Bakteri Baik Bisa Jadi Kunci Utama Mencegah Infeksi Bakteri Listeria

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Pernah mendengar berita yang hangat diperbincangkan mengenai buah apel impor yang mengandung bakteri listeria? Ya, bakteri listeria atau Listeria monocytogenes merupakan sejenis bakteri yang patut diwaspadai. Pasalnya, bakteri ini dapat menyebabkan infeksi listeria (listeriosis) yang mudah menyerang orang dengan daya tahan tubuh lemah seperti ibu hamil, bayi, lansia, dan pasien kanker.

Sebuah studi menemukan bahwa bakteri yang terdapat di usus Anda memegang kunci penting untuk mencegah infeksi listeria. Bagaimana caranya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Apa itu infeksi listeria atau listeriosis?

Infeksi listeria atau listeriosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes. Saat terkena infeksi listeria, Anda mungkin mengalami sakit kepala, demam, diare, nyeri otot, dan lemas. Infeksi ini bisa muncul akibat konsumsi makanan yang mudah dan sudah terkontaminasi oleh bakteri misalnya keju lunak, daging mentah, dan susu.

Bagi kebanyakan orang dewasa, bakteri listeria yang masuk ke dalam tubuh dapat dihalau oleh sistem kekebalan tubuh. Namun, pada beberapa kelompok seperti bayi, wanita hamil, pasien kanker, dan orang-orang dengan daya tahan tubuh lemah sangat rentan terhadap infeksi listeria. Pasalnya, sekali bakteri listeria ini lolos dari saluran pencernaan dan menyebar ke seluruh tubuh, maka ini dapat menyebabkan septikemia (keracunan darah), meningitis, hingga berujung kematian.

Bakteri probiotik mengurangi kemampuan Listeria monocytogenes berkoloni

Sebuah penelitian dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center di New York menemukan empat spesies bakteri usus yang dapat mengurangi pertumbuhan bakteri Listeria monocytogenes. Keempat spesies tersebut adalah Clostridium saccharogumia, C. ramosum, C. hathewayi, dan B. producta yang keseluruhan tergolong dalam famili Clostridiales. Bakteri-bakteri ini merupakan bakteri baik (probiotik) yang ada secara alami di usus Anda.

Penelitian tersebut diawali dengan pengujian bakteri probiotik di laboratorium untuk menemukan bagaimana bakteri ini mampu mengurangi pertumbuhan Listeria monocytogenes. Selanjutnya, bakteri probiotik dipindahkan ke dalam tikus bebas kuman (tanpa mikroorganisme apapun di dalamnya) dan kemudian dimasukkan bakteri Listeria monocytogenes. Mereka menemukan bahwa bakteri probiotik tadi memiliki kemampuan untuk mengeluarkan racun antibakteri yang dapat memecah kolonisasi Listeria monocytogenes. Hal inilah yang menunjukkan bahwa tikus terhindar dari risiko infeksi listeria. 

Hasil penemuan ini dapat dikaitkan dengan penyebab tingginya risiko infeksi listeria pada ibu hamil, bayi, atau orang dengan daya tahan tubuh yang rendah terhadap jumlah bakteri baik di usus. Pada wanita hamil di trimester ketiga–yaitu pada fase kerentanan tertinggi terhadap bakteri listeria–menunjukkan adanya penurunan bakteri spesies Clostridiales sehingga menjadi sangat rentan terhadap infeksi listeria.

Sementara itu, dilansir dari Science Daily, pasien kanker memiliki seribu kali kemungkinan lebih tinggi untuk terkena infeksi listeria. Hal ini disebabkan oleh efek obat kemoterapi yang dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh pasien. Namun, periset memperkirakan bakteri alami yang tumbuh di saluran pencernaan dapat membantu mengurangi infeksi yang disebabkan oleh Listeria monocytogenes.

pola diet berdasarkan bakteri di usus

Pemberian antibiotik dapat membuat lebih rentan terkena infeksi listeria

Kehadiran bakteri baik di usus dilaporkan dapat memberikan kontribusi dalam pencegahan infeksi listeria. Namun, bakteri penolong ini dapat berkurang jumlahnya karena konsumsi antibiotik. Bagaimana bisa?

Teori ini diperkuat dengan hasil penelitian yang membedakan reaksi probiotik pada tikus yang diberikan antibiotik, tikus yang diberikan obat kemoterapi, dan dibandingkan dengan tikus yang tidak diberikan apa pun. Setelah ketiga tikus tadi dimasukkan bakteri listeria, peneliti menemukan bahwa tikus yang diberikan antibiotik lebih rentan terhadap infeksi listeria dibandingkan dengan tikus lainnya.

Hal ini diduga karena obat antibiotik dapat mengurangi jumlah bakteri baik serta dapat mendorong kemampuan bakteri listeria untuk mengganggu saluran pencernaan dan mencapai sistem peredaran darah. Gangguan ini terjadi secara terus menerus hingga tikus mati. Sementara itu, tikus yang diberikan obat kemoterapi juga mengalami peningkatan kerentanan terhadap infeksi listeria dan diperparah saat diberikan obat antibiotik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

Anda sering melihat bullying tapi tidak tahu harus berbuat apa? Anda ingin menolong korban tapi takut? Cari tahu di sini apa yang harus Anda lakukan!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Psikologi 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Kencing dengan posisi berdiri kerap dilakukan pria, tapi mereka yang mengidap gangguan saluran kemih justru dilarang. Apa alasannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Urologi, Kandung Kemih 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat psoriasis alami

Sederet Bahan Herbal yang Berpotensi Sebagai Obat untuk Psoriasis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 9 menit
obat cacing kremi

Obat Paling Ampuh untuk Menghilangkan Cacing Kremi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 5 menit
ensefalopati uremikum

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hubungan suami istri terasa hambar

3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit