home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sekolah Tidak Berpotensi Menjadi Tempat Penularan COVID-19, Bagaimana Caranya?

Sekolah Tidak Berpotensi Menjadi Tempat Penularan COVID-19, Bagaimana Caranya?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Beberapa data dari sekolah-sekolah di seluruh dunia yang telah membuka kembali aktivitas tatap muka menunjukkan bahwa sekolah tidak menjadi pusat penularan COVID-19. Jurnal ilmiah Nature menuliskan artikel yang mengatakan infeksi COVID-19 tidak melonjak ketika sekolah dan daycare dibuka kembali setelah beberapa bulan karantina. Selain itu ketika ditemukannya kasus penularan, hanya sebagian kecil yang bergejala sakit.

Apakah benar sekolah bukan titik merah penularan COVID-19? Amankah kembali melangsungkan kegiatan belajar mengajar di sekolah? Simak ulasan berikut.

Bagaimana agar sekolah tidak menjadi titik penularan COVID-19?

sekolah dibuka covid-19

Jurnal ilmiah Nature mengumpulkan data yang dikumpulkan dari laporan beberapa kota di dunia dan menyimpulkan bahwa sekolah bisa dibuka kembali dengan aman saat kasus penularan di komunitas tersebut rendah. Menurut data tersebut, di wilayah-wilayah dengan peningkatan kasus yang masih terjadi pun penularan COVID-19 di sekolah terbilang rendah. Kondisi ini terjadi ketika dilakukan tindakan pencegahan ketat untuk mengurangi penularan.

Italia telah membuka kembali aktivitas belajar mengajar di lebih dari 65.000 sekolah pada September 2020 walaupun kasus penularan kembali meningkat ketika Eropa memasuki gelombang kedua (second wave). Setelah satu bulan, pada Senin (5/10), dilaporkan ada total 1.212 sekolah yang mengalami kasus konfirmasi positif COVID-19. Dari jumlah tersebut, 93% di antaranya hanya memiliki satu kasus infeksi, dan hanya satu sekolah yang memiliki lebih dari 10 kasus penularan COVID-19.

Di negara bagian Victoria, Australia, gelombang kedua penularan COVID-19 melonjak pada Juli. Tapi kasus penularan besar yang terjadi di klaster sekolah atau tempat penitipan anak jarang terjadi. Ada total 1.635 kasus COVID-19 di sekolah, dua pertiga di antaranya hanya melaporkan satu kasus konfirmasi, dan 91% lainnya terjadi kurang dari 10 kasus penularan.

Di Inggris, kasus COVID-19 di sekolah lebih banyak terjadi penularan antar anggota staf. Dari total 30 kasus klaster di sekolah, hanya 2 kasus yang melibatkan penularan dari siswa ke siswa.

Hal serupa terjadi di Amerika Serikat. Penularan di masyarakat masih sangat tinggi ketika sekolah mulai dibuka kembali pada bulan Agustus lalu. Selain itu, proporsi penularan COVID-19 pada anak di negara ini juga terus meningkat. Meski begitu, peneliti mengatakan belum diketahui seberapa sering penularan di sekolah berkontribusi terhadap penularan di klaster lain.

Anak memiliki risiko tertular dan menularkan lebih rendah

penularan covid-19 sekolah

Para peneliti menduga salah satu alasan sekolah tidak menjadi pusat penularan adalah karena anak-anak tidak rentan tertular COVID-19 dibanding orang dewasa, terutama anak usia 12 tahun ke bawah. Ketika anak usia di bawah 12 tahun terinfeksi, mereka cenderung tidak menularkan ke orang lain.

Studi di Jerman yang melakukan pengawasan terhadap penularan COVID-19 di sekolah mengatakan, infeksi jarang terjadi pada anak-anak berusia 6-10 tahun dibandingkan pada anak-anak yang lebih tua atau orang dewasa yang bekerja di sekolah.

“Potensi penularan meningkat seiring bertambahnya usia,” kata Walter Haas, salah satu peneliti dalam studi tersebut. Menurutnya, remaja dan orang dewasa harus menjadi fokus dalam menerapkan langkah-langkah pencegahan. Pengawasan ketaatan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan selama kegiatan di sekolah harus lebih diperhatikan. Tindakan pencegahan ini terutama harus dilakukan ketika angka penularan di wilayah tersebut masih tinggi.

Belum diketahui apa yang membuat anak-anak memiliki risiko tertular dan menularkan lebih rendah dibanding orang dewasa.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Waterfield, T., Watson, C., Moore, R., Ferris, K., Tonry, C., & Watt, A. et al. (2020). Seroprevalence of SARS-CoV-2 antibodies in children – A prospective multicentre cohort study. doi: 10.1101/2020.08.31.20183095
  • Ismail, S., Saliba, V., Lopez Bernal, J., Ramsay, M., & Ladhani, S. (2020). SARS-CoV-2 infection and transmission in educational settings: cross-sectional analysis of clusters and outbreaks in England. doi: 10.1101/2020.08.21.20178574\
  • Viner RM, Mytton OT, Bonell C, et al. Susceptibility to SARS-CoV-2 Infection Among Children and Adolescents Compared With Adults: A Systematic Review and Meta-analysis. JAMA Pediatr. Published online September 25, 2020. doi:10.1001/jamapediatrics.2020.4573
  • Otte im Kampe Eveline ORCID icon, Lehfeld Ann-Sophie , Buda Silke , Buchholz Udo , Haas Walter . Surveillance of COVID-19 school outbreaks, Germany, March to August 2020. Euro Surveill. 2020;25(38):pii=2001645. https://doi.org/10.2807/1560-7917.ES.2020.25.38.2001645
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 11/11/2020
x