Bar dan Kelab Malam Kembali Dibuka, Begini Risiko Penularan COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pemerintah Indonesia sudah menginstruksikan masa transisi PSBB selama pandemi COVID-19. Mulai dari tempat ibadah hingga tempat hiburan mulai dibuka secara bertahap, termasuk bar dan kelab malam. Sebelum kembali mengunjungi bar dan kelab malam, ketahui risiko penularan COVID-19 di kedua tempat tersebut. 

Risiko penularan COVID-19 di bar dan kelab malam

makanan sebelum minum alkohol

Selain Indonesia, negara lain seperti Korea Selatan juga pernah membuka kembali tempat hiburan malam, seperti kelabb dan bar saat pandemi COVID-19. Akan tetapi, satu hari setelah aturan physical distancing dibuka, pemerintah Korea Selatan menutup sekolah hingga tempat hiburan malam.

Dilansir dari sejumlah media, angka kasus COVID-19 di Korea Selatan kembali melonjak kebanyakan berasal dari kelab malam dan bar. Maka dari itu, masyarakat perlu mempertimbangkan baik-baik apakah protokol kesehatan yang diterapkan dapat mengurangi risiko penularan di tempat itu. 

Menurut dr. Nasir Husain, direktur medis Henry Ford Macom untuk pencegahan infeksi kepada MLive, risiko penularan COVID-19 di bar cukup tinggi. Pasalnya, setelah beberapa tegukan minuman beralkohol, banyak orang yang tidak sadar atas perilakunya.

Kebanyakan orang mungkin tidak menjalankan upaya mencegah COVID-19, mulai dari menjaga jarak dari orang lain hingga mencuci tangan. Terlebih lagi, orang tidak akan menggunakan masker saat minum dan berjoget tanpa memperdulikan jarak dengan orang lain.

Kondisi tersebut yang membuat tingkat risiko penularan dan penyebaran COVID-19 di bar dan kelab malam lebih berbahaya dibandingkan restoran biasa.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Penyebaran COVID-19 lebih mudah di dalam ruangan

penularan covid-19 bar

Tingkat risiko penularan COVID-19 di bar dan kelab malam disebut cukup tinggi tentu tidak tanpa alasan. Seperti yang Anda ketahui bahwa penyebaran virus COVID-19 terjadi lewat droplet. Namun, WHO mengungkapkan bahwa droplet (cipratan air liur) pasien COVID-19 dapat bertahan di udara

Walaupun demikian, masih belum diketahui apakah kekuatan droplet yang ada di udara dapat menginfeksi orang lain. Sementara itu, berada di ruangan dengan ventilasi yang kurang baik juga dapat meningkatkan risiko penyebaran virus. 

Pernyataan tersebut pernah dilontarkan oleh para ilmuwan dalam jurnal City and Environment. Mereka berpendapat bahwa virus COVID-19 berukuran amat kecil, tetapi droplet yang dihasilkan mengandung air, garam, dan bahan organik di dalamnya.

Para ahli dari Australia ini juga mencatat ketika kadar air droplet menguap, materi ringan, seperti virus menjadi kecil dan ringan untuk tersebar di udara. Seiring dengan berjalannya waktu, ada kemungkinan konsentrasi virus akan menumpuk dan meningkatkan risiko infeksi. 

Hal ini ternyata berlaku di tempat yang memiliki tingkat udara yang stagnan, terutama ruangan yang dipenuhi dengan orang-orang, seperti bar dan kelab malam.

droplet covid-19

Faktor yang pengaruhi penularan COVID-19 di ruangan

Risiko pelonggaran psbb

Sebenarnya, apa pun kegiatan yang akan dilakukan di tengah pandemi COVID-19, terutama di masa transisi ini, risikonya akan bergantung pada sejumlah faktor.

Pertama, intensitas kontak. Apabila Anda berada di ruangan yang penuh sesak dalam waktu yang lama dan berbicara dengan orang lain dalam jarak dekat, tingkat risiko pun ikut meningkat.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) juga mengungkapkan bahwa jika seseorang berada di dekat virus dalam waktu kurang lebih 15 menit, risiko tertular virus pun lebih tinggi.

Kedua, jumlah orang yang bersama Anda. Umumnya, semakin sedikit jumlah orang yang ditemui, semakin kecil pula risiko tertular virus. Maka itu, beberapa negara menyarankan masyarakat untuk mengadakan pertemuan dalam jumlah yang terbatas.

Terakhir, mitigasi yaitu apa yang dapat dilakukan oleh Anda dan masyarakat sekitar untuk mencegah penularan virus COVID-19. Sebagai contoh, Anda dapat menggunakan masker ketika pergi ke salon di tengah pandemi dan tidak mengobrol dengan pelanggan lain. 

Jika protokol kesehatan yang telah dibuat sedemikian rupa dilanggar, kemungkinan besar risiko penularan virus pun ikut meningkat. Hal ini membuat para ahli mewanti-wanti masyarakat bahwa hanya karena semua tempat sudah mulai dibuka, bukan berarti risikonya ikut hilang.

Maka dari itu, Anda mungkin perlu mempertimbangkan kembali, apakah malam yang dihabiskan di kelab malam dan bar sepadan dengan risiko penularan COVID-19.

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Turunkan risiko penularan dengan jaga jarak dan masker

prediksi COVID-19 berakhir

Walaupun risiko penularan COVID-19 di bar dan kelab malam tinggi, para ahli mengingatkan masyarakat untuk tidak terlalu panik. Pasalnya, ketika virus COVID-19 benar-benar dapat tersebar lewat udara, jumlah kasus tentu akan jauh lebih parah dibandingkan sekarang. 

Risiko penularan COVID-19 tentu dapat turun jika Anda melakukan berbagai upaya pencegahan virus. Jika Anda khawatir terhadap penyebaran virus di dalam ruangan, membuka jendela dapat membantu membersihkan partikel virus. Selain itu, cara ini juga membuat ruangan mendapatkan pergantian udara lebih baik.

Terlepas dari COVID-19, kualitas udara juga perlu dijaga agar daya tahan tubuh tetap kuat menjalani hari-hari. Jangan lupa untuk menjaga jarak dengan orang lain dan menggunakan masker ketika berada di restoran atau tempat lainnya. 

Anda mungkin tidak dapat mengetahui dengan pasti risiko penularan COVID-19 di bar dan kelab malam. Namun, bukan berarti Anda tidak mematuhi protokol kesehatan yang dibuat untuk menjaga diri sendiri dan orang-orang yang disayangi.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Pemerintah Indonesia mulai melakukan vaksinasi COVID-19 tahap 2 pada kelompok lansia dan petugas layanan publik. Bagaimana pelaksanaannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kopi untuk diabetes

Potensi Manfaat Kopi pada Penderita Prediabetes dan Diabetes di Masa Pandemi COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit