Accessed Oct 9 2019. 

MedClique. The Pros and Cons of an Outdoor and Indoor Workout. Accessed Oct 9 2019. 

Mendell, M., Lei-Gomez, Q., Mirer, A., Seppnen, O., & Brunner, G. (2008). Risk factors in heating, ventilating, and air-conditioning systems for occupant symptoms in US office buildings: the US EPA BASE studyIndoor Air18(4), 301-316. doi: 10.1111/j.1600-0668.2008.00531.x Accessed Oct 18 2019.

Legionnaires Disease Cause and Spread | Legionella | CDC. (2019). Retrieved 18 October 2019, from https://www.cdc.gov/legionella/about/causes-transmission.html

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal diperbarui 21/11/2019
x