Mengenal Gangguan Hipoventilasi: Saat Napas Terasa Pendek Atau Lambat

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Bernapas merupakan suatu proses atau kegiatan yang vital untuk bertahan hidup karena oksigen diperlukan oleh setiap sel tubuh. Itulah sebabnya, saat kekurangan oksigen, proses metabolisme dan berbagai proses fisiologis organ dapat terganggu. Akibatnya, hal ini dapat memicu kerusakan perlahan pada organ kardiovaskuler, terutama jantung. Kekurangan oksigen yang dihirup dapat terjadi jika seseorang mengalami gangguan hipoventilasi.

Apa itu hipoventilasi?

Hipoventilasi didefinisikan sebagai gangguan ketika seseorang bernapas terlalu pendek atau terlalu lambat sehingga pemenuhan oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh terjadi sangat lambat. Gangguan ini dapat muncul bersamaan dengan penyakit pada sistem saluran pernapasan yang menyebabkan seseorang memperoleh oksigen yang terlalu sedikit dan juga disertai kondisi hiperkapnia atau peningkatan kadar karbon dioksida dalam sistem pernapasan.

Gangguan hipoventilasi dapat bersifat akut maupun kronis bergantung kondisi atau gangguan apa yang menyebabkannya. Kondisi hipoventilasi dapat dialami siapa saja yang memiliki faktor risiko. Gangguan ini dapat terjadi pada individu usia muda maupun usia lanjut.

Rentang umur paling umum untuk mengalami hipoventilasi adalah sekitar 20-50 tahun. Individu laki-laki lebih mungkin mengalami hipoventilasi karena gangguan yang menyebabkan hipoventilasi lebih banyak ditemukan pada laki-laki.

Jenis gangguan hipoventilasi berdasarkan penyebabnya

Secara spesifik, terdapat lima kemungkinan penyebab seseorang mengalami hipoventilasi, diantaranya:

  • Central alveolar hypoventilation – atau hipoventilasi alveolar pusat merupakan jenis hipoventilasi yang disebabkan oleh gangguan sistem saraf pusat, baik karena penyakit, faktor genetik, pengaruh obat terhadap saraf pusat, trauma kecelakaan, ataupun adanya neoplasma. Jenis hipoventilasi ini ditandai dengan otak tidak memberikan sinyal kepada otot saluran pernapasan untuk bernapas lebih dalam dan lebih cepat meskipun kadar oksigen sudah tidak mencukupi.
  • Sindroma hipoventilasi obesitas – kondisi berat badan berlebih atau obesitas diketahui sebagai faktor penyebab hipoventilasi karena dapat mengganggu sistem pernapasan pusat yang menyebabkan hiperkapnia dan gangguan tidur obstruktif sleep apnea.
  • Hipoventilasi akibat gangguan neuromuskular – terjadi karena adanya gangguan koordinasi sistem saraf dengan otot saluran pernapasan yang menyebabkan otot saluran bernapasan bekerja secara abnormal dan menghambat proses pertukaran oksigen. Jenis hipoventilasi ini dapat dialami oleh penderita gagguan neuromuskular seperti myasthenia gravis, amyotrophic lateral sclerosis, sindroma Guillain-Barré, dan distrofi otot.
  • Hipoventilasi akibat deformitas sekitar dada – kondisi hipoventilasi yang disebabkan berbagai gangguan deformitas seperti kyphoscoliosis (deformitas tulang belakang), fibrothorax (kelainan jaringan fibrosa sekitar paru) dan efek samping akibat operasi.
  • Penyakit obstruksi paru kronis (PPOK) – hipoventilasi merupakan gangguan yang umum pada penderita PPOK, namun hal ini juga dipengaruhi oleh faktor lainnya pada penderita seperti kemampuan bernapas, genetik, dan kondisi otot saluran pernapasan.

Hal yang dapat terjadi jika seseorang mengalami hipoventilasi

Gejala hipoventilasi dapat bervariasi bergantung faktor atau penyakit yang mempengaruhinya. Pada hipoventilasi yang disebabkan gangguan saraf pusat dan obesitas, gejala dari kekurangan oksigen dapat bertambah parah ketika penderita tertidur namun cenderung normal ketika terjaga pada waktu siang hari. Beberapa gejala yang khas dari hipoventilasi adalah sebagai berikut:

  • Rasa lelah
  • Sering mengantuk
  • Sakit kepala pada pagi hari
  • Pembengkakkan pada kaki, khususnya area tumit
  • Tidak merasa bertenaga setelah bangun dari tidur
  • Sering terbangun saat tidur malam
  • Perubahan warna kulit menjadi kebiruan akibat hipoksia
  • Perubahan warna kulit menjadi kemerahan pada penderita obesitas

Hipoventilasi juga dapat menyebabkan komplikasi, berupa:

  • Penurunan kemampuan kognitif
  • Depresi dan gangguan emosi
  • Hipertensi
  • Gagal jantung bagian kanan (cor pulmonale)

Pencegahan dan penanggulangan

Hipoventilasi yang berkaitan dengan gangguan atau penyakit tertentu dapat dicegah dengan menghilangkan faktor risiko seperti obesitas dan gangguan paru. Namun, pada hipoventasi yang berkaitan dengan gangguan koordinasi sistem saraf pusat dan otot saluran pernapasan tidak terdapat pencegahan yang spesifik, terutama jika gangguan salah satu diantara keduanya bersifat genetik. Meskipun demikian, jika gangguan hipoventilasi cenderung muncul saat tertidur maka hal tersebut dapat diminimalisir dengan menghindari penggunaan obat yang membuat Anda mengantuk.

Penanganan hipoventilasi dapat bervariasi bergantung dengan kondisi yang menyebabkannya. Untuk mensitimulasi kerja sistem saluran pernapasan, jenis obat tertentu mungkin dapat digunakan tetapi tidak selalu dapat bekerja. Jenis penanggulangan lebih banyak berperan sebagai membantu bernapas seperti:

  • Ventilasi mekanik seperti alat bantu bernapas berupa masker yang membantu bernapas melalui mulut dan hidung.
  • Terapi oksigen
  • Pembuatan lubang disekitar leher untuk bernapas (trakeostomi) pada kasus hipoventilasi yang serius.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca