Pengobatan dan Perawatan Hipospadia (Lubang Kencing Abnormal)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Hipospadia merupakan cacat bawaan lahir yang terjadi pada bayi laki-laki. Kondisi ini menyebabkan lubang kencing (uretra) tidak berada di ujung penis, melainkan di batang penis. Bahkan, ada pula yang berada di pertemuan antara penis dengan skrotum (buah zakar). Pengobatan apa yang harus dilakukan untuk bayi dengan hipospadia?

Pengobatan untuk hipospadia

Hipospadia terjadi akibat uretra tidak berkembang secara sempurna. Biasanya, kondisi ini terjadi bersamaan dengan kondisi lain, seperti penis melengkung (chordee) atau kulup (kulit yang menutupi penis) tidak lengkap.

Lubang kencing yang berada di tempat yang tidak seharusnya ini membuat anak kesulitan buang air kecil, baik itu posisi buang air atau aliran airnya yang tidak terarah dengan benar.

Tanpa pengobatan, hipospadia bisa membuat pria sulit memiliki keturunan karena saluran sperma juga tak sempurna. Pengobatan hipospadia sendiri sudah bisa dilakukan saat bayi berusia 6 hingga 12 bulan.

Dilansir dari laman Children’s Hospital of Pittsburgh, pengobatan untuk cacat bawaan lahir ini akan disesuaikan dengan tingkat keparahan, seperti berikut ini:

1. Perbaikan lokasi lubang kencing

Memperbaiki letak lubang kencing membutuhkan operasi. Operasi ini akan mendukung fungsi penis secara normal dan mengurangi kecacatan yang terjadi.

Sebagian besar dapat diselesaikan dengan satu kali operasi. Beberapa di antaranya perlu pengobatan lanjutan untuk memperbaiki kecacatan lain. Biasanya, proses perbaikan ini akan menggunakan bagian kulup untuk membentuk ulang lubang kencing di lokasi yang benar.

2. Meluruskan penis

Selain perbaikan lokasi lubang kencing, pasien mungkin memerlukan pengobatan tambahan, yakni meluruskan penis. Pasalnya, hampir semua pasien hipospadia mengalami penis melengkung.

Untuk meluruskannya, dokter akan membuat sayatan melingkar di sekitar kulit penis. Ketika kulit penis dipisahkan dari batang penis, pita-pita jaringan pembatas akan dilepaskan sehingga penis kembali lurus.

Selain kulit penis, pada tahap pengobatan hipospadia ini pembedahan juga bisa dilakukan pada kulit skrotum atau perineum (area penghubung antara penis dengan anus). Tindakan ini biasanya dilakukan jika proses meluruskan penis perlu dilakukan secara bertahap.

benang operasi

3. Menciptakan lipatan dan membuka lapisan

Jika penis masih tidak juga lurus, akan ada tindakan lanjutan. Proses lanjutan ini memiliki beberapa prosedur, yaitu:

  • Menciptakan lipatan di bagian atas penis untuk memperbaiki ketidakseimbangan antara sisi atas dan bawah sehingga penis tidak lagi melengkung. Proses ini akan dilakukan jika kelengkungan penis relatif ringan.
  • Membuka lapisan bagian bawah area penis yang bertugas dengan ereksi, yakni corpus cavernosum dan corpus spongiosum. Kemudian, sebuah bahan dari graf akan dimasukkan di area dermis (kulit terluar) dari kulit dinding perut. Pada beberapa kasus, pengobatan hipospadia ini membutuhkan pembedahan lempeng uretra.

Perawatan setelah menjalani pengobatan hipospadia

Umumnya, proses perbaikan lokasi lubang kencing dan pelurusan penis dapat berjalan dengan baik. Meski begitu, tetap ada risiko efek samping, seperti terbentuknya fistula, yakni celah kecil antara uretra dengan kulit sehingga menyebabkan kebocoran urin.

Untungnya, kondisi ini akan membaik dengan sendirinya. Selama 6 bulan, fistula yang terbentuk akan kembali tertutup. Selain itu, kemungkinan kesulitan ereksi dan orgasme juga mungkin terjadi akibat operasi pengobatan hipospadia.

Setelah menjalani operasi, pasien diharuskan beristirahat di rumah sakit selama beberapa hari. Kemungkinan besar pasien akan mengalami muntah, mual, atau nafsu makan yang menurun. Area penis juga akan membengkak, tapi umumnya akan membaik dalam beberapa minggu, biasanya 6 minggu.

Untuk membantu buang air, pasien memerlukan kateter urine selama 15-14 hari setelah operasi. Pada bayi, kateter akan dialirkan ke popok. Sementara, pada anak yang lebih dewasa atau orang dewasa, kateter akan disalurkan pada kantong penampung urin.

Selama beberapa hari, urin yang dikeluarkan pasien akan mengeluarkan bercak darah. Namun, Anda tidak perlu cemas, ini merupakan hal yang normal.

Perawatan lainnya yang mendukung pengobatan hipospadia adalah pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi. Dokter mungkin juga memberikan obat lain untuk menghentikan otot-otot di sekitar kandung kemih yang mengejang serta obat pereda rasa nyeri.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan