Apa Penyebab Testis Tidak Turun? Apakah Kondisi Ini Berbahaya?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Testis tidak turun (kriptorkismus) atau undescended testicle adalah kondisi testis yang belum pindah ke posisi yang tepat dalam kantong kulit yang tergantung di bawah penis atau skrotum. Biasanya hanya satu testis yang terkena, tetapi sekitar 10% dari kasus yang terjadi, kedua testis tidak turun. Apa penyebabnya dan apakah berbahaya?

Apakah bahaya jika testis tidak turun?

Testis yang tidak turun cukup umum terjadi pada bayi laki-laki yang lahir prematur atau lahir dengan kondisi tubuh sangat kecil. Dokter tidak benar-benar tahu apa yang menyebabkannya. Kondisi ini umumnya terjadi karena faktor turunan.

Tahukah Anda testis tidak turun sangat erat berkaitan dengan kesuburan? Hal ini karena testis merupakan kelenjar berbentuk telur yang menghasilkan spermatozoa. Testis tumbuh dan membesar di dalam perut, dekat ginjal.

Normalnya, sesaat sebelum bayi lahir, testis akan turun ke skrotum atau kantung buah zakar. Mengapa testis harus turun ke dalam kantung buah zakar dan apa akibatnya jika tidak turun?

1. Gangguan kesuburan

Testis yang tidak turun akan mengakibatkan gangguan kesuburan. Penelitian menunjukkan, jika hanya satu testis yang tidak turun, maka tingkat kesuburan seseorang akan menjadi 80 persen. Kalau dua-duanya tidak turun, maka tingkat kesuburannya hanya 50 persen. Mengapa? Karena suhu di dalam perut lebih tinggi dari suhu di kantong kemaluan, maka pembentukan sperma akan terganggu.

2. Bisa menyebabkan tumor

Bila testis tidak turun, ia berisiko akan berkembang menjadi sel ganas atau tumor testis. Karena normalnya testis harus turun di dalam kantung buah zakar, jika testis tumbuh di tempat lain akan bisa berkembang menjadi sel ganas.

Selain itu, meski hanya satu testis yang tidak turun, keadaan ini bisa mempengaruhi testis normal yang berada di skrotum. Misalnya, salah satu testis tumbuh dalam perut dan tidak turun ke skrotum, sementara yang satunya normal dan turun ke kantung buah zakar. Testis yang tumbuh di dalam perut bisa berkembang menjadi sel ganas dan mempengaruhi testis satunya yang turun normal ke skrotum.

Akibatnya, testis yang normal akan ikut menjadi rusak dan bisa juga terkena risiko kanker.

Pengaruh pada anak jika testis tidak turun

Bahayanya jika testis tetap berada di dalam perut sampai berusia 12 tahun, maka anak akan tidak bisa memproduksi sperma seterusnya (mandul). Akibat lain, dampak psikososial yang bisa dialami anak. Anak yang testisnya tidak turun bisa menjadi minder. Jika anak sudah besar dan mengerti fungsi testis, anak akan bertanya-tanya, mengapa ia tidak punya testis.

Dengan adanya risiko-risiko semacam itu, orang tua memang harus waspada dan sedini mungkin mengetahui apakah si kecil mengalami kelainan ini atau tidak. Apalagi, penelitian menunjukkan sekitar 3 persen bayi yang lahir normal akan mengalami testis tidak turun. Pada bayi prematur, kemungkinannya lebih tinggi, bisa 20 sampai 30 persen. Misalnya, bayi yang lahir prematur pada usia 7 bulan, di usia kehamilan 7 bulan memang belum waktunya testis turun, sehingga wajar kalau persentasinya lebih tinggi.

Penyebab testis tidak turun

Lantas, apa yang menjadi penyebab testis tidak turun? Hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, sampai saat ini diduga ada dua penyebab utama, yakni karena kekurangan hormon dan ada semacam fiber atau serat yang menghambat turunnya testis. Testis yang seharusnya mulai turun ke kantung buah zakar pada saat janin berusia 7 bulan, bila ternyata tidak turun setelah bayi lahir, maka masih bisa ditunggu sampai bayi berusia 9 bulan. Sebagian besar, sekitar 75 persen bayi cukup bulan dan 90 persen bayi kurang bulan dengan kriptorkismus akan sembuh sendiri.

Secara fisiologis, testis masih bisa turun dengan sendirinya sampai bayi berusia 9 bulan. Biasanya akan diobservasi saat anak berusia 3 bulan, 6 bulan, dan 9 bulan, apakah testisnya sudah turun. Kalau sampai berusia 9 bulan testis tidak turun, biasanya tidak akan turun lagi dan harus diobati.

Ciri-ciri testis tidak turun

Gejalanya sendiri memang tidak mudah dideteksi. Anak tidak merasa sakit dan tidak ada keluhan apa-apa. Jadi, memang susah untuk mendeteksinya. Apalagi mengharapkan anak yang melaporkan ada ‘sesuatu’.

Karenanya, biasanya setelah bayi laki-laki lahir, dokter harus memastikan apakah testisnya sudah turun. Ini harus dipastikan dan harus memberi tahu orang tua anak.

Kalau ternyata testis belum turun, dokter juga sebaiknya memberi tahu bahwa masih mungkin turun sampai anak berusia 9 bulan. Orang tua pun bisa mencurigai keadaan testis anaknya, apakah sudah atau belum turun.

Dikatakan belum turun jika skrotumnya tampak rata. Harusnya ada seperti tonjolan, meski testis anak belum turun seperti pada orang dewasa. Jika memang kecil atau rata, sebaiknya curiga jangan-jangan testis tidak turun.

Baca Juga:

Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca