Beijing Adakan Tes Asam Nukleat Usai Muncul Kasus Baru COVID-19, Ini Fungsinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Setelah hampir dua bulan tidak memiliki kasus baru, pemerintah kota Beijing, Tiongkok pekan lalu melaporkan kemunculan kembali kasus COVID-19 di wilayahnya. Otoritas kesehatan setempat menanggapi ini dengan mewajibkan tes asam nukleat bagi orang-orang yang berisiko tinggi terjangkit COVID-19.

Kemunculan kasus baru COVID-19 di Beijing

wna positif covid-19 indonesia

Beijing secara resmi mengumumkan lebih dari 100 kasus baru COVID-19 pada Minggu (14/6). Ini merupakan klaster penularan pertama yang dilaporkan setelah kota tersebut memberlakukan lockdown selama hampir dua bulan.

Sumber penularan dan seberapa luas cakupannya masih diselidiki. Meski begitu, ada bukti kuat bahwa penularan berawal dari aktivitas masyarakat di pasar grosir Xinfadi. Laporan terbaru menyebutkan ada 67 kasus COVID-19 baru di pasar tersebut.

Guna mencegah gelombang kedua COVID-19, otoritas kesehatan Beijing melakukan tes asam nukleat pada lebih dari 200.000 orang yang mengunjungi pasar Xinfadi hingga 30 Mei. Pelaksanaan tes COVID-19 ini melibatkan lebih dari 79 institusi di seluruh penjuru kota.

Pada Minggu (15/6), Beijing kembali mengadakan tes asam nukleat pada 75.499 sampel dengan 59 orang dinyatakan positif. Jika ditambah dengan kasus sebelumnya, total kasus di Tiongkok kini mencapai 83.181 orang dengan 177 kasus aktif.

Saat ini, lebih dari 8.000 pedagang di pasar Xinfadi sudah diperiksa dan terus dipantau kondisinya. Sebanyak 3.852 orang yang berkontak dekat dengan pasien masih berada dalam pengawasan medis, sedangkan 392 orang sudah dinyatakan aman.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Selain mendeteksi kasus baru COVID-19, para peneliti di Beijing juga menggunakan tes asam nukleat untuk mengetahui asal virus tersebut. Coronavirus yang ditemukan di pasar Xinfadi ternyata merupakan kasus impor dari Eropa.

Pemerintah setempat kini telah menutup pasar Xinfadi dan lima pasar lain yang sejenis. Mereka juga kembali membatasi perjalanan udara setelah menemukan 17 kasus positif pada penumpang.

Mengenal tes asam nukleat untuk COVID-19

LIPI Uji Obat Herbal COVID-19 dari Daun Ketepeng dan Benalu

Beberapa gejala COVID-19 sangat mirip gangguan pernapasan umum. Di sisi lain, banyak pula pasien COVID-19 yang tidak bergejala sehingga tidak terdeteksi. Oleh sebab itu, diperlukan tes khusus yang bisa mendeteksi penyakit ini secara akurat.

Secara umum, ada dua jenis tes yang digunakan untuk mendiagnosis COVID-19. Tes pertama adalah rapid test atau tes antibodi. Metode ini tidak mendeteksi SARS-CoV-2 secara langsung, melainkan antibodi pasien COVID-19 yang dibentuk sistem imun setelah terkena virus.

Menurut American Society for Microbiology, tes antibodi dapat menunjukkan siapa yang pernah terinfeksi virus, tapi tidak memberitahu apakah virus tersebut masih ada. Tes ini juga perlu diulang karena antibodi bisa saja baru terbentuk setelah tes dilakukan.

Metode kedua untuk mendeteksi COVID-19 adalah tes asam nukleat. Tes ini dilakukan dengan melihat bahan genetik (RNA) virus pada sampel lendir hidung dan tenggorokan. Jika terdapat RNA pada sampel, berarti virus masih ada dan pasien dinyatakan positif.

droplet covid-19

Siapa yang perlu menjalani tes asam nukleat?

new normal

Menyusul banyaknya laporan kasus baru, kota Beijing memperluas cakupan tes asam nukleat hingga lebih dari 90.000 sampel setiap hari. Badan pengendalian penyakit kota tersebut kini fokus melakukan tes asam nukleat pada orang yang dinilai berisiko tinggi terjangkit COVID-19.

Berikut kriterianya:

  • Pasien COVID-19 dan semua orang yang berkontak dekat dengannya.
  • Pasien yang datang ke klinik untuk perawatan demam.
  • Pasien yang membutuhkan perawatan darurat di rumah sakit atau menderita gangguan pernapasan.
  • Orang dari luar negeri yang datang ke Tiongkok lewat Beijing.
  • Orang yang baru kembali dari Wuhan dan akan selesai dikarantina.
  • Pegawai komite pusat dan pemerintah yang tiba di Beijing setelah bepergian ke wilayah berisiko rendah.
  • Kedatangan domestik di Beijing yang menginap di hotel.
  • Murid kelas tiga SMP dan SMA, guru, serta staf sekolah yang pulang ke Beijing setelah bepergian dari wilayah atau negara lain.

Begini Prosedur Tes Swab COVID-19 yang Katanya Bikin Sakit dan Geli

Semua orang yang baru tiba di Beijing akan menjalani karantina selama 14 hari terlebih dulu. Setelah itu, barulah mereka menjalani tes asam nukleat untuk memastikan ada atau tidaknya infeksi COVID-19.

Tes asam nukleat adalah salah satu metode andalan untuk mendiagnosis COVID-19. Di Beijing ataupun wilayah lain dengan risiko penyebaran yang tinggi, tes ini amat berguna untuk mendeteksi kasus baru sehingga laju penularan dapat ditekan.

Tidak hanya Beijing, negara mana pun dapat diterpa gelombang kedua COVID-19 jika lengah dalam mencegahnya. Anda dapat berperan aktif dengan menerapkan physical distancing dan menaati protokol kesehatan.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Pemerintah Indonesia mulai melakukan vaksinasi COVID-19 tahap 2 pada kelompok lansia dan petugas layanan publik. Bagaimana pelaksanaannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kopi untuk diabetes

Potensi Manfaat Kopi pada Penderita Prediabetes dan Diabetes di Masa Pandemi COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit