Cegah Bahaya Rabies dengan Vaksin, Kapan Harus Melakukannya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 23 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Penyakit rabies atau yang lebih dikenal sebagai penyakit anjing gila bisa menyebabkan kelumpuhan atau bahkan kematian. Virus rabies berpindah ketika seseorang tergigit oleh hewan yang telah terjangkit virus sebelumnya. Pada awalnya, penyakit rabies tidak menunjukkan gejala yang parah, tapi jika terus dibiarkan bisa menyebabkan kematian. Supaya terbebas dari bahaya virus ini, Anda bisa mengandalkan vaksin rabies.

Siapa saja yang membutuhkan vaksin rabies?

Rabies merupakan penyakit zoonosis (berasal dari hewan) yang disebabkan oleh infeksi lyssavirus. Infeksi virus ini menyerang sistem saraf manusia yang kemudian berpindah ke otak.

Meskipun pada awalnya rabies tidak langsung memunculkan gejala, penyakit ini hampir selalu menimbulkan akibat fatal setelah gejalanya muncul.

Maka dari itu, setiap orang memang sebaiknya memperoleh vaksin antirabies. Namun, orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus rabies sangat dianjurkan untuk melakukan vaksinasi.

Orang yang rentan terinfeksi adalah orang yang profesinya berhubungan langsung dengan hewan. Kelompok berisiko yang perlu mendapatkan vaksin rabies adalah:

  • Dokter hewan
  • Peternak hewan
  • Pekerja atau peneliti laboratorium yang penelitiannya melibatkan hewan yang bisa terinfeksi rabies
  • Orang yang bepergian ke daerah endemis rabies

Di samping itu, orang yang tergigit hewan – terutama anjing, tikus, dan hewan liar – baik yang diketahui terinfeksi rabies maupun yang tidak terinfeksi  juga perlu mendapatkan vaksin.

Dalam penanganan gigitan hewan, vaksin rabies dapat mencegah timbulnya gejala rabies yang bisa mengakibatkan gangguan saraf dan kelumpuhan.

Dua jenis vaksin antirabies (VAR)

Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, ada dua jenis vaksin antirabies (VAR) yaitu Profilaksis Pra-Pajanan (PrPP) dan Profilaksis Pasca Pajanan (PEP). Kedua vaksin ini dapat memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit rabies selama bertahun-tahun.

Perbedaan keduanya adalah waktu pemberian vaksin. Salah satu vaksin digunakan sebagai pencegahan sebelum terjadinya infeksi virus, dan yang lainya untuk mengantisipasi kemunculan gejala setelah Anda terpapar virus.

PrPP: vaksin untuk pencegahan awal

Vaksin PrPP merupakan vaksinasi untuk pencegahan yang diberikan sebelum adanya paparan atau infeksi virus rabies. Vaksin ini berguna dalam mebentuk antibodi agar imunitas tubuh mampu melawan infeksi virus rabies dari awal.

Kelompok orang yang paling berisiko terhadap paparan virus rabies perlu mendapatkan vaksin PrPP.Untuk pencegahan rabies dengan efektif, ada 3 dosis vaksin PrPP yang harus diberikan, yaitu:

  • Dosis 1 : Diberikan sesuai jadwal perjanjian dengan dokter
  • Dosis 2: Diberikan 7 hari setelah dosis 1
  • Dosis 3: Diberikan 21 hari atau 28 hari setelah dosis 1

Dosis vaksin ini mungkin bisa ditambahakan apabila Anda termasuk orang yang berisiko sangat tinggi terinfeksi virus rabies.

PEP: vaksin setelah terinfeksi virus

Penyuntikan vaksin juga perlu segera dilakukan setelah seseorang terkena virus rabies. Dokter akan menyuntikkan vaksin PEP setelah membersihkan luka akibat gigitan hewan seperti tikus, anjing, dan kelelawar.

Hal ini ditujukan agar virus tak makin menyebar dan menimbulkan gejala rabies yang berbahaya seperti kerusakan saraf dan kelumpuhan.

Jumlah dosis vaksin antirabies yang diberikan pasca-infeksi untuk setiap orang mungkin berbeda-beda, tergantung apakah pasien telah mendapatkan vaksin PrPP atau belum.

Biasanya, seseorang yang sudah terkena virus rabies dan belum pernah divaksinasi, harus mendapatkan 4 dosis vaksin antirabies, dengan ketentuan seperti berikut ini.

  • Dosis segera: diberikan langsung setelah Anda tergigit hewan atau terpapar virus rabies.
  • Dosis tambahan: diberikan pada hari ke-3, ke-7, dan ke-14 setelah dosis segera diberikan.

Bagi seseorang yang sebelumnya sudah menjalani vaksinasi PrPP memerlukan 2 dosis vaksin antirabies PEP.

  • Dosis segera: diberikan segera setelah terpapar virus rabies.
  • Dosis tambahan: diberikan 3 hari setelah dosis segera diberikan.

Menurut studi dari jurnal Clinical Medicine, suntikan rabies imunoglobulin (RIG) juga diperlukan pada tahap pemberian dosis segera. RIG mampu menetralisasi virus rabies di dalam tubuh dan memberikan perlindungan efektif selama 7-10 hari.

Namun, pasien yang telah memperoleh vaksin PrPP lengkap (3 dosis vaksin) tidak lagi memerlukan suntikan rabies imunoglobulin (RIG).

Meskipun vaksinasi masih bisa dilakukan setelah terinfeksi virus rabies, pencegahan bahaya rabies melalui vaksin tetap lebih efektif dilakukan sebelum Anda terinfeksi.

Apakah ada efek samping dari vaksin rabies?

penyebab sakit kepala dan mata serta pusing

Secara umum tidak ada efek samping yang berarti dari vaksin antirabies. Setelah melakukan vaksin, biasanya muncul beberapa efek samping ringan, tapi gangguan bisa mereda dengan sendirinya.

Efek samping dari vaksin antirabies yang mungkin muncul yaitu:

  • Nyeri, bengkak, kemerahan di area kulit yang divaksin
  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Otot terasa sakit
  • Nyeri sendi
  • Demam
  • Bintik-bintik gatal pada kulit

Efek samping serius dari vaksin antirabies memang jarang terjadi. Namun, ada beberapa kondisi yang membuat Anda tidak boleh mendapatkan vaksin ini, seperti:

  • Memiliki alergi terhadap kandungan obat dalam vaksin.
  • Mengidap HIV/AIDS atau penyakit kanker.
  • Mengonsumsi obat yang memiliki efek melemahkan sistem imun.
  • Sedang hamil atau menyusui.

Jika memang hal tersebut terjadi pada Anda, sebaiknya konsultasikan dulu pada dokter sebelum melakukan vaksin rabies.

Vaksin rabies untuk hewan

Perlindungan dari vaksin terhadap virus rabies sebaiknya juga diberikan pada hewan peliharaan yang berisiko terinfeksi seperti anjing dan kucing. Hal ini termasuk dalam upaya pencegahan rabies pada manusia.

Vaksinasi untuk hewan peliharaan bisa mulai dilakukan saat hewan berumur kurang dari 3 bulan untuk 1 dosis vaksin. Dosis selanjutnya akan diberikan ketika berumur lebih dari 3 bulan. Setelahnya, 1 dosis vaksin lanjutan (booster) akan diberikan sekali setiap tahunnya.

Vaksin antirabies tak hanya berguna untuk perlindungan sebelum infeksi, tapi juga untuk pencegahan setelah infeksi.

Mengingat penyakit rabies yang bisa menimbulkan dampak serius, termasuk risiko kematian yang tinggi,  mendapatkan vaksin jauh lebih baik untuk kesehatan dibandingkan terjangkit penyakit infeksi ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tak Hanya Anak, Imunisasi Juga Penting untuk Orang Dewasa

Tak hanya bayi dan balita, orang dewasa juga perlu perlindungan dari penyakit menular lewat imunisasi. Apa saja jenis vaksin yang dibutuhkan orang dewasa?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Infeksi 21 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Hal yang Harus Dilakukan Orangtua saat Lupa Jadwal Imunisasi Anak

Terkadang orangtua lupa dengan jadwal imunisasi sehingga terlambat imunisasi. Apa yang harus dilakukan bila anak telat imunisasi?

Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Ini Manfaat, Jadwal, Sampai Perbedaan Vaksin dan Imunisasi yang perlu Dipahami Orangtua

Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya di kemudian hari. Untuk lebih jelasnya, berikut semua hal yang perlu diketahui.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 2 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
vaksin covid-19

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
imunisasi tetanus (tt) pada ibu hamil

Imunisasi Tetanus (TT) pada Ibu Hamil, Aman atau Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
ketahanan vaksin

Berapa Lama Ketahanan Vaksin Bekerja di Dalam Tubuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit