Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Kondisi Malaria dan Penanganannya Selama Pandemi COVID-19

Kondisi Malaria dan Penanganannya Selama Pandemi COVID-19

Kasus positif COVID-19 di Indonesia masih terus bertambah setiap harinya. Oleh karena itu kita harus tetap waspada dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Selain menghadapi pandemi COVID-19, masyarakat juga dihantui dengan masih maraknya penyakit malaria. Bagaimana kondisi penanganan malaria selama pandemi?

Meningkatnya kasus malaria selama pandemi COVID-19

Malaria merupakan penyakit infeksi serius yang disebabkan oleh parasit. Ada empat jenis parasit yang bisa menginfeksi manusia, tetapi yang paling umum adalah Plasmodium falciparum. Bila tidak ditangani dengan baik, malaria bisa berakibat fatal.

Menurut data terbaru dari WHO, kasus malaria meningkat selama berlangsungnya pandemi COVID-19. Ada sekitar 241 juta kasus malaria dan 627 ribu kematian akibat malaria di seluruh dunia selama 2020. Dibanding tahun 2019, prevalensi meningkat 14 juta kasus dengan jumlah kematiannya bertambah 69.000.

Selama pandemi COVID-19 berlangsung, masalah kesehatan dipusatkan pada pencegahan penularan guna menekan laju kasus dan penanganan COVID-19. Kondisi ini turut memengaruhi pengendalian penyakit lainnya seperti malaria.

Sekitar dua pertiga kasus kematian akibat malaria di masa pandemi terkait dengan terhambatnya pencegahan, pemeriksaan, dan pengobatan malaria di masa pandemi. Selain akses ke rumah sakit yang terganggu, gejala malaria seperti demam, batuk, diare, dan nyeri otot serupa dengan gejala COVID-19.

Kemiripan gejala membuat petugas kesehatan sulit menegakkan diagnosis. Selain itu, pasien malaria kerap mengira bahwa dirinya terinfeksi COVID-19.

Hal tersebut membuat banyak pasien enggan memeriksakan kondisinya karena adanya stigma terhadap pasien COVID-19. Mereka takut, jika benar terinfeksi COVID-19, mereka akan dijauhi dan dianggap sebagai penyebar virus.

Kekhawatiran yang timbul di masyarakat ini menambah daftar faktor penyebab keterlambatan penanganan malaria selama pandemi.

Pemeriksaan dan penanganan malaria di tengah pandemi COVID-19

Mengingat malaria dapat memberikan dampak yang serius, maka hal yang harus Anda lakukan adalah menjalani pemeriksaan penyakit ini ketika mengalami gejala.

Hal ini amat perlu demi mencegah risiko koinfeksi yang dialami pasien. Koinfeksi adalah kondisi ketika pasien memiliki dua infeksi penyakit secara bersamaan. Dalam hal ini, pasien bisa saja terkena malaria dan COVID-19.

Untuk memudahkan diagnosis malaria atau COVID-19 selama berlangsungnya pandemi, maka Kementerian Kesehatan menyarankan pasien untuk melakukan Rapid Diagnostic Test (RDT).

Prosedur ini bertujuan untuk mengetahui apakah pasien memiliki riwayat malaria atau COVID-19, melakukan kontak dengan orang positif COVID-19, dan apakah pasien baru saja melakukan perjalanan atau tinggal di daerah endemis malaria.

Pada pasien dewasa yang terinfeksi malaria dengan gejala COVID-19 ringan, penanganannya dapat meliputi pemberian obat malaria klorokuin/hidroksiklorokuin, azitromisin, dan piperakuin. Jika pasien mengalami komplikasi malaria, maka pasien harus dirujuk ke rumah sakit.

Sedangkan pasien malaria dengan gejala COVID-19 sedang hingga berat harus diberi obat malaria menggunakan artesunate injeksi selama tujuh hari.

Pencegahan malaria selama pandemi

Siapa saja bisa terkena malaria, baik tua maupun muda. Musim hujan membuat penularan malaria jadi lebih rentan terjadi, sebab pada musim tersebut nyamuk pembawa penyakit lebih mudah berkembang biak.

Seperti yang telah diketahui, penularan penyakit dapat terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles yang membawa parasit. Maka dari itu, pencegahan utama malaria yang harus dilakukan tentu adalah menghindari gigitan nyamuk.

Gunakan losion anti nyamuk pada kulit atau semprotkan obat nyamuk di lingkungan tempat tinggal Anda. Pilihlah produk yang mengandung dietiyoluamida (DEET) yang bisa bekerja efektif untuk membasmi nyamuk.

Kenakan celana dan baju lengan panjang yang berbahan ringan dan longgar. Ini penting terutama bila digunakan di sore dan malam hari. Sebab, nyamuk lebih sering menggigit pada saat-saat tersebut.

Selain itu, berdasarkan Protokol Layanan Malaria Dalam Masa Pandemi COVID-19, Kementerian Kesehatan juga menyarankan penggunaan kelambu anti nyamuk di daerah-daerah yang risiko penularan malarianya tinggi.

Karena masa pandemi masih berlangsung, masyarakat tetap harus menghindari pengumpulan massa dan pelibatan komunitas dalam jumlah banyak. Bila ada acara yang tetap dilaksanakan, maka terapkan jaga jarak fisik dari orang lain.

Fokus


Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

More Malaria Cases and Deaths in 2020 linked to COVID-19 Disruptions. (2021). World Health Organization. Retrieved 3 January 2022, from https://www.who.int/news/item/06-12-2021-more-malaria-cases-and-deaths-in-2020-linked-to-covid-19-disruptions

Malaria. (2021). National Health Service. Retrieved 3 January 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/malaria/prevention/

Protokol Layanan Malaria Dalam Masa Pandemi COVID-19. (2020). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Retrieved 3 January 2022, from https://infeksiemerging.kemkes.go.id/download/Protokol_Layanan_Malaria_Dalam_Masa_Pandemi_Covid-19.pdf

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.