Benarkah Coronavirus (COVID-19) Dapat Bertahan di Sepatu dan Pakaian?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah COVID-19 kini telah menyebabkan lebih dari 1.800.000 kasus di seluruh dunia dan sekitar 114.000 orang meninggal dunia. Berbagai cara telah dilakukan untuk mengurangi angka penularan, seperti physical distancing hingga imbauan untuk memakai masker saat keluar rumah.

Namun, tidak sedikit masyarakat yang bertanya, apakah coronavirus (COVID-19) dapat bertahan di pakaian dan sepatu? Simak ulasan lengkap di bawah ini untuk mengetahui jawabannya. 

Coronavirus mungkin dapat bertahan di sepatu dan pakaian, tetapi…

Mulai dari akhir Desember 2019 sampai saat ini para peneliti masih berusaha mengembangkan penelitian seputar virus yang menyebabkan COVID-19, yaitu SARS-CoV-2. Mulai dari karakteristik coronavirus, efek virus pada setiap orang, penularan dan penyebarannya, hingga apa saja kelemahan dari virus ini. 

Lebih dari satu juta kasus infeksi tersebar di hampir setiap negara di dunia dan ratusan ribu orang meninggal dunia akibat COVID-19. Jumlah kasus yang terus meningkat tentu membuat masyarakat semakin waspada dan terus melakukan upaya mencegah penularan COVID-19, seperti mencuci tangan

Namun, sejumlah pertanyaan pun muncul, seperti apakah coronavirus dapat bertahan dan menempel di pakaian dan sepatu yang dipakai saat berada di tempat umum? 

Faktanya, sampai saat ini belum ada penelitian yang benar-benar membuktikan bahwa penularan COVID-19 terjadi melalui pakaian dan sepatu. 

Menurut CDC, penyebaran virus COVID-19 terjadi melalui percikan ketika penderitanya batuk atau bersin di dekat orang yang tidak terinfeksi. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa virus jenis baru ini dapat bertahan hidup di luar tubuh manusia, di permukaan benda dan menginfeksi orang lain saat disentuh. 

Pasalnya, penyebaran virus COVID-19 Hal ini dapat terjadi tergantung pada jenis permukaan yang bisa membuat virus bertahan beberapa jam hingga beberapa hari.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

917,015

Confirmed

745,935

Recovered

26,282

Death
Distribution Map

Kemungkinan bahwa coronavirus bertahan dan menempel di pakaian dan sepatu cukup besar. Akan tetapi, keduanya bukan sumber penularan yang tinggi. 

Begini, kelembapan lingkungan yang mempengaruhi pakaian ternyata dapat menjadi faktor apakah virus bisa berkembang atau tidak. Hal ini dikarenakan sebagian besar bahan pakaian tidak mendukung kondisi tersebut. 

Maka itu, dengan langsung mandi dan mengganti baju setelah dari luar rumah sangat direkomendasikan saat wabah ini berlangsung. Selain itu, dianjurkan langsung mencuci baju untuk mengurangi risiko menempelnya virus di baju dan membawanya ke dalam rumah. 

Kapan perlu melakukan pencegahan ekstra terhadap pakaian?

Perempuan berbaju kuning batuk karena bakteri

Walaupun berapa lama tepatnya coronavirus dapat bertahan di pakaian dan sepatu belum diketahui, tidak ada salahnya melakukan upaya pencegahan ekstra. 

Terlebih lagi jika Anda sering berkontak dengan pasien COVID-19. Mencuci dan mengganti pakaian adalah bagian penting dari kebersihan untuk mengurangi penyebaran virus, terutama bagi dokter dan petugas medis. 

Menurut dr. Jimmy Tandradynata, ahli penyakit dalam melalui wawancara eksklusif dengan Hello Sehat, melakukan pencegahan ekstra sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan virus dapat bertahan lebih lama di barang-barang yang tidak berpori, seperti metal dan karet. 

Oleh karena itu, ketika ia bepergian ke rumah sakit untuk bekerja ia melakukan beberapa upaya mengurangi risiko coronavirus bertahan di pakaian dan sepatu serta benda lainnya dengan beberapa hal, seperti:

  • tidak menggunakan aksesoris, seperti cincin kawin atau jam tangan
  • membawa barang dan isi dompet seperlunya
  • melepas dan mencuci sandal dan sepatu setelah digunakan
  • mencuci kaki dan tangan sebelum masuk ke rumah 
  • mandi dan mengganti baju setelah bepergian

Dengan demikian, petugas medis bisa mengurangi tingkat risiko penularan meskipun tidak mengetahui apakah coronavirus sempat bertahan dan menempel di pakaian dan sepatu.

Bagaimana dengan masyarakat awam? Bepergian ke luar rumah untuk membeli sesuatu di minimarket dalam waktu yang sebentar sebenarnya tidak mengharuskan Anda untuk mencuci pakaian setiba di rumah. 

Akan tetapi, ketika Anda tidak dapat menjaga jarak dengan orang lain atau ada seseorang yang batuk dan bersin di sekitar Anda, cuci pakaian adalah cara yang efektif. Intinya, menjaga kebersihan dan menjaga jarak dari orang lain adalah metode yang dinilai paling efektif mencegah penularan COVID-19. 

Bagaimana dengan coronavirus yang menempel di sepatu?

infeksi jamur di kaki

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, coronavirus sangat mungkin bertahan dan menempel di pakaian dan sepatu. Sepatu dapat terkontaminasi oleh virus, terutama ketika dipakai di daerah padat penduduk atau di tempat kerja. 

Namun, tetap saja masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui berapa lama coronavirus dapat bertahan di sepatu. 

Lantas, adakah bahan sepatu tertentu yang rentan terhadap virus? Penyebaran virus COVID-19 dapat terjadi melalui percikan air ketika penderitanya batuk atau bersin.

Jika percikan tersebut menempel di sepatu yang berbahan sintetis, seperti spandex, mungkin saja virus dapat bertahan selama beberapa hari. 

Sebenarnya, ada satu bagian dari sepatu yang perlu diperhatikan, terlepas Anda menggunakan sepatu kerja atau kets, yaitu sol sepatu. Sol biasanya terbuat dari bahan tidak berpori, seperti karet dan kulit, sehingga mampu membawa bakteri dalam jumlah yang banyak.

Walaupun demikian, para ahli berpendapat, sama seperti pakaian, sepatu bukan sumber penularan coronavirus COVID-19. Anda tidak meletakkan sepatu di meja dapur atau mendekatkannya ke mulut karena menganggap sepatu sebagai benda kotor. 

Usahakan untuk tetap menjalankan langkah-langkah pencegahan tambah agar virus dan bakteri tidak masuk ke rumah. Mulai dari membersihkan sepatu hingga membukanya sebelum masuk ke rumah adalah cara yang tepat.

Apakah Kucing dan Hewan Lainnya Dapat Tertular COVID-19 dari Manusia?

Apabila Anda masih diharuskan untuk pergi ke kantor, sebaiknya pakai sepatu dan kaus kaki hanya untuk bekerja. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko menempelnya virus di sepatu hingga masuk ke dalam rumah ketika Anda membuka sepatu.

Anda pun perlu membersihkan sepatu kerja dengan kain yang sudah diberikan desinfektan agar terbebas dari bakteri dan virus. Selain itu, sebaiknya pilih sepatu yang dapat dicuci dengan mesin atau air panas dan sabun. 

Durasi berapa lama coronavirus bisa bertahan di pakaian dan sepatu memang masih belum jelas. Akan tetapi, tidak ada salahnya untuk tetap melakukan upaya pencegahan ekstra agar risiko penularan berkurang, terutama saat Anda bepergian ke luar rumah.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Mengenal GeNose, Alat Deteksi COVID-19 dari Embusan Napas

UGM mengembangkan GeNose, teknologi untuk mendeteksi COVID-19 dengan cepat melalui embusan napas. Bagaimana cara kerjanya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 28 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Keamanan Vaksin COVID-19

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit