Berbagai Makanan yang Bisa Mengganggu Kerja Obat Dalam Tubuh

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 April 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Apakah Anda sedang mengonsumsi obat-obatan saat ini? Jika iya, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan demi menunjang keberhasilan efek dari obat-obatan yang Anda konsumsi. Selain memperhatikan anjuran dokter mengenai jadwal minum obat, yang harus Anda ketahui lainnya adalah tentang interaksi obat dengan makanan yang Anda konsumsi di waktu bersamaan.

Banyak hal yang bisa dibahas jika berbicara soal interaksi obat dengan zat gizi. Hubungan interaksi tersebut dapat terbentuk dua arah, yaitu obat-obatan yang Anda konsumsi mempengaruhi penyerapan zat gizi, dan sebaliknya, zat gizi yang Anda dapatkan dari makanan bisa saja menghambat atau mempercepat kerja obat, bahkan menimbulkan efek samping akibat berinteraksi dengan obat-obatan.

Sama seperti makanan, obat-obatan juga sebagian besar dikonsumsi melalui mulut, harus dicerna melalui sistem pencernaan serta diserap pada usus halus. Oleh karena itu, makanan dan obat sering kali menimbulkan interaksi yang menimbulkan dampak pada penyerapan obat maupun makanan.

Makanan yang paling sering menimbulkan interaksi dengan obat

Grapefruit, atau jeruk bali merah, adalah salah satu makanan yang cukup banyak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kerja suatu obat. Jenis buat tersebut dapat meningkatkan efektifitas kerja dari beberapa macam obat dan menurunkan penyerapan obat-obatan lainnya, seperti obat untuk menurunkan kadar kolesterol. Oleh karena itu jika Anda mempunyai kolesterol yang tinggi dan kemudian mengonsumsi obat-obatannya, lebih baik Anda tidak makan buah grapefruit terlebih dahulu karena mempengaruhi kerja obat tersebut.

Grapefruit juga dapat menyebabkan metabolisme dari obat-obatan terganggu, sehingga dapat menurunkan atau meningkatkan kadar obat-obatan dalam darah. Banyak obat yang berinteraksi dengangrapefruit dan menyebabkan hal tersebut terjadi, seperti pada obat antihistamin, obat tekanan darah tinggi, obat untuk penyakit tiroid, pil KB, obat maag, serta obat flu dan batuk. Maka dari itu, sebaiknya menghindarigrapefruit dulu jika sedang mengonsumsi obat-obatan.

Hal ini terjadi karena grapefruit mengandung zat yang disebut dengan furanocoumarins yang bekerja untuk menghalangi kerja obat-obatan tersebut. Sehingga, interaksi yang kurang baik terjadi di antara anggur dengan obat-obatan yang telah disebutkan sebelumnya.

BACA JUGA: Jangan Membuang Obat Kedaluwarsa Sembarangan! Ini Cara yang Benar

Berbagai interaksi obat dengan makanan yang mungkin terjadi

1. Warfarin, obat pengencer darah

Sayuran berdaun hijau seperti bayam, sawi, brokoli atau kangkung ternyata dapat mempengaruhi penyerapan obat pengencer darah atau warfarin dan coumadin. Cara kerja obat-obatan pengencer darah adalah dengan cara menurunkan jumlah vitamin K di dalam tubuh yang berfungsi sebagai faktor pembekuan darah. Namun, sayuran yang berdaun hijau merupakan salah satu sumber utama vitamin K, sehingga jika Anda terlalu banyak mengonsumsi sayur berdaun hijau, maka akan meningkatkan vitamin K dan menghambat obat-obatan untuk mengencerkan darah.

Walaupun begitu, jangan khawatir karena kondisi ini hanya akan terjadi jika waktu konsumsinya berdekatan dan terlalu banyak sayuran berdaun hijau yang dikonsumsi.

BACA JUGA: 5 Obat Nyeri Alami yang Bebas Bahan Kimia

2. Antidepresan

Obat untuk mengatasi depresi ini bekerja dengan cara membuat normal kembali zat neurotransmitter yang terganggu ketika mengalami tekanan yang besar. Zat neurotransmitter tersebut adalah monoamine oxiase inhibitor (MAOIs) yang bekerja sebagai pengantar sinyal antara sel saraf dan mengatur mood seseorang.

Obat jenis antidepresan diketahui memiliki interaksi dengan makanan yang mengandung tyramine, yaitu minuman grapefruit, yogurt, pisang serta beberapa jenis makanan olahan. Jika interaksi terjadi antara antidepresan dengan obat-obatan yang telah disebutkan tersebut maka akan berisiko menimbulkan tekanan darah tinggi.

BACA JUGA: Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

3. Obat antibiotik

Antibiotik adalah obat yang paling sering dan banyak dikonsumsi oleh sebagian besar orang. Dan dengan cara pemberian yang bermacam-macam, yaitu dengan suntikan atau melalui pil/kapsul yang langsung bisa diminum. Tetapi perlu diperhatikan bahwa ternyata makanan yang mengandung zat besi, kalsium, dan magnesium yang tinggi dapat menghambat kerja dari obat antibiotik.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa susu dapat menurunkan kerja antibiotik dalam tubuh, contohnya antibiotik jenis ciprofloxacin dan tetracycline. Tetracycline bisa dikonsumsi satu jam sebelum atau dua jam setelah makan, dan tidak boleh diiringi dengan minum susu. Zat besi dan kalsium yang terkandung di dalam susu bisa berikatan dengan obat antibiotik yang membuat penyerapan obat tersebut terhambat.

BACA JUGA: 5 Fakta Seputar Antibiotik yang Perlu Anda Tahu

4. Obat analgesik

Obat jenis ini adalah obat penghilang rasa sakit, sehingga sering kali digunakan untuk menghilangkan berbagai nyeri dan demam. Salah satu contoh penghilang rasa sakit yang paling sering digunakan adalah acetaminophen. Dalam beberapa riset disebutkan bahwa acetaminophen harus dikonsumsi sebelum makan karena makanan yang ada di dalam perut dapat menghambat efektifitas kerja obat ini. Namun untuk obat jenis lain seperti ibuprofen, naproxen, ketoprofen, dan obat penghilang rasa sakit lainnya harus dikonsumsi setelah makan, karena dapat menyebabkan iritasi pada dinding lambung.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Anda Punya Alergi pada Obat? Kenali Ciri-Ciri dan Cara Mencegahnya

    Alergi obat adalah reaksi abnormal tubuh terhadap efek obat. Cari tahu gejala, penyebab, dan perbedaannya dengan efek samping obat.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 11 menit

    Alergi Softlens: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

    Pakai lensa kontak kadang membuat mata merah dan berair, terlebih bagi yang punya alergi. Cari tahu lebih jauh tentang alergi softlens di sini!

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Alergi, Alergi Hidung dan Mata 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit

    Meski “Wangi”, Hobi Menghirup Aroma Spidol Bisa Membahayakan Kesehatan

    Aroma menyengat spidol mungkin menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Padahal, kebiasaan mencium spidol menyimpan segudang bahaya untuk tubuh.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Tips Sehat 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Multivitamin Gummy untuk Dewasa, Benarkah Lebih Sehat?

    Multivitamin anak biasanya dikemas menarik dan rasanya enak seperti permen. Nah, ada juga multivitamin gummy khusus orang dewasa. Tapi benarkah lebih sehat?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 18 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    efek samping paracetamol ibuprofen

    Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit
    alergi paracetamol

    Alergi Paracetamol

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit
    alergi obat antibiotik

    Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit
    perawatan dalam mengatasi alergi obat

    Cara Mengatasi Alergi Obat yang Tepat dan Perawatannya

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit