home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Pentingnya Mencari Second Opinion untuk Diagnosis Dokter

Pentingnya Mencari Second Opinion untuk Diagnosis Dokter

Ketika berkonsultasi dengan dokter, Anda pasti menginginkan diagnosis yang jelas, meyakinkan, dan bisa dipertanggungjawabkan, terutama untuk masalah kesehatan yang cukup serius. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan bahwa dokter yang Anda kunjungi menentukan diagnosis yang sulit dipercaya. Entah itu karena dokter tidak menyampaikan informasi dan diagnosis secara jelas, atau karena ada kekeliruan dalam membaca hasil pemeriksaan sehingga diagnosis yang diberikan kurang sesuai. Dalam kasus ini, Anda sebaiknya mencari second opinion. Second opinion dalam hal medis artinya inisiatif dari pasien untuk memperoleh pendapat lain dari dokter yang berbeda, terhadap keluhan atau penyakit yang sama, setelah mendapatkan diagnosis dari dokter pertama.

Second opinion tidak sama dengan rujukan,karena kasus rujukan biasanya terjadi saat pasien butuh pemeriksaan lanjutan dengan dokter spesialis yang ahli dalam bidang tertentu, yang tidak dikuasai oleh dokter pertama Anda. Selain itu, rujukan juga mengharuskan adanya surat pernyataan dari dokter pertama untuk dokter rujukan.

Kapan Anda membutuhkan second opinion?

Menurut dr. Jerome Groopman, disari dari situs WebMD, ada beberapa situasi di mana second opinion sangat dibutuhkan oleh pasien. Pada dasarnya, jika pasien didiagnosis dengan penyakit yang mengancam nyawa, Anda perlu mencari second opinion. Situasi lain di mana Anda perlu mempertimbangkan second opinion antara lain adalah sebagai berikut.

  • Pengobatan yang ditawarkan sangat berisiko, misalnya operasi kraniotomi (pembedahan tengkorak kepala) bagi penderita stroke.
  • Pengobatan yang ditawarkan masih sangat baru dan bersifat eksperimental.
  • Anda ingin berpartisipasi dalam sebuah uji klinis.
  • Anda didiagnosis dengan penyakit langka.
  • Penyakit yang didiagnosis sering disalahpahami, misalnya Gangguan Defisit Atensi/ Hiperaktivitas pada anak di bawah usia 6 tahun. Kadang dokter menjatuhkan diagnosis ini padahal gejalanya sangat mirip dengan sifat-sifat alami anak pada usia tersebut. Banyak juga dokter yang salah mendiagnosis sakit maag sebagai radang usus buntu.
  • Penyakit yang didiagnosis membutuhkan perawatan dan pengobatan jangka panjang, misalnya epilepsi atau tuberkulosis paru.

Perlukah memberi tahu dokter Anda kalau Anda mencari second opinion?

Anda sebaiknya memberi tahu dokter Anda jika Anda memutuskan untuk mencari pendapat lain dari dokter yang berbeda. Jangan segan dan takut menyinggung dokter Anda, karena mencari second opinion merupakan hak pasien yang tidak dapat diganggu gugat. Seperti ditulis oleh Kompas, hak ini telah diatur dalam Undang-undang nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Dengan bersikap terbuka pada dokter Anda, diskusi dan konsultasi akan jadi lebih lancar dan jelas.

Selain itu, Anda perlu menunjukkan resume medis Anda pada dokter kedua yang Anda kunjungi. Mintalah resume medis Anda dari dokter dan fasilitas kesehatan yang Anda kunjungi pertama kali. Dengan begitu, informasi atau hasil pemeriksaan yang telah Anda jalani jadi lebih mudah untuk dianalisis.

Tips mencari second opinion

Jika Anda telah memutuskan untuk mencari second opinion, bagian yang tersulit mungkin adalah memberi tahu dokter Anda. Namun, hal ini tetap penting untuk dilakukan. Cobalah untuk bertanya pada dokter Anda, siapa yang akan dia temui untuk mencari pendapat lain jika dokter Anda tersebut divonis kanker yang sama dengan Anda, misalnya. Anda juga bisa menyampaikan pada dokter Anda bahwa keluarga Anda menyarankan pemeriksaan dengan ahli lain sebelum Anda memulai perawatan yang ditawarkan. Jangan khawatir saat mendiskusikan hal ini karena mencari second opinion merupakan hal yang sangat lumrah terjadi di dunia medis.

Usahakan untuk mencari second opinion di fasilitas kesehatan atau rumah sakit yang berbeda. Hal ini tentu akan menghabiskan waktu dan biaya lagi, tapi hasil yang Anda dapat bisa jadi cukup signifikan. Biasanya dalam satu fasilitas kesehatan yang sama, dokter-dokternya memiliki pandangan dan pemahaman teori yang serupa. Sementara itu, yang Anda butuhkan ketika mencari second opinion adalah perspektif yang berbeda untuk mendukung atau membuktikan kesalahan pada diagnosis pertama Anda.

Saat Anda mencari dokter lain, pastikan bahwa dokter yang Anda temui memiliki kompetensi yang sama atau lebih baik dari dokter yang pertama kali menjatuhkan diagnosis. Anda juga bisa memilih dokter dengan spesialisasi yang berbeda untuk menegaskan diagnosis yang Anda terima, tapi sebaiknya lakukan penelitian terlebih dahulu lewat internet dan konsultasi dengan dokter pertama atau tenaga kesehatan di rumah sakit. Dengan melakukan hal ini, Anda jadi lebih paham soal seluk-beluk gejala dan penyakit yang Anda alami sehingga Anda tahu hal-hal apa saja yang harus Anda pastikan dan tanyakan ketika mencari second opinion.

Risiko mencari second opinion

Sebelum Anda mencari second opinion, Anda harus benar-benar memahami risikonya terlebih dahulu. Apabila Anda mendapatkan second opinion yang berbeda dari hasil diagnosis pertama, ada kemungkinan Anda harus mengulang lagi dari awal pengobatan yang sudah setengah jalan.

Atau jika Anda belum memulai pengobatan dan perawatan apa pun, diagnosis baru yang Anda terima bisa jadi justru membuat Anda semakin tidak yakin. Akibatnya Anda perlu ke dokter lain lagi untuk mencari third opinion atau pendapat ketiga.

Namun, jika memang dirasa perlu, tak ada salahnya mencoba mencari second opinion agar Anda jadi lebih percaya diri dan optimis dengan pengobatan yang akan Anda jalani.

BACA JUGA:

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Should I Get A Second Opinion? http://www.cfah.org/prepared-patient/make-good-treatment-decisions/should-i-get-a-second-opinion Diakses pada 28 September 2016.

How to Ask for a Second Opinion. http://www.webmd.com/health-insurance/how-to-ask-for-second-opinion Diakses pada 28 September 2016.

5 Diagnoses That Call for a Second Opinion. http://www.webmd.com/women/features/5_diagnoses-that-call-for-a-second-opinion#1 Diakses pada 28 September 2016.

Pentingnya Second Opinion ke Dokter Lain. http://health.kompas.com/read/2013/04/11/15573366/pentingnya.quotsecond.opinionquot.ke.dokter.lain Diakses pada 28 September 2016.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Irene Anindyaputri
Tanggal diperbarui 07/10/2016
x