Pentingnya Mencari Second Opinion untuk Diagnosis Dokter

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Ketika berkonsultasi dengan dokter, Anda pasti menginginkan diagnosis yang jelas, meyakinkan, dan bisa dipertanggungjawabkan, terutama untuk masalah kesehatan yang cukup serius. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan bahwa dokter yang Anda kunjungi menentukan diagnosis yang sulit dipercaya. Entah itu karena dokter tidak menyampaikan informasi dan diagnosis secara jelas, atau karena ada kekeliruan dalam membaca hasil pemeriksaan sehingga diagnosis yang diberikan kurang sesuai. Dalam kasus ini, Anda sebaiknya mencari second opinion. Second opinion dalam hal medis artinya inisiatif dari pasien untuk memperoleh pendapat lain dari dokter yang berbeda, terhadap keluhan atau penyakit yang sama, setelah mendapatkan diagnosis dari dokter pertama.

Second opinion tidak sama dengan rujukan, karena kasus rujukan biasanya terjadi saat pasien butuh pemeriksaan lanjutan dengan dokter spesialis yang ahli dalam bidang tertentu, yang tidak dikuasai oleh dokter pertama Anda. Selain itu, rujukan juga mengharuskan adanya surat pernyataan dari dokter pertama untuk dokter rujukan.

Kapan Anda membutuhkan second opinion?

Menurut dr. Jerome Groopman, disari dari situs WebMD, ada beberapa situasi di mana second opinion sangat dibutuhkan oleh pasien. Pada dasarnya, jika pasien didiagnosis dengan penyakit yang mengancam nyawa, Anda perlu mencari second opinion. Situasi lain di mana Anda perlu mempertimbangkan second opinion antara lain adalah sebagai berikut.

  • Pengobatan yang ditawarkan sangat berisiko, misalnya operasi kraniotomi (pembedahan tengkorak kepala) bagi penderita stroke.
  • Pengobatan yang ditawarkan masih sangat baru dan bersifat eksperimental.
  • Anda ingin berpartisipasi dalam sebuah uji klinis.
  • Anda didiagnosis dengan penyakit langka.
  • Penyakit yang didiagnosis sering disalahpahami, misalnya Gangguan Defisit Atensi/ Hiperaktivitas pada anak di bawah usia 6 tahun. Kadang dokter menjatuhkan diagnosis ini padahal gejalanya sangat mirip dengan sifat-sifat alami anak pada usia tersebut. Banyak juga dokter yang salah mendiagnosis sakit maag sebagai radang usus buntu.
  • Penyakit yang didiagnosis membutuhkan perawatan dan pengobatan jangka panjang, misalnya epilepsi atau tuberkulosis paru.

Perlukah memberi tahu dokter Anda kalau Anda mencari second opinion?

Anda sebaiknya memberi tahu dokter Anda jika Anda memutuskan untuk mencari pendapat lain dari dokter yang berbeda. Jangan segan dan takut menyinggung dokter Anda, karena mencari second opinion merupakan hak pasien yang tidak dapat diganggu gugat. Seperti ditulis oleh Kompas, hak ini telah diatur dalam Undang-undang nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Dengan bersikap terbuka pada dokter Anda, diskusi dan konsultasi akan jadi lebih lancar dan jelas.

Selain itu, Anda perlu menunjukkan resume medis Anda pada dokter kedua yang Anda kunjungi. Mintalah resume medis Anda dari dokter dan fasilitas kesehatan yang Anda kunjungi pertama kali. Dengan begitu, informasi atau hasil pemeriksaan yang telah Anda jalani jadi lebih mudah untuk dianalisis.

Tips mencari second opinion

Jika Anda telah memutuskan untuk mencari second opinion, bagian yang tersulit mungkin adalah memberi tahu dokter Anda. Namun, hal ini tetap penting untuk dilakukan. Cobalah untuk bertanya pada dokter Anda, siapa yang akan dia temui untuk mencari pendapat lain jika dokter Anda tersebut divonis kanker yang sama dengan Anda, misalnya. Anda juga bisa menyampaikan pada dokter Anda bahwa keluarga Anda menyarankan pemeriksaan dengan ahli lain sebelum Anda memulai perawatan yang ditawarkan. Jangan khawatir saat mendiskusikan hal ini karena mencari second opinion merupakan hal yang sangat lumrah terjadi di dunia medis.

Usahakan untuk mencari second opinion di fasilitas kesehatan atau rumah sakit yang berbeda. Hal ini tentu akan menghabiskan waktu dan biaya lagi, tapi hasil yang Anda dapat bisa jadi cukup signifikan. Biasanya dalam satu fasilitas kesehatan yang sama, dokter-dokternya memiliki pandangan dan pemahaman teori yang serupa. Sementara itu, yang Anda butuhkan ketika mencari second opinion adalah perspektif yang berbeda untuk mendukung atau membuktikan kesalahan pada diagnosis pertama Anda.

Saat Anda mencari dokter lain, pastikan bahwa dokter yang Anda temui memiliki kompetensi yang sama atau lebih baik dari dokter yang pertama kali menjatuhkan diagnosis. Anda juga bisa memilih dokter dengan spesialisasi yang berbeda untuk menegaskan diagnosis yang Anda terima, tapi sebaiknya lakukan penelitian terlebih dahulu lewat internet dan konsultasi dengan dokter pertama atau tenaga kesehatan di rumah sakit. Dengan melakukan hal ini, Anda jadi lebih paham soal seluk-beluk gejala dan penyakit yang Anda alami sehingga Anda tahu hal-hal apa saja yang harus Anda pastikan dan tanyakan ketika mencari second opinion.

Risiko mencari second opinion

Sebelum Anda mencari second opinion, Anda harus benar-benar memahami risikonya terlebih dahulu. Apabila Anda mendapatkan second opinion yang berbeda dari hasil diagnosis pertama, ada kemungkinan Anda harus mengulang lagi dari awal pengobatan yang sudah setengah jalan.

Atau jika Anda belum memulai pengobatan dan perawatan apa pun, diagnosis baru yang Anda terima bisa jadi justru membuat Anda semakin tidak yakin. Akibatnya Anda perlu ke dokter lain lagi untuk mencari third opinion atau pendapat ketiga.

Namun, jika memang dirasa perlu, tak ada salahnya mencoba mencari second opinion agar Anda jadi lebih percaya diri dan optimis dengan pengobatan yang akan Anda jalani.

BACA JUGA: 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

    Makanan tinggi garam bukan hanya membuat Anda berisiko mengalami tekanan darah tinggi. Simak berbagai bahaya makanan asin pada tubuh kita.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
    Hidup Sehat, Tips Sehat 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Informasi Lengkap Atrofi Otot, Mulai dari Gejala Hingga Pengobatan

    Setelah mengalami stroke, Anda mungkin akan menderita atrofi atau kelemahan otot wajah, lengan, atau kaki. Ketahui cara mengatasi atrofi berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Kesehatan Muskuloskeletal, Myalgia (Nyeri Otot) 18 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

    Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

    MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

    Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

    Jangan sampai berbagai efek samping imunisasi (vaksin) bikin Anda takut apalagi ragu diimunisasi. Pelajari dulu seluk-beluknya di sini, yuk.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Riska Herliafifah
    Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    pekerjaan rumah tangga saat hamil

    Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
    bikin kopi yang sehat

    6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
    daging ayam belum matang

    4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    perlukah lansia minum susu

    Apakah Lansia Masih Perlu Minum Susu? Berapa Banyak yang Dibutuhkan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit