6 Cara Detoks Sosmed Paling Ampuh Kalau Sudah Ketagihan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 02/09/2019 . 5 mins read
Bagikan sekarang

Rasanya hampir setiap dari kita punya satu akun sosial media, bahkan mungkin lebih. Anda termasuk orang yang tidak bisa absen scrolling linimasa sosmed setiap hari? Hati-hati. Meski tujuan awalnya memang untuk update info terbaru, melihat deretan postingan di layar ponsel Anda lama-lama bisa menggerogoti batin. Nah, ini mungkin saatnya buat Anda memulai detoks sosmed. Bagaimana caranya?

Berbagai cara detoks sosmed paling ampuh

Berbagai penelitian telah melaporkan bahwa penggunaan sosmed dalam jangka panjang dapat mengubah pola pikir dan merugikan mental.

Ya! Di balik semua keindahan foto dan keseruan cerita orang di dunia maya, penggunaan media sosial dalam jangka panjang dapat berdampak negatif bagi kesehatan mental.

Di antaranya adalah peningkatan risiko depresi, insomnia, citra diri (body image) yang buruk, penurunan kepercayaan diri, gangguan kecemasan dan gangguan makan, hingga perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm).

Semua risiko ini diduga kuat muncul sebagai wujud nyata dari kecenderungan alam bawah sadar kita yang jadi suka membandingkan diri dengan kehidupan orang lain sehingga tidak menikmati hidup. Teori ini pernah dijelaskan dalam studi berjudul Online Social Networking and Mental Health yang dimuat dalam jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking.

Berikut tips detoks sosmed yang bisa Anda coba untuk mulai mengurangi “candu dunia maya”:

1. Jauhkan handphone dari jangkauan

Memulai detoks sosmed memang tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi jika Anda memiliki banyak waktu luang.

Namun begitu ada kesempatan, segera jauhkan ponsel atau gawai elektronik lainnya dari jangkauan Anda. Terutama jika Anda sedang tidak punya banyak aktivitas. Segeralah “isi” tangan kosong Anda dengan kegiatan lain agar tidak melulu kepikiran meraih handphone.

Jauhkan juga ponsel dari jangkauan tangan Anda dan ubah ke mode sunyi atau getar ketika sedang bekerja. Ini memudahkan Anda lebih fokus menyelesaikan tugas dengan lebih efisien.

Begitu pun saat sedang berkumpul bersama keluarga atau kerabat dekat. Jika memungkinkan, ajak mereka juga untuk berkomitmen meletakkan hape jauh dari jangkauan agar lebih fokus bersosialisasi dan menghabiskan waktu berharga bersama-sama.

2. Buat alarm untuk batasi waktu akses sosmed

Cara paling efisien untuk detoks sosmed adalah dengan membatasi waktu mengaksesnya. Batasan wajar menggunakan media sosial menurut psikolog adalah 30 menit hingga satu jam per hari.

Anda bisa membagi total 1 jam tersebut dalam beberapa “sesi” untuk seharian. Misalnya, 15 menit di pagi hari, 15 menit saat makan siang, 15 menit saat perjalanan pulang di angkutan umum, dan 15 menit saat makan malam.

Agar tidak kebablasan,ingatkan diri sendiri untuk logout dari akun-akun sosmed Anda dengan pasang alarm. Ada banyak juga aplikasi yang bisa membantu mengingatkan Anda ketika sudah mencapai batas waktu yang ditetapkan.

Sebaiknya hindari mengakses media sosial saat menjelang tidur, karena bisa mengganggu kuantitas dan kualitas tidur.

3. Matikan notifikasi media sosial

Matikan notifikasi semua media sosial Anda agar tidak sebentar-sebentar tergoda cek hape untuk melihat update terbaru. Kecuali memang akun tersebut digunakan untuk kebutuhan bekerja.

Bila perlu, atur aplikasi apa saja yang dipasang di tampilan depan handphone. Usahakan pasang yang hanya diperlukan saja.

4. Buat area “Bebas Handphone”

Meski terdengar konyol, tidak ada salahnya untuk mencoba cara ini. Anda bisa tentukan sendiri area mana saja di rumah yang tidak diperbolehkan membawa apalagi bermain gawai. Misalnya, di ruang TV atau ruang makan agar fokus berkumpul bersama keluarga.

5. Buat jadwal “Hari Tanpa Media Sosial”

Tentukan satu hari dalam seminggu untuk momen “sehari tanpa media sosial”. Misalnya hari Minggu, sehingga Anda bisa menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama teman atau keluarga, juga melakukan hobi yang disukai.

6. Hapus aplikasi media sosial

Salah satu cara ekstrem yang bisa dilakukan untuk detoks sosmed adalah dengan menghapus aplikasinya. Cara terakhir ini mau tidak mau menjadi solusi terakhir jika Anda masih saja “bandel” membuka media sosial setelah melakukan berbagai tips di atas.

Tidak perlu semuanya dihapus. Pilih satu atau dua aplikasi sosmed yang paling bikin “nagih” dan membuat Anda menghabiskan banyak waktu di sana.

Kalau belum siap total, Anda bisa menghapusnya selama beberapa hari sekali untuk merasakan manfaatnya. Unduh ulang jika ingin memakainya, dan hapus lagi beberapa hari setelahnya.

Perpanjang waktu “hiatus”nya dari waktu ke waktu jika sudah mulai terbiasa, dan terakhir hapuslah total aplikasi tersebut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 mins read

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . 5 mins read

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . 5 mins read

Crab Mentality, Sindrom Psikologis yang Menghambat Orang Lain untuk Sukses

Crab mentality adalah sindrom yang menginginkan orang lain tidak mencapai kesuksesan yang lebih besar dari diri sendiri. Ini penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Psikologi 13/05/2020 . 6 mins read

Direkomendasikan untuk Anda

PTSD pandemi COVID-19

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 4 mins read
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 4 mins read
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 5 mins read
hipnoterapi

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18/06/2020 . 5 mins read