Sekolah Tidak Berpotensi Menjadi Tempat Penularan COVID-19, Bagaimana Caranya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Beberapa data dari sekolah-sekolah di seluruh dunia yang telah membuka kembali aktivitas tatap muka menunjukkan bahwa sekolah tidak menjadi pusat penularan COVID-19. Jurnal ilmiah Nature menuliskan artikel yang mengatakan infeksi COVID-19 tidak melonjak ketika sekolah dan daycare dibuka kembali setelah beberapa bulan karantina. Selain itu ketika ditemukannya kasus penularan, hanya sebagian kecil yang bergejala sakit. 

Apakah benar sekolah bukan titik merah penularan COVID-19? Amankah kembali melangsungkan kegiatan belajar mengajar di sekolah? Simak ulasan berikut. 

Bagaimana agar sekolah tidak menjadi titik penularan COVID-19?

sekolah dibuka covid-19

Jurnal ilmiah Nature mengumpulkan data yang dikumpulkan dari laporan beberapa kota di dunia dan menyimpulkan bahwa sekolah bisa dibuka kembali dengan aman saat kasus penularan di komunitas tersebut rendah. Menurut data tersebut, di wilayah-wilayah dengan peningkatan kasus yang masih terjadi pun penularan COVID-19 di sekolah terbilang rendah. Kondisi ini terjadi ketika dilakukan tindakan pencegahan ketat untuk mengurangi penularan.

Italia telah membuka kembali aktivitas belajar mengajar di lebih dari 65.000 sekolah pada September 2020 walaupun kasus penularan kembali meningkat ketika Eropa memasuki gelombang kedua (second wave).  Setelah satu bulan, pada Senin (5/10), dilaporkan ada total 1.212 sekolah yang mengalami kasus konfirmasi positif COVID-19. Dari jumlah tersebut, 93% di antaranya hanya memiliki satu kasus infeksi, dan hanya satu sekolah yang memiliki lebih dari 10 kasus penularan COVID-19. 

Di negara bagian Victoria, Australia, gelombang kedua penularan COVID-19 melonjak pada Juli. Tapi kasus penularan besar yang terjadi di klaster sekolah atau tempat penitipan anak jarang terjadi. Ada total 1.635 kasus COVID-19 di sekolah, dua pertiga di antaranya hanya melaporkan satu kasus konfirmasi, dan 91% lainnya terjadi kurang dari 10 kasus penularan. 

Di Inggris, kasus COVID-19 di sekolah lebih banyak terjadi penularan antar anggota staf. Dari total 30 kasus klaster di sekolah, hanya 2 kasus yang melibatkan penularan dari siswa ke siswa. 

Hal serupa terjadi di Amerika Serikat. Penularan di masyarakat masih sangat tinggi ketika sekolah mulai dibuka kembali pada bulan Agustus lalu. Selain itu, proporsi penularan COVID-19 pada anak di negara ini juga terus meningkat. Meski begitu, peneliti mengatakan belum diketahui seberapa sering penularan di sekolah berkontribusi terhadap penularan di klaster lain. 

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,314,634

Confirmed

1,121,411

Recovered

35,518

Death
Distribution Map

Anak memiliki risiko tertular dan menularkan lebih rendah

penularan covid-19 sekolah

Para peneliti menduga salah satu alasan sekolah tidak menjadi pusat penularan adalah karena anak-anak tidak rentan tertular COVID-19 dibanding orang dewasa, terutama anak usia 12 tahun ke bawah. Ketika anak usia di bawah 12 tahun terinfeksi, mereka cenderung tidak menularkan ke orang lain.

Studi di Jerman yang melakukan pengawasan terhadap penularan COVID-19 di sekolah mengatakan, infeksi jarang terjadi pada anak-anak berusia 6-10 tahun dibandingkan pada anak-anak yang lebih tua atau orang dewasa yang bekerja di sekolah. 

“Potensi penularan meningkat seiring bertambahnya usia,” kata Walter Haas, salah satu peneliti dalam studi tersebut. Menurutnya, remaja dan orang dewasa harus menjadi fokus dalam menerapkan langkah-langkah pencegahan. Pengawasan ketaatan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan selama kegiatan di sekolah harus lebih diperhatikan. Tindakan pencegahan ini terutama harus dilakukan ketika angka penularan di wilayah tersebut masih tinggi. 

Belum diketahui apa yang membuat anak-anak memiliki risiko tertular dan menularkan lebih rendah dibanding orang dewasa. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit