Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bagaimana Cara Kerja Obat Anti Komplemen untuk Menangani COVID-19?

Bagaimana Cara Kerja Obat Anti Komplemen untuk Menangani COVID-19?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Hingga pertengahan bulan November, sudah ada setidaknya 4 kandidat vaksin COVID-19 yang mengumumkan hasil sementara uji coba tahap akhir dengan keefektifan di atas 90 persen. Meski begitu, vaksin bukan segalanya. Menemukan obat yang tepat untuk penanganan pasien-pasien berisiko tinggi masih terus dilakukan. Sejauh ini belum ada obat penanganan COVID-19 yang benar-benar memberikan hasil memuaskan. Salah satu yang terbaru, para ilmuwan tengah melakukan pengamatan pada obat anti komplemen untuk penanganan pasien COVID-19.

Apa itu obat anti komplemen dan kegunaannya pada pasien COVID-19?

Covid-19 obat anti komplemen

Hampir satu tahun dunia diserang pandemi COVID-19. Setidaknya sudah puluhan jenis obat diteliti dan diuji coba, tapi masih sedikit obat yang benar-benar terbukti mampu mengendalikan keparahan gejala COVID-19.

Salah satu di antaranya yang cukup banyak digunakan adalah deksametason. Obat jenis kortikosteroid ini dinyatakan terbukti mampu membantu pasien COVID-19 keluar dari kondisi kritis dengan meredam peradangan. Selain itu, terapi plasma darah pun cukup mampu mengatasi gejala buruk COVID-19.

Akan tetapi masih banyak misteri terkait pengobatan COVID-19 ini. Oleh karena itu para peneliti masih mencoba menguji golongan obat lain untuk membantu penanganan pasien COVID-19.

Di antara para peneliti itu, seorang profesor imunologi bernama Bryan Paul Morgan tengah menguji coba potensi menjanjikan dari obat anti komplemen sebagai obat penanganan COVID-19.

Apa itu komplemen?

Penelitian obat COVID-19

Komplemen adalah sistem yang terdiri dalam satu set kompleks protein yang berfungsi mengatur respons peradangan dalam plasma darah. Sistem ini merupakan bagian penting dari pertahanan normal manusia melawan infeksi dan cedera. Dalam keadaan normal, komplemen bersirkulasi di dalam darah dalam keadaan tidak aktif.

Saat ada mikroorganisme asing seperti virus masuk ke dalam tubuh, komplemen akan aktif secara berantai untuk membunuh virus, baik itu menyerang secara langsung atau dengan memberi sinyal ke sel kekebalan tubuh.

Cara komplemen menyerang virus adalah dengan melepaskan sesuatu yang disebut produk aktivasi. Aktivasi sistem ini menyebabkan peradangan lokal di organ atau tempat infeksi, misalnya kemerahan, timbul rasa nyeri, dan bengkak.

Morgan menyebut komplemen ini sebagai pedang bermata dua, yakni dapat merusak dan membunuh virus tapi juga dapat merusak dan membunuh sel tubuh.

Dalam kasus yang seharusnya, komplemen yang aktif ini akan dimatikan setelah infeksi ditangani supaya tidak merusak tubuh. Tapi dalam beberapa keadaan, reaksi berantai dari satu set protein komplemen ini bisa lepas kendali dan menyebabkan banyak peradangan. Ini banyak terjadi pada kondisi sepsis (komplikasi bahaya dari infeksi virus/bakteri) ketika virus dalam darah mengirim komplemen berlebihan.

Aktifnya komplemen sebagai pedang bermata dua yang menyebabkan peradangan besar ini tampaknya juga terjadi pada pasien COVID-19 parah. Banyak ilmuwan dan studi ilmiah yang menyatakan COVID-19 kemungkinan menjadikan komplemen sebagai salah satu target yang diserangnya.

“Ketika mengamati darah pasien COVID-19, kami menemukan ‘produk aktivasi’ yang sangat tinggi. Ini mengunci sel darah dan sel yang melapisi pembuluh darah sehingga menyebabkan kerusakan langsung pada sel,” tulis Morgan yang merupakan direktur Institut Pusat Riset Sistem Imun, Cardiff University, Inggris.

Penguncian pembuluh darah seperti ini menyebabkan penggumpalan darah dan memicu terjadinya lebih banyak peradangan. Kondisi seperti ini membuat kekebalan bereaksi berlebihan dan di luar kendali dan menyebabkan situasi yang dikenal dengan badai sitokin.

Morgan mengatakan, beberapa uji klinis pengobatan COVID-19 fokus pada penanganan badai sitokin dan penggumpalan darah tidak langsung pada komplemen.

“Karena komplemen berada di bagian hulu dari semua target ini, obat anti komplemen adalah kandidat yang penting untuk mengobati penyakit (COVID-19).”

Obat penghambat komplemen

Obat anti komplemen atau penghambat komplemen berfungsi untuk mengunci protein komplemen yang disebut C5. Dengan mengunci C5, obat anti komplemen bisa menghentikan reaksi berantai dan menghentikan aktivitas peradangan dan perusakan sel.

Beberapa laporan uji yang telah diterbitkan yang menggambarkan penggunaan obat penghambat komplemen cukup ampuh pada COVID-19 dengan gejala sedang dan berat. Akan tetapi sejauh ini semua laporan itu hanya berupa penelitian kecil, belum cukup untuk membuktikan bahwa obat anti komplemen terbukti ampuh menangani pasien COVID-19.

Namun, secara konsisten beberapa studi kecil ini memberikan bukti bahwa memblokir komplemen dapat dengan cepat mengurangi peradangan. Temuan awal ini telah mendorong pengujian obat penghambat komplemen dalam uji klinis besar pada pasien COVID-19. Obat C5 yang disebut ravulizumab merupakan salah satu yang sedang dalam beberapa percobaan.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Campbell, C. (2020). The opening salvo of anti-complement therapy against COVID-19. The Lancet Rheumatology. doi: 10.1016/s2665-9913(20)30353-2

  • Ramlall, V., Thangaraj, P.M., Meydan, C. et al. Immune complement and coagulation dysfunction in adverse outcomes of SARS-CoV-2 infection. Nat Med 26, 1609–1615 (2020). https://doi.org/10.1038/s41591-020-1021-2
  • Risitano, A.M., Mastellos, D.C., Huber-Lang, M. et al. Complement as a target in COVID-19?. Nat Rev Immunol 20, 343–344 (2020). https://doi.org/10.1038/s41577-020-0320-7
  • Mastellos, D., Pires da Silva, B., Fonseca, B., Fonseca, N., Auxiliadora-Martins, M., & Mastaglio, S. et al. (2020). Complement C3 vs C5 inhibition in severe COVID-19: Early clinical findings reveal differential biological efficacy. Clinical Immunology, 220, 108598. doi: 10.1016/j.clim.2020.108598
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 31/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x