home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Lalat Tse Tse, Serangga Berbahaya di Balik Penyakit Tidur (Sleeping Sickness)

Mengenal Lalat Tse Tse, Serangga Berbahaya di Balik Penyakit Tidur (Sleeping Sickness)

Ketika Anda sedang bersantai, melihat lalat beterbangan di sekitar Anda rasanya cukup mengganggu. Meski sepintas tidak membahayakan, ternyata ada jenis lalat yang bisa menggigit dan membawa penyakit infeksi. Salah satunya adalah lalat Tse Tse, yang menjadi penyebab penyakit tidur atau sleeping sickness.

Apa itu lalat Tse Tse?

Lalat tse tse adalah jenis lalat yang bisa menularkan parasit penyakit tidur alias sleeping sickness. Lalat ini banyak ditemukan di benua Afrika, khususnya di sub-Sahara Afrika.

Lalat Tse Tse memiliki tubuh dengan ciri-ciri warna kuning kecokelatan, dan berukuran sekitar 6-14 mm. Ciri khas yang membedakan lalat Tse Tse dengan lalat biasa adalah terdapat moncong menyerupai jarum di kepalanya.

Dengan adanya moncong berbentuk jarum ini, lalat Tse Tse bisa menggigit makhluk hidup lainnya, termasuk manusia. Dari gigitan lalat inilah parasit penyebab berbagai penyakit bisa ditularkan, seperti penyakit tidur.

Lalat ini menyukai tempat dengan banyak tumbuhan dan pepohonan. Biasanya, lalat Tse Tse banyak ditemukan bersarang di hutan hujan yang dialiri sungai.

Bagaimana bisa lalat Tse Tse sebabkan penyakit tidur?

Gigitan serangga yang berbahaya memang bisa membawa berbagai macam penyakit. Beberapa di antaranya adalah malaria dan chikungunya, yang disebabkan oleh gigitan nyamuk.

Namun, tak hanya gigitan nyamuk yang bisa membawa penyakit infeksi, tetapi juga gigitan dari lalat jenis tertentu. Lalat Tse Tse adalah dalang di balik penularan penyakit tidur, atau yang memiliki nama lain sleeping sickness dan human African trypanosomiasis.

Sebenarnya, apa itu penyakit tidur? Penyakit ini disebabkan oleh infeksi parasit berjenis Trypanosoma, dan bisa memengaruhi kelenjar getah bening, sistem saraf, bahkan otak manusia.

Penyakit ini paling banyak ditemukan di benua Afrika, tempat di mana lalat Tse Tse berasal. Menurut WHO, lebih dari 60 juta orang yang tinggal di wilayah Afrika Timur, Barat, dan Tengah berisiko terkena penyakit tidur.

Untungnya, jumlah kasus baru dari penyakit ini telah menurun sebanyak 95% sejak tahun 2000-2018. Maka itu, WHO berupaya untuk membasmi penyakit ini secara tuntas, hingga kasus kejadiannya diharapkan mencapai 0 pada tahun 2030.

Penyakit tidur terdiri dari 2 fase, yaitu:

  • Fase hemolimfatik
    Setelah lalat menggigit tubuh manusia, parasit Trypanosoma akan masuk serta berlipat ganda di dalam darah dan kelenjar getah bening. Masa inkubasi yang dibutuhkan oleh parasit hingga menimbulkan gejala biasanya bervariasi, mulai dari beberapa hari, bulan, hingga tahun.
  • Fase meningoensefalitik
    Seiring dengan berjalannya waktu, parasit tersebut dapat menyebar hingga ke otak dan menyerang sistem saraf pusat manusia. Kondisi inilah yang cukup berbahaya dan membutuhkan pertolongan medis sesegera mungkin.

Jenis-jenis penyakit tidur

Penyakit tidur sendiri dapat dibagi menjadi 2 jenis, tergantung pada jenis parasit Trypanosoma yang menyebabkannya, yaitu:

  • Trypanosoma brucei gambiense
    Parasit jenis Trypanosoma brucei gambiense ditemukan di 24 negara di Afrika Barat dan Tengah. Parasit T. brucei gambiense adalah penyebab dari 98% kasus penyakit tidur dan bisa menimbulkan gejala infeksi kronis.Seseorang yang terinfeksi parasit jenis ini melalui gigitan lalat Tse Tse bisa saja tidak mengalami gejala apa pun selama berbulan-bulan, bahkan beberapa tahun. Jika gejala sudah muncul, itu artinya penyakit tidur sudah berada di fase yang parah dan memengaruhi sistem saraf pusat penderita.
  • Trypanosoma brucei rhodesiense
    Parasit jenis ini ditemukan di 13 negara di Afrika Timur dan Selatan. Trypanosoma brucei rhodesiense ditemukan pada 2% kasus penyakit tidur, dan menimbulkan gejala-gejala yang bersifat akut.Jika seseorang terinfeksi parasit ini, tanda-tanda dan gejalanya akan muncul dalam beberapa minggu atau bulan. Perkembangan penyakit juga jauh lebih cepat dibanding dengan T. brucei gambiense.

Selain pada manusia, parasit Trypanosoma juga dapat menginfeksi hewan liar dan ternak lewat gigitan lalat Tse Tse, khususnya yang berjenis T. brucei rhodesiense. Pada hewan ternak, infeksi penyakit ini disebut dengan Nagana.

Gejala-gejala penyakit tidur akibat lalat Tse Tse

Meski kasus kejadiannya sudah menurun secara signifikan, ada baiknya Anda tetap mewaspadai penyakit tidur dan mengenal apa saja gejala-gejalanya.

Pada fase awal, pasien yang terserang infeksi parasit Trypanosoma mungkin akan mengalami gejala-gejala berikut:

  • Sakit kepala
  • Demam yang muncul setiap beberapa hari atau bulan
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher belakang
  • Malaise (tidak enak badan)
  • Tubuh terasa lelah
  • Ruam kulit
  • Nyeri sendi
  • Penurunan berat badan

Jika penyakit tidur telah memasuki fase kedua, gejala-gejala yang dirasakan akan semakin parah karena parasit telah menginfeksi otak dan sistem saraf pusat. Berikut gejalanya:

  • Waktu tidur yang berubah
  • Insomnia
  • Sering mengantuk tanpa sebab
  • Gangguan mental (halusinasi, kecemasan, sulit fokus, emosi tidak stabil)
  • Gangguan motorik (sulit berbicara normal, tremor, kesulitan berjalan, otot melemah)
  • Penglihatan buram
  • Kejang
  • Koma

Tanpa penanganan yang tepat, infeksi akibat gigitan lalat Tse Tse ini bisa mengakibatkan kematian dalam waktu beberapa minggu hingga bulan.

Jika Anda mulai merasakan gejala-gejala yang tidak wajar, terutama setelah pulang dari wilayah Afrika, sebaiknya segera periksa ke dokter untuk mendapatkan hasil diagnosis dan pengobatan yang sesuai.

Pasalnya, gejala-gejala di atas juga sering kali ditemukan di penyakit atau kondisi kesehatan lainnya, sehingga Anda mungkin tidak mengenalinya sebagai gejala penyakit tidur.

Bagaimana cara mengobati penyakit ini?

Sebelum menentukan pengobatan yang sesuai, dokter perlu mendiagnosis terlebih dahulu kondisi atau penyakit apa yang sedang Anda derita.

Dalam proses diagnosis, dokter akan menanyakan terlebih dahulu gejala-gejala yang Anda alami, serta riwayat perjalanan Anda. Apabila Anda baru saja pulang dari Afrika dan dokter menduga adanya infeksi parasit Trypanosoma, Anda perlu menjalani tes tambahan.

Tes tambahan dapat terdiri dari metode-metode berikut:

  • Tes darah
  • Lumbar pungsi atau spinal tap
  • Pemeriksaan cairan dari kelenjar getah bening

Setelah memastikan bahwa Anda memang mengidap penyakit tidur, dokter akan memberikan pengobatan yang disesuaikan dengan gejala-gejala, usia, serta jenis dan tingkat keparahan penyakit.

Berikut adalah pilihan obat-obatan yang umumnya diresepkan untuk pasien penyakit tidur tahap pertama:

  • Pentamidine
    Obat ini biasanya diberikan untuk infeksi parasit dari lalat Tse Tse yang berjenis T. brucei gambiense. Efek samping yang ditimbulkan dari pentamidine umumnya bersifat ringan dan jarang terjadi, sehingga aman untuk dikonsumsi pasien.
  • Suramin
    Suramin adalah pilihan obat untuk penyakit tidur yang disebabkan oleh parasit Trypanosoma brucei rhodesiense. Efek samping dari obat ini meliputi gangguan saluran kencing serta reaksi alergi pada beberapa orang.

Sementara itu, obat-obatan yang diberikan untuk pasien penyakit tidur tahap kedua akan berbeda. Berikut adalah obat-obatan yang diberikan:

  • Melarsoprol
    Obat ini bisa digunakan untuk kedua jenis parasit Trypanosoma. Obat ini merupakan turunan dari arsenik dan berisiko menyebabkan efek samping yang parah. Sebanyak 3-10% pasien penerima obat melarsoprol mengalami sindrom ensefalopatik atau gangguan otak.
  • Eflornithine
    Obat ini ditujukan untuk pasien infeksi parasit T. brucei gambiense, dan tidak menimbulkan efek samping separah melarsoprol. Eflornithine dapat diberikan sebagai satu-satunya pengobatan, atau digabung dengan nifurtimox.
  • Nifurtimox-eflornithine combination therapy (NECT)
    NECT adalah terapi pengobatan yang terdiri dari gabungan eflornithine dan nifurtimox. Obat ini dapat membantu mengurangi durasi perawatan pasien di rumah sakit. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut tentang efek obat ini terhadap pasien infeksi T. brucei rhodesiense.

Cara mencegah gigitan lalat

Sayangnya, belum ada vaksinasi atau obat yang dapat mencegah infeksi Trypanosoma. Satu-satunya cara yang bisa Anda lakukan adalah menghindari gigitan lalat Tse Tse.

Lakukan langkah-langkah di bawah ini sebagai bentuk pencegahan, terutama jika Anda sedang bepergian ke benua Afrika:

  • Kenakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang berwarna netral atau senada dengan lingkungan sekitar, seperti cokelat. Lalat Tse Tse lebih tertarik dengan warna terang atau terlalu gelap.
  • Pastikan pakaian yang Anda kenakan berbahan cukup tebal karena gigitan lalat bisa menembus bahan pakaian yang tipis.
  • Cek kendaraan Anda terlebih dahulu sebelum menaikinya, terlebih jika Anda mengendarai kendaraan terbuka seperti mobil pick-up atau jip.
  • Hindari berjalan atau mendekati semak belukar di siang hari.
  • Oleskan losion antiserangga dengan kandungan permethrin.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Parasites – African Trypanosomiasis (also known as Sleeping Sickness) – CDC. (2020). Retrieved December 8, 2020, from https://www.cdc.gov/parasites/sleepingsickness/index.html 

Prevention & Control – CDC. (2020). Retrieved December 8, 2020, from https://www.cdc.gov/parasites/sleepingsickness/prevent.html 

Disease – CDC. (2020). Retrieved December 8, 2020, from https://www.cdc.gov/parasites/sleepingsickness/disease.html 

About African Trypanosomiasis – CDC. (2020). Retrieved December 8, 2020, from https://www.cdc.gov/parasites/sleepingsickness/gen_info/faqs.html 

WHO interim guidelines for the treatment of gambiense human African trypanosomiasis – WHO. (2019). Retrieved December 8, 2020, from https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/326178/9789241550567-eng.pdf?ua=1 

Trypanosomiasis, human African (sleeping sickness) – WHO. (2020). Retrieved December 8, 2020, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/trypanosomiasis-human-african-(sleeping-sickness) 

Human African trypanosomiasis (sleeping sickness) – WHO. (n.d.). Retrieved December 8, 2020, from https://www.who.int/health-topics/human-african-trypanosomiasis 

African Sleeping Sickness – University of Rochester Medical Center. (n.d.). Retrieved December 8, 2020, from https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=85&ContentID=P01417 

Tsetse Fly – Public Health Vectors and Pests. (n.d.). Retrieved December 8, 2020, from http://www.kznhealth.gov.za/environ/vector/tsetsefly.htm

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 08/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x